Home / Pemuda / Cerpen / Lelaki yang Berteman Sepi

Lelaki yang Berteman Sepi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Di rumah ini, ada satu pertanyaan yang tidak boleh terlontar jika tidak ingin perang dingin terjadi…

***

Hari ini hari Jumat. Aku selalu senang jika hari ini tiba. Tak pasti karena sebab apa. Ah, selain karena hari Jumat diklaim sebagai hari raya umat muslim, mungkin karena Jumat juga berarti kebebasan. Maksudku, setelah Jumat adalah akhir pekan, kan?—meski aku tidak benar-benar paham apakah akhir pekan itu ada bagi seorang tukang tambal ban seperti aku ini.

Sudahlah, tidak usah meributkan hari ini. Jumat memang selalu istimewa. Seperti saat ini… Semoga saja hari ini berjalan sesuai rencanaku.

***

Bapak marah besar. Piala hasil juara lomba cerdas cermat tingkat kabupaten milik kakakku dibantingnya hingga remuk. Mbak Asih sendiri kini sedang meringkuk di kamarnya. Menangis tersedu-sedu. Melihat itu, aku hanya diam dengan mata yang memerah dan terasa panas.

“Ini yang dibilang anak pandai itu? Tidak berguna! Berani-beraninya kau mengajari orang tuamu, Asih! Dasar anak durhaka!” Bapak tidak henti melontarkan kata-kata yang jika kuteruskan kepadamu bagaimana kelanjutannya, tentu akan lebih menyakitkan untuk didengar.

Masih kudengar isak keras Mbak Asih. Hatiku ngilu. Ingin rasanya aku memeluk satu-satunya kakak perempuanku itu. Tapi lirikan tajam bapak membuatku mengurungkan niat.

“Bicaramu seperti orang yang paham agama saja!” rupanya, cerca itu belum berhenti. Bapak benar-benar tersinggung dengan ucapan Mbak Asih. Ah, andai saja ada Mas Ilham di sini, pasti dia akan membela kami. “Lepas saja jilbab dan baju kurungmu itu! Dasar anak sialan.”

Mbak Asih masih menangis. Dia tidak lagi membalas kata-kata bapak. Duh, sekarang bapak malah melihat ke arahku. Aku menunduk menghindari sorot matanya yang menembus retinaku.
“Belikan rokok, Rama.” Nada suara bapak yang dipelankan membuatku langsung ngacir bergegas memenuhi titah bapak.

***

Aku sudah mandi. Memotong kuku, memakai wewangian, dan berbaju koko. Bapak melirikku, sekilas. Tanpa sepatah kata. Beliau lalu kembali meneruskan aktivitasnya menambal ban sepeda yang kutahu milik sepupu jauhku.

Bersama dengan kerumunan orang berbaju rapi dan beraroma warna-warni, aku melangkahkan kakiku menuju sebuah surau yang lumayan besar di dusun kami. Ya, kami akan melakukan shalat Jumat.

***

Bau pepes ikan tongkol yang dimasak Mbak Asih sempurna membuat cacing-cacing di perutku melakukan demo. Jumat ini semakin istimewa saja dengan kehadiran Mas Ilham yang ternyata hari ini sudah mulai libur kuliah dan memutuskan untuk langsung pulang.

Aku, Mas Ilham, Mbak Asih dan Bapak makan tanpa ada perbincangan yang berarti. Hanya ada denting sendok yang beradu di mangkuk sup dan celotehku yang sesekali bertanya pada Mas Ilham tentang pengalamannya selama kuliah. Mas Ilham sendiri hanya menjawab seperlunya saja. Dan Mbak Asih serta bapak… memilih diam. Seperti biasanya.

Di rumah ini, ada satu pertanyaan yang tidak boleh terlontar jika tidak ingin perang dingin terjadi…

***

Aku masih membuka LKS dan berniat mengerjakan soal-soal di dalamnya saat Mas Ilham masuk ke kamarku dengan mata yang basah. Dia hanya duduk di sampingku sambil sesekali menghela napasnya menahan tangis.

Sepertinya, aku tidak perlu menanyakan apa yang terjadi. Karena beberapa saat yang lalu, aku mendengar sayup-sayup suara Mas Ilham beradu dengan suara berat dan batuk bapak.

Mas Ilham lalu berbaring di sebelahku. Matanya terpejam meski kutahu dia masih terjaga. Aku menutup LKS-ku dan membuka lemari. Mengeluarkan sebuah kotak kecil persegi panjang yang kubungkus kertas cokelat. Aku duduk di tepi ranjang sambil mendekap erat-erat bingkisan itu di dadaku yang berdebar dengan kencang.

***

Luar biasa sekali! Semakin nikmat saja hari Jumat kali ini. Sekolahku pulang lebih awal karena para guru hendak menjenguk seorang guru yang sakit. Aku tidak langsung pulang ke rumah. Kakiku malah menyisir area persawahan yang panjang. Tujuanku hanya satu. Makam ibu.

Tidak bisa kujelaskan bagaimana perasaanku saat kupandangi nisan berlumut di depanku ini. Aku menyentuhnya, perlahan. Mendekatkan pipiku yang basah dan membiarkan rasa dingin nisan itu menjalar.

“Ibu…, sudah tiga tahun lebih, Bu,” sesak aku berkata-kata. Air mataku semakin menderas. “Bapak belum berubah. Bapak terus menyalahkan Tuhan, Bu.” Aku mengadu sambil tergugu. Dadaku semakin sesak.

Kuhapus air mataku cepat-cepat. Memandang nisan ibu sejenak, menguntai doa, lalu pamit pergi. Aku tidak boleh terlambat ke masjid.

***

Tergesa-gesa aku mengambil air wudhu. Khatib sudah mulai berkhutbah. Dan aku terlambat datang ke masjid. Karena membantu membawakan barang dagangan Nek Imah tadi, aku jadi tidak sempat pulang ke rumah. Aku bahkan masih berseragam.

Argh! Sedikit kesal juga aku dengan kesialanku hari ini. Shaf depan tentu saja sudah penuh. Mau tidak mau, setelah meletakkan tasku di tempat yang aman, aku harus langsung duduk di barisan belakang.

Aku masih menyimak khutbah saat mataku terbelalak menangkap sebuah peci yang tersembul di antara peci-peci lain. Pikiranku menjadi kacau. Aku tidak lagi mendengarkan apa yang dibicarakan khatib dan terus memandangi peci itu. Rasa-rasanya, aku kenal sekali…

Agak sulit memastikan siapa yang mengenakan peci itu karena aku berada di baris belakang. Aku hanya bisa menatapnya terus dengan dada yang berdebar-debar. Sampai tak sadar aku ketika orang-orang mulai beranjak berdiri.

Aku berjinjit, mencari-cari sosok yang mengenakan peci itu. Dan, betapa terkejutnya aku ketika sosok itu menoleh, seperti sedang mencari seseorang. Aku sampai harus mengucek mataku berkali-kali untuk mengecek apakah ini sekedar halusinasiku yang memang selalu mengharapkan hal seperti ini terjadi.

Tapi tidak. Ini bukan halusinasi. Ini bukan fatamorgana. Sosok itu tersenyum. Tersenyum kepadaku! Dia…. Bapak.

***

Aku pulang lebih cepat dari bapak dan Mas Ilham. Mbak Asih tersenyum lebar. Dia menyambutku dengan pelukan. Dibisikannya sesuatu yang membuat hatiku langsung terasa sejuk.

“Terima kasih untuk kadonya. Bapak menangis tadi. Mengatakan jika ia sudah lelah. Ibu tidak akan bisa kembali lagi dan usia bapak mulai menua. Bapak meminta maaf pada kami…”

Aku menghela napas penuh syukur. Hari yang kuyakin tiba itu akhirnya datang juga. Terasa istimewa karena saat yang kami nanti itu terjadi tepat di hari lahir bapak. Ah, sudah kuyakini berulang, bapak hanya harus kembali mendapatkan kepercayaan dirinya yang hilang. Bapak hanya harus mengikhlaskan semuanya…

***

Di rumah ini, ada satu pertanyaan yang tidak boleh terlontar jika tidak ingin perang dingin terjadi…

Aku tidak mengatakannya. Tidak pernah. Aku selalu menghindari pertanyaan itu meski sebenarnya, hatiku ingin sekali lebih dari sekadar bertanya. Kini, di usia bapak yang bertambah ini, tidak berlaku lagi aturan yang tak tersurat itu.

Jumat ini, kami ditemani sepiring mendoan, sambal tomat dan sayur asem. Melihat wajah bapak saja aku sudah merasa kenyang. Aku membiarkan nasiku yang sudah tidak mengepulkan asap panas. Memandangi wajah bapak yang damai, lekat-lekat. Garis-garis umurnya mulai tampak saja. Ah, tapi bapak masih tetap tampan seperti dulu.

Aku mulai menyendok sayur dan sambal, banyak-banyak. Mengulum sepotong mendoan, lalu kembali tersenyum, memandang bapak.

Bapak, sudah sholat?

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seseorang yang berharap dapat selalu berkarya hingga batas masanya.

Lihat Juga

Ilustrasi (Flickr / Virtua TravelR)

Belajar Pada Sepi

Organization