Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Daya Pikat Guru

Daya Pikat Guru

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Pesona dan daya pikat guru bukanlah terlihat dari kecantikan atau ketampanan wajahnya seperti halnya para artis dan aktor layar perak yang mengandalkan rupa atau wajahnya sebagai pesona dan daya pikat bagi penggemarnya. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia mereka, semakin pudar pula pesona dan daya pikat dirinya bagi penggemarnya.

Pesona dan daya pikat guru tidak ditentukan oleh harta yang banyak dan kekayaan yang melimpah sebagaimana harta dan kekayaan yang dimiliki oleh pengusaha yang sukses (konglomerat ). Melahirkan decak kagum bagi banyak orang apalagi ketika mereka peduli pada masyarakat dengan memberikan bantuan berupa sembako yang diliput luas oleh media massa untuk menyiarkan “kedermawanannya”. Namun ketika dia tidak lagi kaya raya atau tidak lagi beraksi di depan kamera maka mereka seperti tidak ada lagi, hilang dalam ingatan banyak orang yang dibantunya selama ini.

Pesona dan daya pikat guru tidak disebabkan oleh jabatannya yang tinggi dan pangkatnya yang selalu menjulang seperti halnya para jenderal yang menyandang “bintang” di pundaknya, menunjukkan kehebatan dan keperkasaan dirinya. Hal ini menjadi pesona dan daya pikat bagi sebagian orang untuk bisa meraih “titel agung” itu walaupun dengan berbagai cara. Orang semacam ini tidak lagi dihormati dan disanjung tinggi setinggi bintang di pundaknya ketika masa pensiunan menghampiri hidupnya atau ketika bintangnya tidak lagi bersinar terang.

Namun pesona dan daya pikat guru tergambar dari kepribadiannya, sikap perilaku yang menghiasi hidupnya, dan keteladanan yang mempesona. Dengan demikian guru mampu mengambil hati anak didik, bersama-sama merakit masa depan mereka meraih prestasi gemilang, sukses dunia sampai ke akhirat. Apabila hal ini dapat diperankan oleh guru secara maksimal maka mereka layak menjadi “ Sang Idola“, guru yang didengar kata-katanya, dicontoh perbuatannya, ditunggu kehadirannya, tampil sebagai figur utama dalam diri anak didik sehingga dirinya dicintai anak didiknya sepanjang masa, sekalipun jasadnya sudah berkalang tanah, namun karya dan jasanya akan tetap terkenang selama-lamanya sampai dunia menutup usia.

Dalam dunia pendidikan keteladanan guru memang sangat penting. Keteladanan merupakan aspek yang menentukan dalam keberhasilan suatu pendidikan. Betapa pintarnya seorang guru menyampaikan pesan kebaikan atau pelajaran pada anak didiknya, namun apabila tidak diikuti dengan keteladanan maka hasil yang diperoleh tidak akan maksimal. Sebaliknya seorang guru yang memberikan keteladanan pada anak didik, pengaruhnya sangat besar dan mengesankan, memudahkan anak didik untuk memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Oleh karena itu seorang guru harus dapat menjadi teladan bagi anak didiknya sehingga memudahkan mereka untuk melaksanakan kebaikan dan mempraktekkan ilmu yang telah guru berikan padanya. Guru harus mampu mengambil hati anak didik dengan keteladanan yang nyata, apabila ini sudah dapat diperankan oleh guru dengan sempurna maka guru akan dapat tampil sebagai “ Sang Idola “

Sebagai pengokoh bagi dirinya, seorang guru harus mempelajari kesuksesan Rasulullah Saw dalam memerankan tugas kependidikan dan keguruan sekaligus menjadikannya teladan utama bagi guru dalam menunaikan tugas mulia ini. Rasulullah Saw telah memerankan tugas ini dengan baik dan benar sehingga berhasil mengantarkan umatnya sebagai Khairu Ummah (umat terbaik ) dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 3,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Asma Ditha)

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku

Organization