Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Wahai Guruku, Sudahkah Engkau Memahamiku?

Wahai Guruku, Sudahkah Engkau Memahamiku?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comGuru merupakan penerus dan pejuang risalah para nabi. Beban yang sangat berat berada pada pundak mereka, untuk berdakwah dan mengabdi guna mencerdaskan generasi-generasi baru. Menjadi seorang guru adalah hal yang sangat mudah, semua orang bisa melakukannya. Namun menjadi guru yang baik dan profesional bukanlah hal yang mudah dan bisa dilakukan sembarang orang. Selain dibutuhkan keterampilan dan keilmuan yang mumpuni, menjadi seorang guru yang hebat perlu memiliki niat dan jiwa yang tulus untuk mencerdaskan para muridnya, karena sejatinya guru bukanlah profesi komersil.

Selain penerus perjuangan para nabi, guru juga sering diartikan sebagai panggilan jiwa. Semangat juang yang mereka pegang erat menjadi ideologi yang mutlak. Bagi para murid dan orang tua, guru adalah orang tua kedua yang berada di sekolah. Maka dengan itu, seorang guru wajib mengajarkan ilmu-ilmu yang baik, serta suri tauladan yang bijak kepada para muridnya. Agar sang murid kelak akan menjadi pilar-pilar kemajuan bangsa.

Guru yang baik dan bijak ialah mereka yang selalu memperdalam keilmuanya dan selalu up to date dalam memperhatikan keadaan para muridnya. Seorang guru juga harus bisa menjadi teman dekat, bukan malah menjadi orang yang ditakuti para muridnya. Karena jika murid senang dan nyaman dengan gurunya, hal ini akan memudahkan dalam penyerapan sesuatu yang diajarkan oleh guru, begitu pula sebaliknya, jika murid merasa tertekan dan tidak nyaman dengan gurunya, hal ini akan menyebabkan murid sulit dalam menyerap sesuatu yang diajarkan oleh gurunya.

Menjadikan guru sebagai penghasilan utama merupakan suatu kekeliruan. Karena dengan hal ini banyak guru yang mengabaikan tugasnya sebagai pendidik, berpaling dari kewajibannya untuk mencerdaskan para muridnya, karena lebih mengutamakan gajinya daripada proses belajar mengajar yang baik dan benar. Tentu saja hal ini menjadi kesalahan yang fatal, karena sejatinya kesuksesan murid dipengaruhi oleh keberhasilan guru dalam mengajar.

Dalam kegiatan pendidikan sehari-hari, masih banyak dijumpai guru yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Namun kesalahan-kesalahan tersebut sering kali tidak sadari oleh para guru, bahkan masih banyak di antaranya yang menganggap hal biasa. Padahal sekecil apapun kesalahan yang dilakukan oleh guru, akan berdampak negatif terhadap perkembangan peserta didik. Sebagai manusia biasa, tentu saja guru tidak akan terlepas dari kesalahan. Namun bukan berarti kesalahan guru harus dibiarkan begitu saja tanpa dicarikan jalan keluar yang bijak.

Sebuah misal, kesalahan yang masih sering dilakukan oleh seorang guru adalah menunggu peserta didik berperilaku negatif. Seorang guru harus bisa mengondisikan keadaan kelas agar tetap tenang, mulai awal pembelajaran hingga lonceng tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Namun pada realitanya, masih banyak guru yang baru mengkondisikan ruang kelasnya setelah muridnya berbuat gaduh yang berlebihan. Bahkan tidak jarang seorang guru akan menggunakan kata-kata yang kasar guna mengkondisikan ruang kelasnya yang gaduh. Tentu saja hal ini merupakan sebuah kesalahan, karena hal yang tidak baik itu sangat mungkin dicontoh oleh murid-murid.

Filsuf China mengatakan, tidak ada murid yang buruk, yang ada hanya guru yang buruk. Sekilas perkataan filsuf ini memojokkan posisi seorang guru, namun di sisi lain perkataan ini perlu direnungkan bersama. Karena jika diamati secara mendalam, kalimat ini terdapat unsur kebenaran terkait murid dan guru. Seorang murid yang secara umum masih dalam usia labil, mungkin merupakan suatu hal yang wajar baginya jika berperilaku yang tidak semestinya, namun tidak dibenarkan untuk membiarkan perilaku itu terus melekat pada dirinya. Dalam hal ini, peran guru sangatlah penting dalam menata perilaku-perilaku muridnya yang tidak baik menjadi baik, bukan malah diabaikan atau justru dijerumuskan.

Dalam filosofi Jawa dikatakan bahwa guru merupakan akronim dari kata digugu (diyakini) dan ditiru (dicontoh). Segala perkataan dan tindakan guru akan selalu menjadi pusat perhatian murid. Demikian dahsyatnya pengaruh guru bagi para muridnya, maka hendaknya guru selalu senantiasa menjaga kontemplasi diri atas segala hal yang diperbuat. Jangan sampai perilaku buruk seorang guru menjadi potret yang akan ditiru oleh murid-muridnya.

Memberikan bimbingan kepada anak didik agar memiliki jiwa dan watak yang baik, mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang halal mana yang haram, merupakan tugas seorang guru. Jika seorang guru sadar akan posisinya dan menjalankan tugasnya dengan baik dan benar, bukan suatu hal yang mustahil bagi muridnya menggapai apa yang diimpikannya. Pesan penulis kepada para guru, pahami dan sayangi muridmu sebagaimana engkau melakukan itu kepada buah hatimu.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abdul Rozak Ali M
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Pendidikan Agama Islam. Ketua Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah dan Staff Tabligh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Lihat Juga

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.
(fraksipks.or.id)

Hidayat: Guru yang Menegakkan Disiplin Tidak Dapat Dipidanakan