Home / Narasi Islam / Politik / Bahaya Kultus Individu

Bahaya Kultus Individu

Ilustrasi. (123rf.com)
Ilustrasi. (123rf.com)

dakwatuna.com Komitmen sejati seorang muslim adalah membersihkan hati dan jiwanya dari berbagai noda kemusyrikan. Seorang muslim meyakini tiada kekuatan kecuali kekuatan Allah, dia tidak akan bersandar lagi kepada kekuatan benda-benda seperti keris kamenyeng, ruwatan, atau kekuatan spiritual dari paranormal atau dukun. Dia tidak akan memelihara jin meskipun mengaku jin muslim, karena semua itu tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Dirinya juga bersih dari mengagung-agungkan jabatan dan kedudukan dan menggantinya dengan mengagungkan serta memuliakan Allah. Komitmen sejati seorang muslim adalah menyambut seruan Allah untuk melaksanakan syariat-Nya di muka bumi. Dengan meyakini Allah sebagai Raja yang memimpin Alam semesta ini sehingga segala puji itu hanyalah bagi Allah semata.

Manusia adalah makhluk Allah yang khas. Masing-masing memiliki keistimewaan. Karena itu Al-Quran mengingkari manusia yang menghilangkan kepribadiannya dan menjadi pembebek (pengikut) orang lain dalam kekeliruannya. Biasanya manusia sangat terpengaruh untuk mengikuti para pemimpin, pejabat dan penguasa dengan berlebih-lebihan sehingga mereka mengkultuskannya. Adapula yang menyucikan para tokoh pujaannya sehingga ia menjadikan orang itu sebagai tuhan-tuhan yang ia patuhi dalam setiap yang ia putuskan.

Di masa lalu, Fir’aun – yang mengaku dirinya sebagai tuhan – dipuja-puja oleh pengikutnya sehingga dianggap tak pernah bersalah. Demikian juga Hitler dan Musolini yang merupakan diktator yang diagungkan kehebatannya. Di negeri kita Presiden Soekarno punya pengikut fanatik yang banyak. Pada masa kejayaannya Soeharto punya pengikut yang menganggapnya manusia yang lain dari yang lain sehingga mereka memberi gelar “Bapak Pembangunan”. Sekarang ini juga muncul para pemuja yang menganggap bahwa tindakan pemimpinnya selalu benar. Bahkan meskipun aneh dan menyimpang tetap saja dianggap perbuatan wali (orang suci). Dibela habis-habisan meskipun jelas-jelas salah dan kebenaran pun dijungkirbalikkan.

Sungguh keliru pandangan seperti itu. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam saja tidak boleh diagungkan melampaui batas yang ditentukan. Beliau menyatakan dirinya sebagai manusia biasa sebagaimana kita. Penghormatan kepada beliau pun sebatas sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.

Perbuatan kultus kepada pemimpin merupakan sikap yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Sebab Islam tidak pernah mengajarkan mengagungkan manusia melebihi kadar yang dibolehkan. Pada hari kiamat nanti orang-orang yang mengkultuskan para pembesar ini akan menyesal dan menyadari kesalahan mereka, “Dan mereka berkata, “Ya Tuhan Kami, sesungguhnya Kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan yang benar”.” (QS. Al-Ahzab: 67).

Di antara manusia yang Allah takdirkan menjadi penguasa memang ada jenis manusia yang membawa kepada kemunkaran dan kezhaliman. Setiap muslim wajib mewaspadainya dan mereka berkewajiban melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa yang zhalim. Tidak boleh membiarkan kesalahannya merembet kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Meluruskan yang bengkok dan memperbaiki yang salah adalah kewajiban setiap muslim. Bukan menjadi pembebek-pembebek orang-orang yang menegakkan kebathilan itu meskipun kebanyakan orang telah menjadi pengikutnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,  “Janganlah seseorang di antara kamu menjadi ima’ah”. Seorang sahabat bertanya, “Apakah ima’ah itu ya Rasulullah?” “Ima’ah itu adalah orang yang berkata, ‘Saya mengikuti bagaimana masyarakat saja, jika masyarakat baik, maka saya akan menjadi baik, namun jika masyarakat buruk, saya pun akan bersikap buruk’”, jawab Rasulullah. Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Tetapi perkuatlah jiwa kalian, jika masyarakat baik ikutilah kebaikan mereka, dan jika masyarakat buruk maka jauhilah keburukan mereka”. (HR. Turmudzi)

Masyarakat ima’ah (pembebek) itu terjerumus mengikuti pemimpin yang mengajak pada kesesatan. Allah memperingatkan,  “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi. Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka’.” (QS. Ibrahim: 28-30). Yang dimaksud menukar nikmat Allah dengan kekafiran adalah menukar kepemimpinan yang Allah berikan dengan menolak melaksanakan syariat Allah di muka bumi. Kekuasaan hanyalah amanat dari Allah dan para penguasa harus menjalankannya sesuai dengan kehendak Allah. Para penguasa yang mempertahankan kelemahannya dengan segala cara dan tipu daya tergolong membawa rakyatnya pada kekufuran dan akan menanggung akibatnya di Hari Akhirat nanti.

Bila penguasa tidak berjalan di atas syariat yang benar maka kebenaran dan kebatilan akan menjadi jungkir balik. Bila penguasa tidak memiliki tanggung jawab terhadap amanat yang dipikulnya maka dia akan membiarkan kondisi masyarakat porak poranda. Dia tidak menjalankan fungsinya menimbulkan ketenteraman di tengah masyarakat. Dia membiarkan rakyatnya saling bertikai bahkan mungkin saling bunuh.

Sebagai hamba Allah, manusia tentu punya kelebihan dan kekurangan. Demikian juga para pemimpin di suatu negeri. Kelebihannya itu bukan untuk disucikan dan diagungkan manusia lain, sedangkan kekurangannya pun bukan untuk dihina manusia lain. Kelebihan manusia selayaknya didayagunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, dipadukan dengan kelebihan manusia lain agar semakin kokoh dan kuat.

Sementara itu kekurangan setiap manusia harus diakui dan jangan sampai dianggap kelebihan sehingga terjebak pada sikap membenarkan yang salah. Kekurangan manusia dapat ditutupi dengan bekerja sama dengan manusia lain. Manusia dituntut bekerja sama, bahu membahu, dan saling tolong menolong untuk memunculkan kebajikan takwa. Manusia dilarang bekerja sama dalam dosa dan permusuhan. Firman Allah Ta’ala, “Bekerjasamalah kalian dalam kebajikan dan taqwa dan janganlah kalian bekerja sama dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maaidah: 2)

Dalam pandangan Islam, setiap orang dapat disebut baik sepanjang pribadinya membawa kebajikan dan ketakwaan. Artinya, dalam hubungan horizontalnya di tengah manusia dia bermanfaat dan menjadi sumber berbagai kebaikan bagi orang lain. Orang merasakan kehadirannya sebagai manusia yang penuh keberkahan. Sedangkan dalam hubungan vertikalnya, dia dapat meningkatkan ketakwaan dirinya dan ketakwaan orang lain kepada Allah. Manusia yang hidupnya menyusahkan orang lain atau menjauhkan manusia dari jalan Allah adalah manusia yang buruk.

Bila suatu masyarakat bersepakat bahwa seorang pemimpin itu hidupnya menyulitkan orang lain, hampir dapat dipastikan bahwa orang tersebut memang jelek. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,  “Ada tiga orang yang dibenci Allah (salah satu di antaranya) seseorang yang memimpin suatu masyarakat sedangkan mereka membenci pemimpin itu”. (Al Hadits).

Memuliakan manusia ada batasnya. Kita wajib memberikan hak manusia untuk dihargai sesuai dengan dhawabith (patok-patok berpikir) yang ditentukan ajaran Islam menghormati manusia lain tidak boleh sampai menyanjung atau memujanya. Setiap orang berhak memperoleh penghargaan sesuai dengan tuntutan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, “Man lam yasykurinaas lam yasykurillah” (Barang siapa yang tidak pandai mensyukuri kebaikan manusia berarti belum disebut bersyukur kepada Allah). Tetapi penghargaan itu tidak boleh sesuatu yang menjerumuskan kita pada kemungkaran dalam aqidah.

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Hubbuka fissyai yu’ma wa yu’sham” (Kecintaanmu kepada sesuatu itu dapat membutakan dan menulikan kamu). Menyukai sesuatu tidaklah dilarang sepanjang tidak melanggar kaidah-kaidah yang telah ditentukan dalam ajaran Islam.

Ada dua kaidah yang harus dipegang teguh: Pertama, menyukai orang tertentu tidak boleh sampai jatuh kepada kultus yang dilarang. Kedua, mencintai harus karena Allah. Artinya, seseorang itu disukai kalau memang disukai Allah dan seseorang itu dibenci jikalau dibenci Allah. Jadi bukan ukuran masyarakat banyak yang menjadi standar. Orang yang mencintai orang lain secara buta tuli sangat berbahaya karena menimbulkan kultus individu dan kemurkaan Allah.

Di antara akibat buruk dari kultus individu adalah,
1. Membawa pada kemusyrikan, sedang syirik merupakan dosa besar yang tidak diampuni Allah sampai pelakunya benar-benar bertaubat.
2. Menyeret pelakunya pada kekafiran yaitu bila orang yang menjadi tokoh pujaannya mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.
3. Mudah dibodohi orang lain karena pertimbangan akalnya sudah hilang diganti oleh pertimbangan emosi dan kedangkalan berpikir.
4. Tidak mampu melihat kebenaran pada pendapat orang lain, bagaikan orang yang buta matanya, hati orang yang sedang kultus pun buta dari melihat kebenaran. Dia selalu menyalahkan orang lain.
5. Mudah menyesal dan putus asa sebab tatkala yang dipujanya mengalami kebangkrutan dia pun akan frustrasi dan bangkrut pula.
6. Menimbulkan berbagai pertentangan, kebencian, dan permusuhan dalam masyarakat karena pembelaan orang yang kultus terhadap pujaannya menimbulkan pertentangan.

Manusia, khususnya bangsa Indonesia, sering kali tidak mampu mengambil pelajaran dari masa lalu. Betapa banyaknya orang-orang yang tadinya dipuja-puji pada akhir kehidupannya dicaci maki. Mengapa kesalahan-kesalahan masa lalu selalu terulang kembali? Ini disebabkan karena mereka tidak mau menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dalam memilih pemimpin. Karena mereka melupakan bimbingan Kitabullah dalam melaksanakan kehidupan.


Saduran dari Khutbah Idul Adha 1412 H

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aus Hidayat Nur
Dilahirkan di Garut pada Juli 1961, aktif dalam kegiatan dakwah dan tulis-menulis sejak SMU dan Mahasiswa di Univ. Indonesia.