Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cinta, Berkata Dalam Diam

Cinta, Berkata Dalam Diam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Love, cinta...dakwatuna.com Semua akan pada indah pada waktunya. Karena kebahagiaan yang hakiki hanyalah milik orang-orang yang pernah merasakan manisnya perjuangan, nikmatnya berjalan di atas ketaatan, dan sabar atas segala aral rintangan yang menghadang. Manusia diciptakan berpasang-pasangan, itu merupakan takdir Allah. Tinggal bagaimana cara terbaik bagi kita untuk menjemput takdir tersebut. Dengan usaha perbaikan diri sehingga mampu memperoleh pasangan yang baik, ataukah sebaliknya berleha-leha sehingga hal terburuk pun menimpa kita.

Ada suatu kisah yang membuat kita tahu, betapa indahnya mengekspresikan rasa cinta dengan berkata dalam diam. Cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan dua orang terbaik dalam sebuah ikatan suci pernikahan.

Yakni kisah cinta suci antara Ali bin Abi Thalib dengan wanita terbaik pada zamannya, putri Rasulullah SAW yakni Fatimah Az-zahra. Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar melamar Fatimah. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun, kesabaran beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak oleh Rasulullah. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannya yang mesti hanya bermodal baju besi diterima oleh Rasulullah.

Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”, Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fatimah Az-Zahra menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”.

Cinta adalah hal fitrah yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang, namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut agar bukan cinta yang mengendalikan diri kita, Tetapi diri kita yang mengendalikan cinta. Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut di sekitar kita saat ini. Walaupun bukan tidak ada.. barangkali, kita saja yang tidak mengetahuinya. Dan inilah kisah dari Khalifah ke-4, suami dari putri kesayangan Rasulullah tentang membingkai perasaan dan bertanggung jawab akan perasaan tersebut “Bukan janji-janji”. Semoga Allah membimbing kita untuk selalu berada dalam jalan yang Ia ridhai.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Burhan Efendi
mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura angkatan 48 Institut Pertanian Bogor. Berasal dari Kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang

Organization