Home / Pemuda / Cerpen / The Real Superman Wanna Be

The Real Superman Wanna Be

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (presbydestrian.wordpress.com)
Ilustrasi. (presbydestrian.wordpress.com)

dakwatuna.com “Ayo dong, Her! Masa baru poi ke-20 saja sudah buntu?” Ucap Heru yang sedari tadi duduk di kursi dekat meja belajar, terlihat geram menyemangati dirinya sambil memijit dahinya dengan kedua tangannya. Jemarinya kaku, peluhnya mulai menganak sungai di dahi dan beberapa sendi tubuhnya, ketika ia berusaha untuk menuliskan cita dan impian hidupnya di sehelai kertas, efek dari mata kuliah kewirausahaan, saat sang dosen meminta setiap mahasiswa membuat rancangan masa depannya dengan membuat proposal kehidupan. Saat runtutan harapan akademik sudah berbaris mengisi separuh ruang kosong di sehelai kertas yang sejak tadi digenggamnya, Heru seakan belum memiliki tujuan lain selepas masa kuliah nantinya. Lulus dengan IPK 4.00, sudah. Ingin menjadi mahasiswa berprestasi, sudah. Ingin melanjutkan studi ke luar negeri, juga sudah. Kini ia buntu. Nafasnya terengah, matanya menerawang ke arah langit-langit kamar, seolah mencari jawaban yang mungkin saja terselip di antara celah-celah lubang kecil di atap kamarnya, menembus ke arah langit pagi yang mulai malu-malu membiaskan sinarnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Heru mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah. Ia bersigap melangkahkan kaki menuju salah satu ruang kuliah di Fakultas tercinta. Setibanya di kelas, Heru segera memilih kursi kuliah angker yang biasanya dihindari oleh mahasiswa yang rawan tertidur atau datang kuliah hanya untuk sekedar mengisi daftar hadir. Ya tepat, di depan meja dosen. Saat itu kursi kelas belum terisi penuh oleh insan-insan pemburu ilmu yang lain. Matanya menyapu sekitar ruangan dan tertuju pada seorang laki-laki yang saat itu mengenakan baju batik berwarna biru redup. Laki-laki itu duduk di deret kursi kuliah kedua di kelas itu. Laki-laki yang selalu menyedot kecemburuan dalam batin Heru. Sesosok laki-laki yang dikenal Heru bukanlah orang yang lebih pintar dan lebih cerdas darinya, namun selalu memiliki seribu satu macam cara untuk mengungguli dirinya. Setiap hal yang bersumber dari laki-laki itu seakan selalu bernilai penting di mata teman-temannya. Mulai dari kepribadiannya yang membuat setiap orang ingin mengenalnya, keramahan sifatnya yang membuat nyaman orang-orang di sekitarnya, kepekaannya untuk selalu membantu teman-temannya dari jerat persoalan, kepiawaiannya untuk menempatkan diri di kancah pergaulan ataupun organisasi yang digelutinya, bahkan sampai humornya yang renyah di telinga teman-temannya hingga membuat siapapun yang sedang badmood akan menyempatkan diri untuk sekedar menyunggingkan beberapa centimeter lekuk bibirnya. Dialah Sofyan, laki-laki yang selalu membuat Heru merasa terganggu dengan kehadirannya. Terlebih lagi karena ia sudah merasa melakukan hal yang di matanya sama selama ini, namun mendapatkan respons yang berbeda. Mulai muncul tanda tanya besar dalam hati Heru, “Mengapa?”

Sisi egoisme dalam dirinya mulai menguapkan prasangka-prasangka. Pikiran-pikiran negatif mulai merapat dan menyeruak ke permukaan. Sebagai pemilik estafet juara kelas di silsilah pendidikan yang digelutinya, Heru merasakan kejanggalan dalam pergaulan sepeti ini di masa kuliah. Dahulu saat masih duduk di bangku SMA, semua fokus perhatian dan pujian guru serta teman-teman tertuju padanya, yang terkenal sebagai penyelamat piala-piala bergilir dalam lomba asah ketangkasan mulai dari tingkat daerah sampai internasional. Ibarat bola matahari, ia tengah berada dalam titik nadir. Dalam hatinya ingin bangkit, keluar dari zona kesendirian yang lama-kelamaan menyita aura semangat dalam dirinya. Satu hal yang terpikir olehnya kala itu adalah ia harus berguru pada Sofyan secara langsung. Namun tentunya Heru merasa gengsi. Ia berpikir apa yang akan dikatakan pemuda itu jika tahu, seorang Heru, sang master ilmu pengetahuan meminta diajarkan jurus pergaulan. Sungguh, tragedi di atas tragedi.

Kuliah hari itu pun selesai. Sekitar pukul 16.00 WIB, Heru bergegas ke kantin kampus untuk memanjakan perutnya yang sejak tadi sudah mendendangkan bunyi-bunyian tak jelas karena menuntut haknya untuk segera diisi. Tak disangka-sangka, di kursi sudut kantin, Heru melihat Sofyan yang engah duduk sendiri sembari melahap mantap makanannya. Ia seperti mendapat semilir angin surga. Langkahnya gamang dan bingung, namun nurani seakan menyeret langkahnya untuk menghampiri pemuda itu. Sorot mata Heru kosong menyiratkan kegalauan. Berbelok sedikit ke tempat pemesanan makanan dan mengutarakan pesanannya kepada seorang Bibi pramusaji, tak lama Heru mendatangi kursi yang dihuni Sofyan. Dari kejauhan, Sofyan terlihat tersenyum sumringah seraya menarik kursi di sampingnya menyambut kedatangan Heru sambil terus asyik mengunyah makanannya.

“Sendirian saja, Bang?” Ucap Heru sedikit gugup sambil duduk di kursi yang telah dipersilakan Sofyan sebelumnya.

“Tadinya, kan sekarang sudah berdua sama kamu, Her,” ucap Sofyan dengan aksen Jawa yang khas sambil tersenyum manis.

“Hmm, kamu sudah mengerjakan tugas Sosiologi?” Tanya Heru perlahan. Sofyan menghentikan aktivitas makannya. Ia berhasil mengeruk habis sepiring ketoprak pedas dan segelas es teh manis yang terhidang di hadapannya.

“Sudah, Her. Mungkin nanti malam baru akan aku kirim ke email kakak asistennya,” ucap Sofyan sambil menyingkirkan piring makannya. Dari kejauhan, terlihat Bibi pramusaji Nampak membawa nampan berisi pesanan Heru. Kini bergantian Heru yang melahap hidangan pesanannya. “Sepertinya kamu sedang ada masalah, ya?” ucap Sofyan lembut sambil menatap Heru yang mulai menata sendok di tangannya untuk memulai makan. Heru tergagap mendengarnya.

“Hmm, Abang tahu saja kalau saya lagi ada masalah,” ucap Heru takjub sambil tidak mau kalah berbicara dengan aksen ala Betawi asli.

“Monggo cerita saja, Mas Heru. Siapa tahu aku bisa bantu,” ucap Sofyan tenang.

“Langsung saja mungkin, Bang. Kalau Abang tidak keberatan, saya mau minta tips jitu untuk sukses dalam pergaulan, Bang!” ucap Heru spontan.

“Tips pergaulan bagaimana, toh?” ucap Sofyan sambil mengernyitkan dahi, sebagai ekspresi kebingungan atas pertanyaan yang baru saja Heru lontarkan.

“Begini, Bang, saya itu suka cemburu melihat Abang dengan siapa saja bisa supel, banyak teman. Terkadang saya suka iri sama Abang yang gemilang di bidang akademik maupun pergaulan. Nah, saya maunya prestasi saya juga diimbangi dengan kecakapan saya dalam membina hubungan dengan orang lain, Bang. Sama seperti Abang!” tandas Heru mantap seperti aktor-aktor dalam dunia sinetron yang sudah menghafal naskah skenario. Namun kemantapan itu dibalas dengan gelak tawa Sofyan yang lepas beberapa saat. Hingga akhirnya ia mengatur nafas dan kembali serius.

“Jadi begitu, Her? Wah kalau yang itu aku ndak bisa bantu,” ucap Sofyan seakan memupus harapan, seraya memutar-mutar sendok gelas es teh kedua pesanannya.

“Lho kok begitu?”

“Hmm, kalau Mas pikir aku ahli dalam hal itu, Mas Heru salah. Aku mahasiswa ilmu sains terapan lho, Mas. Kalau Mas konsultasi sama dosen psikologi, mungkin itu baru tepat, Mas,” jawab Sofyan. Sofyan seakan tahu benar sosok seperti apa yang tengah dihadapinya. Ialah Heru, mahasiswa cerdas yang sedikit individualis.

“Wah, nggak begitu juga, Bang. Saya mau belajar sama Abang saja, karena saya yakin Abang bisa bantu saya,” paksa Heru.

“Hmm, Mas Heru tahu dari mana?” ucap Sofyan sedikit menguji. Heru pun terdiam. Pertanyaan yang seakan men-skak mati ucapan-ucapannya sejak tadi yang terkesan sok tahu. “Iya, sebenarnya aku mengerti maksud Mas Heru. Hanya saja, tadi itu Mas Heru terlalu berlebihan menilaiku. Modal aku dalam bergaul satu saja, Mas. Mencari dan memberi yang terbaik, seperti slogan kampus kita,” jelas Sofyan singkat.

“Nggak ngerti, Bang? Pakai penjelasan bumi dan analogi saja biar lebih mudah dicerna,” ucap Heru menangkis tegas.

“Jadi begini, Mas Heru. Niatku kuliah itu bukan hanya untuk mencari ilmu yang memang sudah menjadi harga mati untuk para mahasiswa seperti kita. Tapi aku juga mau mencari pengalaman, wawasan, relasi, dan banyak lagi. Jadi, kamu bisa terjemahkan sendiri maksudku,” tukas Sofyan lagi.

“Jadi, maksudnya bagaimana?” tanggap Heru dengan wajah penasaran.

“Oke, langsung saja ya Mas. Aku melihat sosok Mas Heru ini sosok manusia ideal, tapi untuk diri Mas Heru sendiri, bukan untuk orang lain,”

“Lho jelas Bang, kan saya kuliah memang untuk mengejar impian saya, bukan impian orang lain,” jelas Heru agak membangkang.

“Tapi menurutku ndak begitu juga, Mas. Mas Heru harus mau membuka hati, Mas kini ada di mana. Apa Mas yakin akan selamanya hidup sendiri dan tidak membutuhkan orang lain? Mungkin dari yang saya amati, Mas terlalu sibuk sampai ndak ada waktu untuk berbaur bersama teman-teman lainnya untuk berdiskusi. Tapi itu menurutku lho, Mas,”

“Bukannya saya nggak mau main, Bang. Tapi tugas kuliah saya menumpuk. Saya takut kewalahan kalau tidak dikerjakan langsung. Makanya saya jarang ada waktu untuk sekedar bermain,” jelas Heru sambil menyantap soto pesanannya.

“Hmm, mungkin saat Mas Heru dikejar deadline tugas dan laporan yang dikumpulkan dalam waktu dekat, Mas merasa menjadi orang paling sibuk di dunia. Saat ada yang meminta tolong kepada Mas, Mas terkesan ndak ada waktu. Padahal Mas, saat orang lain meminta tolong sama Mas, betapa tinggi rasa kepercayaan orang-orang yang meminta tolong kepada Mas, hingga ia mempercayakan urusannya untuk diselesaikan oleh kamu. Di situ letak ujiannya, ini bukan tentang Mas bisa atau tidak, akan tetapi berkaitan dengan berniat atau tidak niat, Mas,” jelas Sofyan terampil.

“Nggak begitu juga kok, Bang!” lagi-lagi Heru menangkis.

“Coba Mas luangkan waktu, bukan sisakan. Luangkan waktu Mas Heru untuk ikut sibuk dalam mengurusi kesulitan orang lain. Mudahkan urusan mereka di tengah kejeniusan Mas yang Allah limpahkan pada kamu. Percaya deh, Mas. Jika Mas permudah urusan orang lain, Allah akan mudahkan urusan Mas Heru dan lapangkan jalan,”

“Hmm, bener juga sih Bang,”

“Satu hal penting lagi, Mas. Dahulukan dulu hak-hak Allah, baru menuntut hak-hak kita. Kadar kesibukan dan kepedulian orang lain mengurusi urusan Mas Heru itu berbanding lurus dengan kadar kesibukan Mas mengurusi hak-hak Allah, lho!”

“Hmm…”

“Satu lagi mungkin, Mas Heru. Muslim yang baik adalah yang tangan dan lisannya tidak pernah menyakiti orang lain [1]. Itu baru namanya the real super man. Coba kalau Mas tolak permintaan pertolongan mereka tanpa alasan yang jelas, mereka pasti kecewa, bukan?”

“Hmm, bisa jadi…”

“Oh ya, aku sedang ada perlu nih, Mas Heru. Aku harap lain waktu kita bisa berbincang-bincang lagi.” Ucap Sofyan bermaksud menyudahi percakapan.

“Hmm, oke Bang. Doakan saya juga ya, Bang.” Ucap Heru mengangguk perlahan.

“Satu lagi deh, Mas” ucap Sofyan tiba-tiba.

“Apa?” tanya Heru yang masih terlihat mencerna uraian nasihat karibnya itu.

“Mas Heru sudah shalat Ashar belum?” ucap Sofyan menguji.

“Oh iya. Kalau begitu saya yang pamit duluan, Bang. Mau shalat. Wassalamu’alaikum!” ucap Heru tergesa-gesa sesudah menyelesaikan makan sorenya. Ia segera bergegas ke mushalla kampus yang berjarak tidak begitu jauh dari kantin. Sofyan yang menyaksikan hal itu hanya tersenyum, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Seberkas senyuman yang dapat menyimpulkan beribu makna. Hari itu berlalu begitu khidmat, seiring rotasi indah alam akan pertukaran pagi dan siang oleh mentari dan rembulan.

Catatan Kaki:

[1] HR. Bukhari no. 108 dan HR. Muslim no.40

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,88 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Anita Nurrahmah
Mahasiswi S1 Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor 2011 asal Kota Patriot, Bekasi.

Lihat Juga

Ilustrasi - Monas dan Masjid Istiqlal di kejauhan. (city_data.com)

Ijtihad Shalat Jumat di Monas

Organization