Home / Berita / Internasional / Asia / Gaza, Pejuang Hamas vs Yahudi Sedunia

Gaza, Pejuang Hamas vs Yahudi Sedunia

Serangan Militer Zionis Israel ke Gaza City.  (setkab.go.id)
Serangan Militer Zionis Israel ke Gaza City. (setkab.go.id)

dakwatuna.com – Jakarta. Dua pemuda AS itu datang ke Gaza dengan semangat Jingoisme khas Amerika seperti yang gampang kita lihat di film-film Hollywood. Sinis dan memandang remeh warga Arab Palestina, keji, dengan keinginan membuncah untuk menumpahkan darah.

Max Steinberg dan Sean Carmeli memang sempat memuaskan dahaga mereka akan darah: bersama tentara Zionis Israel keduanya membantai 70 warga sipil Palestina. Tetapi alih-alih menjadi laki-laki sebagaimana kehendak, keduanya mati konyol dihajar peluru serdadu Hamas dari Brigade Izzuddin Al Qassam di Shujaiya, kota yang bertetangga dengan Gaza City.Sampai keduanya mati, tak seorang pun serdadu Hamas berhasil mereka jatuhkan.

Dunia sempat mendengar kematian keduanya, manakala pada 20 Juli lalu Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan kematian kedua relawan untuk Israel itu. Kematian yang segera membuka mata dunia bahwa yang dihadapi Hamas tidaklah hanya Israel, melainkan tak kurang dari 40 negara yang membiarkan warganya jadi relawan untuk membantai warga Gaza.

Benar, Steinberg dan Carmeli hanya contoh kecil dari ribuan warga dunia yang datang membantu Israel. Press TV Iran, baru-baru ini melaporkan, lebih dari 5.000 warga negara-negara Eropa dan AS datang ke Israel dan berpartisipasi dalam serangan dan pembantaian di Gaza yang masih berlangsung. Para relawan itu oleh Israel disebut sebagai ‘mahal’relawan.

“Banyak diantara mereka bekerja untuk angkatan bersenjata Israel, untuk sekitar 18 bulan atau lebih. Asumsinya, mereka terlibat dalam operasi yang berlangsung di Gaza,” kata Charles Shoebridge, seorang analis keamanan kepada Press TV. Shoebridge mengatakan, badan-badan PBB yang berkiprah di Gaza melihat para ‘mahal’ itu potensial menjadi para penjahat perang.

Menurut Shoebridge, perekrutan Mahal itu berlangsung terus secara periodik. Biasanya, selain pendaftaran via jaringan, militer Israel datang ke negara-negara Eropa dan AS, membuka lowongan untuk sukarelawan. Targetnya biasanya para pemuda keturunan Yahudi dengan usia di bawah 25 tahun untuk pria, dan di bawah 21 tahun untuk wanita.

Pada Mei lalu, misalnya. Sebulan sebelum Jalur Gaza dibombardir, komunitas Yahudi di Paris, Prancis, kedatangan wakil militer Israel. Tidak ada kabar berapa Yahudi Prancis yang berhasil direkrut. Yang pasti, wakil Israel itu melakukan perekrutan Mahal.

Seorang kandidat PhD dari Universitas Columbia, New York, AS, Hanine Hassan, memperkirakan, setiap tahun ratusan relawan dari 30 negara bergabung ke dalam Angkatan Bersenjata Israel. Mereka bertugas di berbagai lapangan, termasuk melakukan pembantaian di Gaza saat ini.

Yang pasti, kalau hal ini tak banyak tersiar di media massa, itu bukan karena berbagai otoritas resmi di berbagai negara tak mengetahuinya. Badan-badan intelijen banyak negara Eropa menutup mata.

Jangankan proaktif, berbagai lembaga resmi negara-negara Eropa malah menutup mata dan telinga. Pada 2009, Baron Ahmed dari Rotherham sempat mempertanyakan hal itu kepada House of Lord, bagian dari Parlemen Inggris. Skeptisisme Baron Ahmed hanya dijawab dengan diplomatis.

Bandingkan dengan yang terjadi tahun ini, manakala Parlemen Inggris — dalam laporan setebal 246 halaman — memaparkan banyaknya Muslim Inggris yang berjuang di Suriah, Somalia, dan Afghanistan. Tak ada dalam dokumen itu disebut-sebut adanya warga Inggris yang bertempur untuk Israel.

Kini kita melihat sebuah negara yang berupaya merdeka di gempur sebuah negara adi daya—pemilik aneka senjata mutakhir, termasuk peluru kendali berkepala nuklir. Belum cukup itu, negara adi daya bernama Israel itu juga dibantu sekian ribu relawan dari berbagai negara.

Semua dilawan para pejuang Hamas. Yang kian sendirian, terkucil dari mereka yang agamanya menegaskan bahwa Muslim dengan Muslim itu, sesungguhnya bersaudara. Para Muslim, yang lima kali sehari semalam berdoa untuk Palestina, sembari menutup mata dan telinga.  (inilah/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,77 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Erdogan Buktikan Eropa Mendukung Teroris