Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tentang Makna Sebuah Cita

Tentang Makna Sebuah Cita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (flickr.com/photos/lordv)
Ilustrasi. (flickr.com/photos/lordv)

dakwatuna.com Tentang sebuah cita, agar menjadi lebih indah, ia masih harus ditempa dengan berbagai aral dan ujian.
Ketergesaan ini, tak seindah penatnya penantian, jika ia mekar sebelum saatnya, kemudian layu dan tanggal begitu saja, menyisakan sesal dan kecewa.

Panjang perjalanan yang ditempuh, lelah penantian yang ditunggu, sedang ia tak kunjung mekar. Tetapi kesabaran ini, keteguhan ini, mesti tetap utuh terjaga sampai tiba saatnya, sampai saat yang tepat untuk mekar, agar ia menjadi buah yang baik.

***

Bukan benalu, tanpa sempat menjalani masa-masa sulit, tak pernah terseok-seok, tak pernah terinjak-injak. Menjulang di ketinggian, bertengger dengan gagah, menebar angkuh. Namun setiap saat ia bisa dipetik oleh pemilik pohon, terbuang hina ke tanah. Atau mungkin ia akan roboh bersama tumbangnya pokok pohon, tanpa mampu mendapatkan sesuatupun.

Bukan peliharaan, tumbuh subur tanpa perlu bersusah payah. Dirawat, disiangi dan disirami, dilindungi dari gulma dan hama yang mengganggu. Namun kemudian ia dipetik oleh pemilik pada saatnya.

Bukan rangkaian bunga, indah tertata, menempati tempat kehormatan. Tapi kemudian layu terbuang, menjadi onggokan sampah tak berharga, tanpa menyisakan kemuliaan.

***

Awalnya hanya seperti sebutir biji kecil yang tak dianggap, terbawa angin tanpa arah. Namun di dalamnya telah tersimpan sebuah cita yang luar biasa. Meski tak tampak, tetapi telah tertulis rapi dalam DNA yang dikandungnya, tentang takdir sebuah benih pohon sejati.
Malang, tersisih, lemah. Bersemai di sela-sela rumput, terinjak, terseok. Berbalut kesulitan, berkubang rintangan, tapi ia terus tumbuh. Sempat patah, tapi selalu menyisakan tunas. Terkadang harus lelah menanti, terkadang harus kukuh menyimpan.

Perlahan ia menggeliat, menyingsingkan keangkuhan rumput, menembus kesombongannya. Bahkan tak cukup sebatas semak, tak puas menjadi perdu, ia terus menjulang, melampaui, merendahkan semuanya, melambai, menjadi naungan yang kokoh.

Batangnya menjulang, akarnya menghujam, tapi lebih dari itu, sejengkal demi sejengkalnya, semuanya tersusun dari kisah-kisah yang bermakna. Hingga ia mengerti makna sakit dan perih yang selama ini menimpa, yang tak mungkin ia dapatkan andai benih itu jatuh terhanyut ke sungai atau tumbuh dalam sebuah pot kecil menjadi bonsai.

***

Cita ini bukan cita sembarang. Jalan yang dilewati berliku-liku, rintangan yang dihadapi bukan aral biasa. Sedikit yang bisa menempuhnya, menjadikannya berharga. Perjalanan yang harus dilalui mungkin teramat panjang, terkadang ia terhenti, terkadang harus memutar, bahkan terpaksa harus mundur. Namun cita ini harus tetap terjaga, harus berlanjut sampai pada puncaknya, tak tergoda oleh cita-cita rendahan, yang telah nyaman singgah di tempatnya.

Terlalu banyak dikecewakan, terlalu sering menerima kenyataan pahit, saat mendapati kepincangan dunia. Tapi kesabaran harus tetap utuh, keyakinan mesti terjaga, meski harus berkali-kali menembus rintangan, tergores di antara berbagai benturan. Agar kezhaliman berganti pertolongan, tipu daya berbuah kemenangan, membuat rangkaian cerita yang tersusun semakin indah, dan bila saatnya tiba, ia berwujud dengan sempurna.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ilustrasi - Petani. (inet)

Imam Hasan Al-Banna, Ustadzul Alam, dalam Cita Petani

Organization