Home / Berita / Opini / Gaza dan Integritas Keislaman Kita

Gaza dan Integritas Keislaman Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (blogspot.com)
Ilustrasi. (blogspot.com)

dakwatuna.com Kebiadaban agresi Militer Israel di tanah Gaza Palestina, hingga kini nampaknya masih terus berlangsung. Bumi kelahiran tokoh besar pelopor mazhab syafi’iyah, Imam Idris bin Ahmad al-Syafii tersebut porak poranda. Simbahan darah, reruntuhan bangunan, raung tangisan dan tetesan air mata para korban perang kebiadaban Israel itu sepertinya terus terjadi. Semua itu menjadi rentetan bukti kelaliman Zionis Israel terhadap umat manusia, khususnya Rakyat Pelestina.

Rekaman perang Gaza menjadi abjad dari bilangan frustasi negara biadab itu terhadap tragedi kemanusiaan, utamanya warga Palestina. Seolah, kamera zaman tidak pernah berhenti memotret etnis pembangkang itu, karena dalam setiap klik lensa sejarah, rekaman kelaliman, culas, bringas dan haus darah, selalu menjadi ciri jejak dari tapak Zionis Israel di bumi Tuhan ini. Walau demikian, karakter angkuh Zionis Yahudi tetap masih mampu mengelabui, bahkan tetap menarik simpati dunia. Seakan apa yang mereka lakukan terhadap puak lain di dunia ini, merupakan pembelaan diri dan mempertahankan entitas kehidupan mereka. Dengan pengelabuan ini, opini dunia menjadi perangkat yang siaga untuk menggolongkan orang yang kontra dengan Zionits Yahudi menjadi puak teroris, militan, fundamentalis dan sederet istilah minor lainnya.

Penguasaan Yahudi atas opini dunia sudah menjadi rahasia publik, karena kekuatan Zionist Yahudi menjamah semua sektor lintas kehidupan manusia. Pengaruh Yahudi menyelusup dalam pelbagai lini, baik media, ekonomi, politik dan bahkan militer. Sehingga, umat manusia hampir tidak mampu mengelak virus ”antrak” pengaruh umat yang dilaknat Tuhan tersebut. Kehancuran peradaban manusia di belahan bumi ini, seakan sulit untuk menafikan andil dari umat yang selalu mengingkari semua utusan Tuhan tersebut. Henry Ford dalam bukunya ”The International Jew” mengungkapkan semua kekuatan Yahudi Internasional yang menggurita dan sekaligus menjadi alat kejahatan mereka terhadap puak lain di dunia ini. Karena menariknya buku Henry Ford itu, Geral L.K Smith dalam penutup prakatanya di buku tersebut sampai mengungkapkan ”setiap pembaca mustahil akan menolak logika Henry Ford, dan saya sepakat sepenuhnya dengan Henry Ford bahwa Amerika dan dunia membutuhkan pengetahuan tentang hakikat Yahudi, dan hakikat itu telah membebaskan kita dari segala kejahatan dan bahaya yang timbul dari kegiatan dan segala aktifitas permusuhan Yahudi”.

Barangkali dari sini, sebuah pertanyaan bergolak dalam benak seorang pemikir muslim, Mohd Thahir Ulwani. Dalam tulisannya yang berjudul”Gaza wa Khitab al-Malhamiyah Al-Quraniyah Li Bani Israel”. Ulwani menulis, mengapa banyak sekali ulasan Al-Quran yang berkaitan dengan Bani Israel, yang mengesankan bahwa seolah mereka mendapat prioritas bahasan dalam Al-Quran. Ulwani beranalogi bahwa banyaknya ulasan Al-Quran tentang Bani Israel serupa dengan banyaknya ulasan Al-Quran tentang Iblis. Keberadaan Iblis dihadapkan pada posisi konfrontatif dengan nabi Adam. Begitu juga dengan Bani Israel yang berada pada tempat konfrontasi dengan umat Islam. Dua kelompok yang popular tadi (Iblis dan Bani Israel) merupakan tamsil kebiadaban yang selalu berada dalam posisi kontra dengan golongan Adam dan umat muslim. Karena keduanya berusaha menginvestasikan idealitas kebenaran dalam realitas umat manusia.

Sekiranya interpretasi Ulwani di atas ”patut” dijadikan sandaran, maka peta damai antara umat muslim Palestina dan Israel hanya mampu terwujud dalam dunia ilusi yang tidak pernah konkret. Perdamaian yang diobralkan pihak Zionis Israel dan pelbagai negara sekutu karibnya (Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa) hanyalah perdamaian yang licik dan timpang, karena hanya berpihak kepada kemaslahatan Zionis Yahudi semata. Hal ini karena, logika dari kekacauan di kawasan Arab sekarang yang sejatinya adalah problematika Palestina telah disulap oleh Zionist Yahudi menjadi persoalan bagi Israel. Artinya, perdamaian di kawasan Palestina disebabkan karena ketidaknyamanan Isreal yang selalu dimusuhi Palestina, bukan sebaliknya. Padahal faktanya sangat antagonis, ketidaknyamanan, banyaknya pengungsi rakyat Palestina disebabkan oleh bercokolnya Zionis Israel di tanah Arab tersebut.

Bertolak dari titik ini, semua pemimpin dunia faham, dan lensa sejarah sudah merekamnya, bahwa keberadaan Israel di Palestina bukan akibat, tapi sebab dari ketidakharmonisan dan peperangan antar anak manusia di tanah suci sana. Akan tetapi, dalam realitas opini kekinian, seolah ranah ”akibat” lah yang mesti diselesaikan, dengan bersikap acuh terhadap sebab dari persoalan waqi’nya.

Dari realitas di atas, nampaknya arah terminal damai yang dituju melalui kendaraan diplomasi yang selama ini dijadikan softpower, dan andalan oleh pelbagai pihak yang mengagungkan kata damai, hanya ruang waktu bagi Israel untuk membuat kehancuran selanjutnya atas Palestina. Dengan demikian, eksistensi Hamas sebagai Organisasi Perlawanan (Al-harakah al-muqawamah) bagi Umat Islam Palestina merupakan hal mesti ada. Entitas Hamas yang lahir dari rahim gerakan pembebasan merupakan jawaban yang tegas dan terhormat bagi Israel dan sekutunya. Dengan slogan ”al-intisar aw al-syahadah” yang berarti menang atau syahid, setidaknya Hamas telah menunjukkan bukti slogan tersebut dalam perang tiga pekan dalam medan laga di Gaza.

Tidak banyak yang mengetahui, bahkan banyak yang menganggap sumir, bahwa dalam perang yang disebut Hamas dengan al-furqan di Gaza tersebut, tenyata mendulang kemenangan. Di atas catatan kertas dan hitungan angka kekuatan, rasanya anggapan mustahil kemenangan Hamas sangat mewakili rasionalitas. Akan tetapi, terkadang kemenangan tidak melulu berdasarkan kekuatan fakta hitungan angka. Kemenangan Hamas agaknya menempati urutan irasionalitas kekuatan angka tadi, layaknya yang pernah terjadi dalam perang Badar dan Hunain.

Dalam pernyataan resmi Hamas, seperti yang dilansir media TV Aljazera, Brigade Al-Qassam telah menumpaskan tentara Zionis tersebut sebanyak 131 orang, di samping ratusan yang luka-luka dan cedera. Juga pasukan Al-Qassam telah menghancurkan puluhan tank baja Israel, menjatuhkan pesawat tempur dan pengintai. Sebaliknya korban dari Brigade Al-Qassam belum terdengar jumlah korbannya, melainkan hanya syuhada rakyat sipil yang jumlahnya sudah ribuan orang yang terdiri dari anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia. Dari data ini disimpulkan bahwa perang Gaza dimenangkan oleh Hamas, mengingat jumlah korban yang berperang (tentara) dan peralatan perang, jelas Zionis Israel lebih banyak jumlahnya. Kemudian, dari target yang selama ini didengungkan Israel untuk membasmi gerakan Hamas terbukti gagal total. Faktanya, sampai saat ini, Hamas tetap menjadi sebuah kekuatan yang solid dan bahkan menjadi prototype perjuangan umat manusia, khususnya umat muslim terhadap kebiadaban Zionis Israel.

Kemenangan Hamas (Brigade Al-Qassam) ini jelas tragedi memalukan sekaligus memilukan bagi Israel dan sekutunya. Bagaimana tidak, upaya yang dilakukan Israel untuk melumpuhkan Hamas bukan hanya saat menghujani bom-bom di tanah Gaza. Akan tetapi semenjak lahirnya Hamas dalam sebuah gerakan perlawanan menghadapi Israel. Para pemimpin Hamas di penjara, rakyat mereka di embargo, namun semua itu bukan membuat mereka lemah. Justru cobaan itu menjadi vitamin yang selalu menambah vitalitas perjuangan. Inilah kekuatan yang pernah di ungkapkan Rantisi ”bagi kami (Hamas), mati karerna sakit jantung dan mati karena serangan Apache adalah sama-sama mati, tapi mati karena serangan Apache lebih kami cintai”.

Perang Gaza, selain menjadi potret ketangguhan keimanan bagi Hamas, juga menjadi parameter ketersentuhan nurani bagi manusia beradab. Kebiadaban Israel terhadap rakyat Palestina, khususnya di Gaza menjadi cemeti berharga, masih adakah nurani kemanusiaan itu berdenyut dalam lubuk hati para pembela Zionis, utamanya mereka yang selama ini memuja HAM? atau dalam perpsepektif internal umat, seperti ungkapan Syeikh al-Syuraim, Imam Masjid Haram ”Ribuan umat Islam Gaza Palestina dibantai, dan kematian mereka telah mengungkapkan bahwa ada ribuan muslim yang berhati Yahudi”. Semoga kita tidak termasuk golongan yang disebut Imam Masjidil Haram tersebut. Wallahu alam.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hermanto Harun
Lahir di Batu Penyabung Sarolangun Jambi. Mengabdi kepada negara sebagai tenaga pengajar di beberapa institusi Pendidikan di Jambi. Dosen Fak Syariah IAIN STS Jambi. Alumni Ph.D National University of Malaysia. Dosen Pascasarjana & Kepala Pusat Penetian dan Penerbitan IAIN STS Jambi.

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini