Home / Narasi Islam / Sosial / Bukan Sekadar Berbagi

Bukan Sekadar Berbagi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (whbrasil.org)
Ilustrasi. (whbrasil.org)

Alangkah indah, orang bersedekah
Dekat dengan Allah, dekat dengan surga
Takkan berkurang, harta yang sedekah
Akan bertambah, akan bertambah

dakwatuna.com Sebuah potongan lirik yang barang kali sudah akrab di telinga kebanyakan. Begitu sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Berbagi, bukan sekadar cerminan kegiatan “memberi” yang menjadi kewajiban si kaya, melainkan bentuk kepedulian terhadap saudara yang berkesulitan. Ada juga jargon let’s share and care yang sering kita dengar. Yaitu sebuah ajakan untuk berbagi dan peduli terhadap siapa yang membutuhkan tanpa khawatir harta akan berkurang. Sebaliknya, harta akan bertambah banyak atau bahkan berbuah surga. Begitu sederhana bukan? Sayangnya, lirik atau pun jargon let’s share and care tersebut belum sepenuhnya matang di pikiran dan hati kebanyakan orang. Tentu banyak mereka yang diberi kelebihan rizki, masih saja perlu berpikir panjang untuk menggelontorkan sebagian rizkinya kepada yang membutuhkan.

Suatu ketika saya mendengar kabar bahwa si fulan dan keluarganya menanggalkan syahadatnya demi sembako yang diberikan rutin oleh misionaris. Sudah barang tentu alasan klasik yang menjadikannya ia menukar imannya dengan kebutuhan perut. Sungguh remuk hati saya. Memang benar, bukan rahasia jika kita kerap menemukan banyak kasus semacam itu. Dalam kasus ini, saya tidak menganggap bahwa si fulan yang tidak mampu menjaga imannya atau si misionaris yang semakin gencar mencari mangsa (orang-orang yang tidak mampu). Yang saya pertanyakan adalah, kemana saudara-saudaranya (termasuk saya) di saat mereka membutuhkan bantuan? Kemana larinya orang-orang berduit itu? Andai saja kita lebih peduli dan perhatian terhadap kondisi seperti ini, tentu banyak orang yang akan terselamatkan aqidahnya. Di sinilah kita melihat bahwa begitu besarnya kekuatan dari “berbagi”. Bukan hanya sekadar meringankan beban saudara, melainkan mampu menyelamatkan atau menjaga aqidah saudara kita.

Melihat fenomena tersebut, jadi teringat kisah zaman khalifah Umar bin Abdul Azis. Diriwayatkan bahwa amil zakat mengalami kebingungan harus menyantuni siapa lagi lantaran rakyatnya sudah kaya. Begitu gemilangnya kepemimpinan Umar bin Abdul Azis dalam menyejahterakan rakyatnya. Lantas, kapan ya Indonesia bisa seperti itu? Bukan. Bukan maksud saya membandingkan kepemimpinan Umar bin Abdul Azis dengan pemerintahan di Indonesia. Tentu ketinggalan jauh saya kira. Namun cita-cita mulia menyejahterakan rakyat bukanlah sekadar mimpi. Kita bisa asalkan ada kemauan dan kerja sama dalam mewujudkannya.

Kini muncul pertanyaan, lantas apa yang bisa kita lakukan? Dalam bersedekah tentu ada lembaga yang mengaturnya, yaitu lembaga zakat nasional maupun organisasi. Keberadaan lembaga zakat tersebut tentu sangat membantu dalam proses penghimpunan dan penyaluran zakat, infak, dan sedekah. Namun kurangnya sosialisasi dan informasi dari keduanya, dianggap sebagai faktor mengapa jumlah zakat yang terkumpul masih rendah. Tugas kita adalah aktif meramaikan lembaga-lembaga tersebut dengan sebagian harta kita. Jangan khawatir sedekah tidak tersalurkan, sebaliknya lembaga zakat lebih mudah menyalurkan dan meratakan sedekah kita.

Pada dasarnya, berbagi bukanlah melulu urusan meringankan beban hidup saudara kita. Lebih jauh dari itu. Ia membawa sebuah kekuatan misterius yang merembes pada hati-hati manusia. Hingga akhirnya semakin erat tali silaturahmi sesama saudara, yang berakibat pada semakin kokohnya aqidah antara pemberi dan penerima sedekah. Sudah barang tentu tak perlu khawatir akan sering terjadinya peluruhan aqidah pada saudara kita.

Oh indahnya saling berbagi
Saling memberi karena Allah
Oh indahnya saling menjaga
Saling mengasihi karena Allah

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Diyah Azzalea
Alumni Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Wanita biasa yang berusaha terus belajar, berpikir, berkarya, dan bermanfaat.

Lihat Juga

Warga Gunungkidul Bersyukur Dapat Kiriman Air dari PPPA Daqu Jogja