Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Berjalan di Atas Cahaya

Berjalan di Atas Cahaya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul: Berjalan di Atas Cahaya
Pengarang: Hanum Salsabiela Rais, Tutie Amaliah dan Wardatul Ula
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: xii+210 halaman
Cetakan ke-5: Oktober 2013
ISBN: 978-979-22-9359-3
Harga: Rp. 50.000,-

Cover buku "Berjalan di Atas Cahaya".
Cover buku “Berjalan di Atas Cahaya”.

dakwatuna.com – The Agent of Change

Novel 99 Cahaya di Langit Eropa mendulang kesuksesan besar dan banyak menyita perhatian masyarakat. Novel ini bahkan diangkat ke dalam film layar lebar yang menelan biaya 15 milyar untuk sekuel pertamanya dan dilanjutkan dengan sekuel ke-2 yang telah dinantikan oleh para penikmat film.

Buku Berjalan di Atas Cahaya karangan Hanum Salsabiela Rais dkk, merupakan terusan dari novel sebelumnya yakni 99 Cahaya di Langit Eropa tersebut. Buku ini dibuat karena tingginya antusias dari pembaca mengenai keadaan muslim di Eropa. Tidak seperti buku sebelumnya yang berisi perjalanan penulis untuk mencari jejak-jejak kebesaran Islam. Pada buku ini, penulis menguak nilai-nilai Islam yang ditemui di benua biru seperti kejujuran, ketulusan dan kecerdasan. Penulis ingin meyakinkan pembaca bahwa agama tidak disebarkan melalui pedang dan perang melainkan budi pekerti yang luhur.

Kita tengok saja kisah yang dituturkan oleh Hanum ketika berkunjung ke Neerach, Swiss. Markus, seorang mualaf yang ingin ditemui Hanum untuk keperluan wawancara memintanya menunggu di kedai bunga yang “aneh”. Dalam kedai itu, hanya ada lampu penerang yang usang. Kedainya pun sangat sederhana, dirakit dari papan kayu, lalu dipaku sudut-sudutnya. Persis kedai penjual rokok atau bensin di tepi jalan raya Indonesia (Hal.41). Bedanya, di kedai bunga itu tidak ada penjual yang menunggu. Pembeli membayar barang yang dibeli dengan langsung meletakkan uang pada kaleng yang disediakan. Jika ada kembalian, tinggal ambil sendiri di kaleng yang lain. Dan jika tidak ada uang tersedia dalam jumlah yang diinginkan, pembeli cukup menulis nama dan alamat pada notebook yang disediakan, uang kembalian pun akan diantarkan oleh penjual ke alamat yang dituliskan. Sungguh praktik kepercayaan luar biasa. Bagaimana mungkin orang-orang Swiss menerapkan syariat Islam tanpa membubuhkannya pada konstitusinya? (Hal.44)

Adapun praktik ketulusan, dikisahkan oleh Tutie Amaliah-penulis kontributor. Dalam penerbangan ke Wina untuk menyusul suami tercinta, dia bertemu dengan seorang pendekar bercadar. Dari atas pesawat sampai di Bandara Wina, banyak pertolongan yang diperoleh Tutie. Salah satunya, wanita tersebut rela bertukar tempat antri dengan Tutie. Alasannya sederhana,karena petugas Bandara ‘senang’ dengan orang bercadar. Jadi, dia pasti akan diperiksa lebih lama (Hal.83). Hal itu akan membuat Tutie lebih lama menunggu. Sedangkan Tuti, harus menunggu bersama dengan malaikat kecilnya yang baru berusia 6 bulan.

Ketulusan dan keikhlasan hati sangat terasa ketika membaca kisah ini. Tutie menuliskan “Sungguh saya ingin kembali kepada para petugas di imigrasi, mengatakan bahwa orang yang mereka tahan lama-lama hanya karena bercadar adalah pendekarnya hari ini. Dia adalah orang baik, telepas seperti apa penampilan fisiknya. Cadarnya tak merintanginya berbuat baik kepada orang yang belum dikenalnya, bahkan tak peduli apa agamanya. Hubungan manusia, ber-hablum minannas-lah, yang mendasarinya memberikan tangan untuk sesama” (Hal.88).

Kisah lain yang tak kalah menarik adalah kisah Rangga, suami Hanum. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, melalui game theory yang dimainkannya, Rangga berhasil mengecoh teman-temannya dan memperoleh keuntungan 415 euro. Jumlah yang fantastis. Namun, Rangga tidak menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadinya melainkan disumbangkan pada organisasi remaja dan muda-mudi Muslim Linz (LMJÖ).

Selain kisah-kisah di atas, terdapat 14 kisah lain yang dirangkai secara apik dan apa adanya. Semua kisah tersebut sederhana namun sarat akan makna. Banyak kejutan-kejutan yang diberikan oleh penulis dalam buku ini. Sebagaimana kejutan dalam buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Kejutan dalam buku ini juga membuat pembaca tercengang dan kagum.

Namun, ada beberapa bagian dari buku ini yang membuat saya bingung. Beberapa kata tidak disertai dengan artinya. Seperti kata sayuk dan guyub. Pembaca yang awam dan di luar daerah Jawa seperti saya, tentunya akan bingung ketika membaca istilah ini. Begitu pula dengan beberapa kata lain yang terdapat dalam buku ini. Sebaiknya diberikan catatan kaki untuk lebih memahamkan pembaca maksud dari penulis. Selain itu, pada tulisan “Tanya Namanya, Dengarkan kisahnya” agak membuat saya mengerenyitkan dahi. Pasalnya, ditengah tulisan pembaca tiba-tiba dilemparkan ke kisah yang lain, kemudian direkatkan kembali dengan tiba-tiba pula.

Meskipun demikian, cela yang dimiliki buku ini, tidak menjadikan manfaatnya berkurang sedikit pun. Membaca kisah lembaran demi lembaran dalam buku ini akan membuat kita menyadari, bahwa keluhuran budi merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang agent of change.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Azadinda
Seorang guru yang senang menulis semenjak di bangku sekolah, menjadikan Rasulullah panutan dalam tiap sendi kehidupan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (vm-kompania.com)

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia

Organization