Home / Berita / Opini / Kita vs Kita

Kita vs Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wordpress.com/reconia4training)
Ilustrasi (wordpress.com/reconia4training)

dakwatuna.com – Islam yang dulu bukanlah yang sekarang
Dulu bersatu, sekarang saling serang
Dulu dulu dulu kita berjaya
Sekarang entah gimanaaa
(Edited: Tegar – Aku yang dulu bukanlah yang sekarang)

Ini mungkin sedikit gambaran kondisi umat Islam yang sekarang. “Umat muslim itu ibarat satu tubuh, jika ada satu bagian yang merasakan sakit maka bagian tubuh yang lain pun akan merasakan sakitnya pula”. Saya merasa pepatah ini semakin lama semakin hilang. Tidak sedikit umat Islam sekarang justru saling menyakiti saudara seimannya, sering sekali terjadi pergesekan yang terjadi dalam umat Islam sendiri.

Jika kita mau sedikit berdiam sejenak dan berpikir, maka kita akan tersadar bahwa banyak faktor yang menyebabkan masalah umat yang satu ini. Mulai dari keimanan, pemahaman akan Islam itu sendiri, gempuran perang pemikiran yang begitu hebat, dan lain sebagainya. Namun pada tulisan ini saya mencoba fokus pada beberapa kondisi gesekan yang paling umum terjadi.

Harakah vs Harakah

Gesekan pada umat Islam yang cukup sering terjadi adalah perdebatan antara bentuk pergerakan Islam, Harakah Islamiyah (seperti: Salafi, Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, dan lain-lain). Harakah-harakah Islamiyah adalah bentuk kebaikan yang terorganisir agar umat Islam dapat terbina secara baik. Pemicu yang sering muncul dari masalah ini adalah rasa lebih benar/baik suatu harakah dibandingkan harakah yang lain. Sebenarnya ini hanya terjadi dikalang para “recehan” dari masing-masing harakah, orang-orang yang masih minim akan ilmu namun terlalu semangat dalam berdakwah. Ibarat uang koin recehan, jika sedikit saja saling berbenturan, berisik lumayan nyaring.

Berbeda dengan uang 50 ribuan atau 100 ribuan –orang yang berilmu– yang jika bergesekan tak ada suara yang timbul karenanya. Mereka saling menyadari dan menghargai perbedaan yang terjadi, mereka sadar perbedaan yang terjadi bukanlah dalam hal aqidah atau hal-hal dasar tentang Islam, tapi hanya sebatas perbedaan cara bagaimana mereka dalam menyampaikan Islam ke masyarakat luas. Tujuan mereka hanyalah menyampaikan kebenaran dan kebaikan Islam demi membina umat.

Dampak yang timbul dari masalah ini, membuat kita membuang-buang waktu, membuang tenaga kita untuk sesuatu kurang prioritas, seharusnya kita bisa menggunakan waktu dan tenaga kita untuk menyampaikan Islam ke masyarakat luas. Masih banyak masalah yang perlu kita selesaikan di umat Islam kini yang bisa diselesaikan jika kita bersama. Selain itu, gesekan antar harakah ini juga sering membuat orang awam yang asing dengan hal ini bingung dengan perdebatan di antara kita, yang akhirnya terkadang membuat mereka menjauh dari Islam.

Dai vs Umat

Pergesekan yang juga sering terjadi dalam umat Islam saat ini adalah perdebatan antara orang-orang yang aktif menyeru kepada Islam (dai) dengan orang awam. Dai adalah orang-orang yang sadar bahwa sebagai seorang muslim sudah seharusnya saling mengingkatkan dalam kebaikan, umat Islam awam adalah orang-orang yang –mungkin– masih sedikit pengetahuannya tentang Islam.

Faktor utama yang menjadi masalah ini adalah keterbatasan kita sebagai manusia. Dai bukanlah para malaikat yang luput dari dosa dan kesalahan, tidak memiliki kekurangan dan kekhilafan, ini yang mungkin membuat orang awam enggan mendekati Islam. Orang-orang awam yang melihat mereka dengan segala kekurangannya, akhirnya tidak dapat melihat keindahan Islam. Satu pepatah yang menggambarkan kondisi ini, “Pada dasarnya, Islam itu penuh dengan keindahan dan kebaikan, tapi mungkin karena kita –yang menyampaikan Islam– yang tidak indah dan tidak baik, menjadikan Islam terlihat tidak indah dan tidak baik”.

Sebagai orang awam pun tidak ada hak untuk saling menghakimi manusia. Hal yang sering terjadi adalah, umat yang membenarkan, umat juga yang menyalahkan. Sebagai contoh, saya yakin ustad-ustad, anak-anak rohis, dai-dai, tidak pernah menyatakan diri sebagai seorang yang paling baik imannya, paling benar akhlaknya dan paling banyak ilmunya, tetapi justru masyarakat sendiri yang secara tidak langsung “mencap” mereka dengan demikian. Dan lucunya ketika mereka –ustad, anak rohis, dai– melakukan kesalahan, justru masyarakat sendiri yang menghakimi, dengan kata-kata, “masa anak rohis masih pacaran??”, “masa ustad poligami??”, “masa ustad curhat di twitter??”, “masa dai gak tau??”, dan banyak perkataan lain yang seolah-olah masyarakat berpikir mereka bukan seorang manusia, yang tidak bisa berbuat salah dan khilaf, mereka adalah malaikat yang luput dari dosa dan salah. Pada hakikatnya, mereka hanyalah orang-orang yang mengajak orang lain untuk memperbaiki diri sembari memperbaiki diri mereka sendiri.

Sudah seharusnya kita menyadari kembali bahwa fitrah kita adalah sebagai manusia, baik dai, ustad, anak rohis, preman, anak band, atau label apapun yang ada di masyarakat. Kita sebagai manusia pastinya punya “bakat” kebaikan dan keburukan pada diri kita. Bukan saling menyalahkan atas kekurangan dan kesalahan dari masing-masing diri kita, tapi saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaranlah yang seharusnya kita lakukan.

Hal yang ingin saya tekankan pada pembaca –terutama umat Islam awam– adalah harakah-harakah yang ada tidak lain tidak bukan hanyalah bentuk kebaikan yang terorganisir agar dakwah Islam dapat sampai ke semua umat Islam, agar umat Islam dapat seperti dulu. Kalaupun ada keburukan ataupun kekurangan ketika menyampaikan, itu sudah menjadi fitrah kami sebagai manusia. Silakan perbanyak sumber ilmu untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya, karena saya pun menyadari masih banyak kekurangan dari apa yang saya sampaikan diatas. Dan bagi para dai, teruslah berdakwah sambil meningkatkan kualitas ke-Islam-an kita, janji Allah bagi orang-orang yang menyeru kepada Islam sungguh luar biasa.

Faktor masalah yang telah disebutkan di atas masih dari dalam umat Islam itu sendiri, ada faktor dari luar umat Islam yang juga memiliki pengaruh besar dalam masalah umat Islam diatas dan masalah umat Islam yang lainnya. Seperti JIL (Jaringan Islam Liberal), Syi’ah, Ahmadiyah, dan sejenisnya. Ini bukanlah harakah Islamiyah (silakan cari sumber lain untuk mengetahui tentang harakah-harakah Islamiyah) tetapi sebenarnya itu adalah sesuatu yang berada di luar Islam dan bertentangan dengan Islam, yang berarti sesat. Atau hal lain seperti orang-orang munafik, orang-orang kafir yang memerangi Islam, dan lain sebagainya, yang secara kasat mata mungkin tidak terlihat dalam kehidupan kita, tapi tanpa kita sadari mereka sedang menggempur habis pemikiran-pemikiran kita. Insya Allah, jika ada kesempatan dan keluangan saya akan mencoba menyampaikan di lain waktu.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
FT-UI 2011.

Lihat Juga

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia