Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Rindu yang Tak Tersampaikan

Rindu yang Tak Tersampaikan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com

Untukmu yang nan jauh di sana…
Tak pernah kupikirkan aku berada jauh darimu..
Bahkan sangat jauh…
Beberapa pulau harus dilewati jika engkau ingin menemuiku…
Aku tahu betapa besarnya rindumu akan diriku…

Jika kuingat di saat aku mengatakan ingin pergi.
Tampak di wajahmu, betapa sulitnya engkau mengizinkanku untuk pergi.
Dan di saat detik-detik kepergianku.
Tampak di wajahmu betapa sulitnya engkau melepaskanku.
Aku tahu engkau sangat sedih melihat kepergianku.
Aku tahu, dikala itu engkau tak ingin aku pergi.
Namun, demi kebahagiaanku.
Engkau mengenyampingkan semua perasaanmu.

Demi mimpiku…
Engkau meninggalkan semua egomu.
Saat ini engkau pun masih mengkhawatirkan diriku.
Diriku yang tak pernah pergi jauh darimu.
Diriku yang tak pernah lepas dari pengawasanmu.
Dan diriku yang selalu membuatmu takut apabila masalah menghampiriku.

Kuingat kata-katamu dahulu, dengan nadamu yang sedih, Engkau mengatakan, “Anakku, mengapa hidupmu jadi seperti ini?”
Saat itu, aku tak mampu menjawabmu hanya senyuman yang bisa kuberikan padamu..
Akupun tak tahu jawaban seperti apa yang harus kukatakan karena aku belum menemukan jawabannya.
Namun, engkau perlu tahu..
Kata-katamu itu tak pernah sekalipun kulupakan.
Kata-katamu itu selalu membekas di hatiku.
Karena kata-katamu itulah, aku bisa berada di sini, tempat di mana aku bisa bermanfaat bagi orang lain…
Dan di tempat inilah aku mampu mewujudkan sebagian mimpiku…

Seiring berjalannya waktu…
Banyak hal yang telah kupelajari dalam menjalani hidup ini.
Dan tanpa kusadar, aku telah menemukan jawaban atas pertanyaanmu terdahulu..
Jawaban yang telah engkau nantikan, Ayah….

“Ayah, apa yang terjadi padaku di masa lalu, itu merupakan cara Allah mencintaiku karena Allah ingin mempersiapkanku menjadi manusia yang lebih baik lagi, agar kelak aku mampu bertahan untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Dan ditempat inilah, tempat dimana aku berada sekarang merupakan salah satu skenario Allah dalam mewujudkan mimpi-mimpiku. Maka dari itu Ayah, jangan pernah mengkhawatirkan anakmu ini. Titipkanlah aku dalam setiap doamu agar aku mampu memberikan yang terbaik untuk bangsa ini.”

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 4,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Selama 1 tahun sampai tahun 2015, Mahasiswa SGI_DD Angkatan VI (Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa). Saat ini ditempatkan sebagai guru di sebuah desa kategori 3 T (Terluar, Terpencil, Terjauh) tepatnya di Desa Tambalae, Kab Dompu, NTB.

Lihat Juga

Rindu Bergurau Berdua