Home / Pemuda / Cerpen / Sepotong Episode di Taman Hati

Sepotong Episode di Taman Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com Tak seharusnya aku selalu memikirkan dia. “Lihatlah! Telah berapa banyak kamu luangkan waktu untuk mendengarkan cerita-ceritanya yang tak penting? Telah berapa banyak kebaikan yang kamu telan darinya. Tapi ternyata kebaikan yang sama darinya pun diterima oleh orang lain, bahkan sahabatmu sendiri?”

“Ya, dia memang baik kepada siapa pun!”
“Dan telah berapa banyak gadis yang menyalahartikan kebaikannya? Sama sepertimu!” Kalila terus mencercaku dengan segudang argumennya tentang dia. Aku mengerti, mungkin dia telah bosan melihatku terus terombang-ambing oleh sikap laki-laki itu. Terkadang kegirangan, dan sesaat kemudian menangis.

“Vika, apa yang membuatmu tergila-gila pada laki-laki itu?” tanyanya tenang.
“Dia laki-laki yang sederhana,” jawabku singkat namun penuh makna.
“Hanya karena itu?”
“Ya, karena cintaku pun sederhana.” Aku terus saja membelanya, meskipun aku sadar, betapa kelembutannya telah melukiskan beberapa luka kecil di kanvas hatiku.

Siapa dia hingga membuatku menjadi rapuh seperti ini? Dia… dia sang pengejar mimpi. Dia tak pernah takut terhadap apapun. Dia… selalu semangat dan menyemangati. Dia… seorang yang bebas. Fariz namanya! Sang Penulis.

Aku mengenalnya di suatu senja, saat aku dan Kalila tengah asyik menikmati kesejukan senja di tepian sungai Martapura. Laki-laki itu datang menghampiri dan menyapa Kalila, kemudian mereka ngobrol begitu akrab. Kalila tak pernah mengenalkan aku padanya. Mereka terus saja bicara seputar kepenulisan yang sama sekali tidak aku mengerti. Ya! Mereka satu organisasi penulis yang entah apa itu namanya. Sekilas matanya menatap ke arahku yang hanya berdiam diri menikmati nyanyian sungai yang mengalun tenang. Kutangkap senyum tulusnya dan aku mengangguk hormat membalas senyumnya. Tak lebih dari satu menit aku menatapnya. Tak jua sepatah kata apapun, hanya seulas senyuman yang mengawali perkenalanku dengannya.

***

Entah lah… entah dari mana semua itu dimulai. Kini aku menjadi begitu akrab dengannya, sangat dekat, melebihi Kalila. Ponselku penuh dengan pesannya. Bukan lagi sebagai teman pengusir sepi kala malam menepi, obrolan via SMS tak jarang berlanjut hingga ke pagi. Bukan lagi seperti jadwal minum obat –pagi, siang, dan malam-, tapi setiap saat. Setiap waktu, kapan pun dan di mana pun, pesan-pesan singkat darinya selalu menghiasi layar ponselku. Entah dia yang mulai, dan terkadang juga aku. Aku menjadi begitu akrab dengannya, kami selalu berbagi cerita, dan aku jatuh cinta!

Tak pernah sekali pun dia merayu, atau sekadar mengirim puisi-puisi romantis, kisah ini berjalan begitu saja seiring waktu. Hatiku telah terbelenggu rindu. Entah sampai kapan, aku pun tak pernah tau.

“Aku capek, La. Aku lelah…,” rintihku pada Kalila.
“Kenapa, Vi? temanmu itu bercerita tentang dia lagi? tentang segala hal yang kau pun dapatkan darinya? sudahlah, Vika. Untuk apa terus menyakiti hatimu seperti ini?”

“Belakangan dia menjauh dariku, La. Apa salahku? atau ini hanya perasaanku?”
“Mungkin dia telah menyadari, bahwa komunikasi dengan lawan jenis itu berbahaya.”
“Berhati-hatilah dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Celakalah seorang laki-laki dari godaan wanita dan celakalah seorang wanita dari godaan laki-laki. Ya, aku mengerti, sangat mengerti!” aku tersenyum getir. Perlahan butiran bening mengkristal di mataku, jatuh satu persatu melinangi pipiku.

“Sudahlah, Vika. Kurasa dia pun salah, telah menabur benih-benih cinta di hatimu, sikap dan perhatiannya sangat tak menjagamu.”
“Aku yang tak bisa menjaga hatiku, La. Aku yang telah salah mengartikan keberadaannya selama ini,” aku masih saja membelanya, padahal aku tau, Kalila mungkin telah jenuh mendengar tangisku. Aku lelah, aku ingin berlalu menjauh darinya tapi aku seolah tak mampu.

***

“Kalila, kamu di mana? aku membutuhkanmu saat ini. Aku butuh nasihatmu, apa yang harus kulakukan sekarang, La? terima pinangan Bang Farhan atau pergi menemui Fariz, lalu ungkapkan tentang perasaanku padanya selama ini. Barangkali dia pun memiliki rasa yang sama padaku?”
“Apppaaa? Bang Farhan meminangmu? Lantas?”
“Entahlah, La. Aku benar-benar bingung. Tapi… apa pedulinya Fariz padaku? aku pun tak ingin menjadikan Bang Farhan hanya sebagai pelarian saja jika ternyata Fariz menolakku.”

Kalila memelukku hangat, memang hanya sahabatku ini yang paling mengerti tentang perasaanku selama ini.
“Shalat istikharoh, Vi, semoga Allah memberikan yang terbaik,” nasihat Kalila.

***

“Sudah dapat keputusan, Vi?”
“Aku akan terima pinangan Bang Farhan, La.”
“Kamu yakin?”
“Aku akan belajar untuk mencintai orang yang mencintaiku, aku tak ingin mengharapkan cinta dari seseorang yang tak mempedulikanku,” aku menunduk. Air mata yang menetes seolah membasahi hatiku yang luka, perih. Namun segera kutegarkan hatiku, aku telah yakin dengan keputusanku kali ini.
“Tapi… Bagaimana jika ternyata Fariz pun mencintaimu, Vi? Kulihat dari sikapnya selama ini yang seolah nggak ada hijab lagi saat berinteraksi denganmu, sepertinya dia memiliki perhatian khusus sama kamu.”
“Mungkin dia memang bukan jodohku, La, karena dia nggak pernah memberikan kejelasan tentang makna sikapnya selama ini. Sudahlah, La, mungkin hanya aku saja yang salah mengartikannya,” sekali lagi aku meyakinkan hati.

“Jadi… keputusanmu sudah bulat untuk menerima pinangan Bang Farhan?” Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan sahabatku itu.
“Insya Allah aku yakin, La. Semoga ini adalah jalan yang terbaik.” Kalila hanya diam membiarkanku berlalu dari hadapannya.

***

“Maaf, aku sudah menerima pinangan Bang Farhan, dan… awal bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan.”
“Oh, maaf, aku terlambat rupanya. Kupikir selama ini… kamu pun memiliki perasaan yang sama seperti aku. Kupikir kamu akan menungguku hingga batas waktu.”

Kenapa baru sekarang kamu katakan? kenapa bukan di saat aku begitu mengharapkan kau datang? Kenapa Fariz?! Lagi-lagi dia menggoreskan lukisan luka di kanvas hatiku. Terasa begitu perih saat kuharus menutup rapat-rapat celah perasaan ini agar tak sedikitpun dapat dilihat olehnya.

“Kamu mencintai Bang Farhan, Vi?”
“Aku akan belajar mencintai jodoh yang telah diberikan Tuhan untukku,” getir kurasakan saat kucoba menguatkan hatiku.
“Semoga dia yang terbaik untukmu.”
“Aaamiin. Semoga kamu pun segera menemukan jodoh yang terbaik,” balasku pelan.

***

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas, ini sudah lewat satu jam dari waktu yang ditetapkan untuk aku dan Bang Farhan melaksanakan janji suci pernikahan.
“La, kenapa Bang Farhan belum datang juga?” resahku pada Kalila.
“Sabar ya, Vi. Mungkin ada sedikit halangan dalam perjalanan,” sahabatku itu mencoba menenangkan.
“Tapi ini sudah telat satu jam, La.”
“Sudah coba hubungi ponselnya?” Fariz angkat suara di tengah keresahanku. Aku menatap pada Kalila.
“Tak ada jawaban,” sahut Kalila.
“Handphone-mu mana, Vi? siapa tau Nak Farhan menghubungi ke ponselmu,” ucap ayah. Aku segera meraih ponselku yang kutitipkan pada Vina, adikku. Benar saja, ada 6 panggilan tak terjawab dari nomor Salwa, sepupu Bang Farhan. Segera kuhubungi balik.
“Mbak Vika, maaf lama menunggu. Mobil Bang Farhan mengalami kecelakaan, sekarang kami sedang di ruang IGD Rumah Sakit Ulin, Mbak,” jelas Salwa.
“Astaghfirullahal adzim, Bang Farhan!” Aku segera mengabarkan berita ini kepada keluarga dan para undangan pun dibubarkan karena pernikahan terpaksa dibatalkan.

Aku bergegas menuju rumah sakit ditemani Kalila, Ayah, dan Bunda. Fariz pun ikut serta bersama keluarganya untuk memastikan keadaan sahabatnya itu.
“Kondisi pasien cukup kritis. Kita hanya bisa berdoa saja kepada Allah, semoga pasien diberikan keselamatan,” jelas Dokter Halim yang menangani Bang Farhan.
Masya Allah, Bang Farhan…
“Permisi… ada yang namanya Bapak Fariz? Pasien ingin bertemu,” seorang suster keluar dari ruang penanganan Bang Farhan.
“Saya, Sus,” Fariz bergegas masuk ke ruangan.

***

“Saya terima nikahnya Vika Ananda Salsabila binti Muhammad Salim, dengan mahar seperangkat alat shalat dan uang senilai Sembilan Puluh Sembilan Ribu Sembilan Ratus Rupiah, dibayar tunai!”
“Bagaimana, para saksi? Sah?”
“Saaaahh…”
“Alhamdulillah…,” ungkapan syukur membahana di ruangan Masjid Raya Sabilal Muhtadin disertai desah nafas lega dari keluarga dan kerabat yang menyaksikan hajatan sakral tersebut.

Aku menatap malu kepada lelaki yang kini telah sah menjadi suamiku itu. Ada desir halus yang kurasakan saat mata teduhnya menatapku lembut.
“Alhamdulillah, akhirnya kutemukan kamu sebagai belahan jiwaku,” bisiknya lembut. Aku tersenyum membalas tatapannya.
“Kukira aku takkan pernah bisa menemui saat indah ini, setelah peristiwa kemarin…”
“Semua sudah tertulis dalam skenario indah-Nya,” sahutku lembut.

“Selamat ya… Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair. Semoga rumah tangga kalian diberkahi oleh Allah dan dianugerahi keturunan yang shalih dan shalihah. Aaamiin,” ucap Fariz seraya menyalami Bang Farhan kemudian tersenyum tulus ke arahku. Aku membalas senyumannya sebentar dan kemudian menunduk.

Sepotong episode telah berlalu. Biarlah waktu menyimpan semua cerita yang pernah bermain di dalam taman hati kami berdua. Kini, di sampingku telah ada Bang Farhan yang akan selalu menemani perjalanan panjangku.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Banjarmasin.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang