Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sang Penjelajah Arus

Sang Penjelajah Arus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Arusnya mengalir begitu deras, mengalir menerjang bebatuan, pepohonan, tumbuh-tumbuhan kecil, menerpa dan mengikis tanah lembab sedikit demi sedikit. Bahkan tanah dan bebatuan yang kokoh pun sedikit demi sedikit terkikis karena terjangan dan terpaan arus yang terus menerus. Arus ini menggerus apapun yang berada di sepanjang jalannya, sekokoh dan sesolid apapun materi tersebut. Arus yang begitu konsisten ini terkadang harus menghadapi sekelompok penantangnya. Dan hampir dapat dipastikan arus ini akan selalu memenangkan pertarungan dengan para penantang arus tersebut.

Perkenalkan mereka para penantang arus, yang selalu tak sabar dengan perubahan. Inginnya selalu instan dan konstan. Para penantang arus ini tak menghargai proses dan sangat mementingkan hasil akhir. Apapun yang terjadi yang paling penting adalah hasil akhirnya, ini opini mereka para penantang arus. Terkadang mereka harus menerima akibatnya akibat terlalu terburu-buru dalam bersikap, bertindak, dan menganalisis segala sesuatunya.

Para penantang arus ini tidak menyadari bahwa ada alam yang lebih kekal setelah alam dunia yang hanya menjadi tempat persinggahan mereka. Sehingga, mata dan hati para penantang arus sering larut dalam perdebatan panjang. Padahal, kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah “Mata merupakan penuntun, sedangkan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata menikmati pandangan dan hati menikmati kepuasan pencapaian. Dalam cinta, keduanya merupakan sisi yang tidak bisa melepaskan. Manakala terpuruk dalam kesulitan dan sama-sama berada dalam cobaan, keduanya saling mencela dan mencaci.”

Hati berkata kepada mata, “Kamu yang menyeretku kepada lubang kebinasaan, menjadikanku berada dalam penyesalan panjang hanya karena telah mengikuti langkahmu sesaat saja. Kamu lemparkan lirikan ke taman itu, kamu mencari penawar di kebun penyakit, dan kamu melanggar firman Allah Yang Maha Bijaksana, “Hendaklah kamu menahan pandangan.” Kamu juga menyalahi tuntunan Rasulullah yang menyatakan, “Memandang perempuan adalah panah iblis yang berlumur racun, barangsiapa yang melakukannya karena takut kepada Allah Swt. maka Allah akan memberikan balasan atas keimanannya, berupa kemanisan iman yang ia rasakan di dalam hatinya.” (HR. Ahmad).

Inilah debat panjang antara mata dan hati para penantang arus, karena para penantang arus tersebut tidak sabaran, terburu-buru dengan perubahan sehingga mereka sendirilah yang kemudian terjerembab dalam lembah hitam kemaksiatan yang semakin samar-samar.

Kondisi ini sangat kontradiktif dengan para petualang arus, para penjelajah arus. Para penjelajah arus begitu menikmati arus yang akan dilewatinya. Mereka menyadari bahwa arus adalah gerakan yang alamiah, seperti gerakan api yang sedang berkobar. Inilah mereka para penjelajah arus, memiliki sedikit kesamaan dengan para penantang arus, yaitu lebih menghendaki gerakan secara kolektif dan berjamaah.

Kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Ada satu golongan berjalan pada rel perintah dan cinta-Nya, mereka berhenti di tempat penghentian yang ditentukannya. Mereka bergerak sesuai dengan panduan gerak dan perintah-Nya. Mereka mempergunakan perintah dan dalam takdir, mendayung dengan sampan perintah di lautan takdir-Nya, menetapkan urusan dengan takdir-Nya, dan menghukum dengan ketetapan-Nya. Semua itu sebagai manifestasi dari ketaatan terhadap perintah-Nya dan demi mencari keridhaan-Nya. Mereka inilah orang-orang yang selamat dan berbahagia.” Menurut penulis pribadi, karakteristik yang disampaikan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah inilah karakteristik yang mendekati sosok para penjelajah arus.

Dari sekian banyak para penjelajah arus dan di antara mereka, rupanya ada sosok yang lebih membanggakan dan semangat dalam mengakselerasi gerakan mereka. Sebut saja sosok ini disebut Sang Penjelajah arus. Sang penjelajah arus pandangannya begitu visioner dan idealismenya kuat. Meski terkadang keputusan yang diambil harus situasional dan kondisional, sesuai momentum. Tapi Sang penjelajah arus ini tetap yakin dengan sumber dan prinsip kebenarannya.

Sang penjelajah arus bermukim di sebuah negeri yang katanya bersemayam Satria Piningit, sering disebut Nusantara. Sang penjelajah arus sering menjelajah negeri nusantara yang sangat ia cintai ini, tidak lain adalah wujud cintanya kepada Allah atas nikmat negeri yang indah ini. Ia pernah menjelajahi puncak, meretas jejak para pendahulu, meniti jalan Sekolah Karakter Kebangsaan. Ia pernah menjelajah ke tanah Ambon manise di Maluku, ia pernah menjelajah istana Sultan Babullah di Ternate, pernah menjejakkan kaki di monumen perjuangan Bandung Jawa Barat, pernah mencapai puncak matantimali Sigi Sulawesi Tengah, pernah merapatkan langkah untuk mendaki segoro gunung Solo Jawa Tengah, pernah menjejakkan kaki dan merasakan kisah indah di Tanah kelahiran Bung Tomo Surabaya Jawa Timur, pernah menyebar langkahnya di dermaga Bitung Sulawesi Utara, pernah memantapkan langkahnya di tanah kelahiran Sultan Hasanuddin Makassar Sulawesi Selatan, pernah menderapkan kakinya di tanah istimewa Yogyakarta, dan pernah merasakan hangatnya pasir pantai Bambarano Donggala Sulawesi Tengah.

Ia mencintai negeri ini, ingin ibu pertiwi ini tak lagi meneteskan air mata.

Negeri ini begitu kaya, begitu elok dan dicintai. Dengan Rasa Cinta yang begitu mendalam, sering Sang Penjelajah arus menyanyikan sebuah lagu karya Ismail Marzuki yang berjudul Tanah Air :
“Walaupun banyak negeri kujalani..
Yang masyhur permai dikata orang..
Tetapi kampung dan rumahku..
Di sanalah kurasa senang..
Tanahku tak kulupakan..
Engkau kubanggakan..”
(Tanah Air, Ismail Marzuki)

Ia tak seideal sosok pemeran utama dalam film Sang Kiai. Ia pun menyadari bahwa semangat pembaharuannya dalam mengarahkan arus tak sebegitu menggelegar ide dan aksi sosok pemeran utama dalam film Sang Pencerah. Mungkin saja hubungan dengan kawan-kawannya tak sesolid para pemeran dalam film Laskar Pelangi. Mungkin juga, ia sedang tidak dalam kondisi terbaiknya dalam berjuang seperti para pemeran utama dalam film 5 Cm yang kondisinya selalu baik bahkan jauh lebih baik untuk meraih mimpi. Atau mungkin juga mimpi, harapan, dan asa-nya tak sekonkret para pemeran dalam film Negeri 5 Menara.

Inilah dia, Sang penjelajah arus. Meski bukan sosok yang ideal, ia yakin seluruh kerusakkan sistem akan dapat diperbaiki sedikit demi sedikit, maka ia terus berjuang tanpa kenal lelah. Meski terkadang ia harus sedikit manusiawi dengan merasa iri pada para anak pejabat dan konglomerat. Ia yakin dengan perbaikan yang dimulai dari individu, maka kerusakkan yang sudah sistemik ini akan semakin baik dan harapan besarnya kerusakkan ini akan sirna. ia yakin suatu saat atas kehendak Allah, kerja secara berjamaah, dengan niat yang baik, metode yang baik, bahan baku yang baik, komponen mesin yang prima dan mumpuni, suatu saat bangsa ini akan semakin baik dan tercerahkan, Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Mengapa Harus Kita?