Home / Pemuda / Cerpen / Andai Ramadhan Lebih Lama

Andai Ramadhan Lebih Lama

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (naviwall.com)
Ilustrasi. (naviwall.com)

dakwatuna.comKumandang adzan Maghrib mulai terdengar bersaut-sautan. Fenomena indah terlihat di langit malam itu, seperti pada malam-malam sebelumnya. Burung-burung mulai beterbangan untuk kembali ke sarang-sarang hangatnya. Lembayung senja yang mulai tampak di ufuk barat seakan menyertai matahari yang perlahan-lahan tenggelam dimakan rotasi bumi.

Aku, seperti biasa, masih berada di sudut gelap masjid. Mataku tak bisa berpaling menatapi sinar-sinar indah di langit yang disertai gemuruh syahdu. Bukan percikan kembang api berwarna warni yang menciptakan sinar-sinar indah itu. Bukan pula bunyi petasan di sana-sini yang memberi gemuruh syahdu itu. Ah, andaikan saja mereka bisa melihatnya. Melihat tanda-tanda keindahan masa-masa yang telah hadir, gumamku sendiri.

Di langit sana aku menyaksikan cahaya-cahaya malaikat-Nya turun ke langit bumi menciptakan fragma warna yang berbinar indah. Malaikat-malaikat itu turun sembari bershalawat bagi seluruh manusia penghuni bumi, yang kemudian diikuti oleh seluruh alam ciptaan-Nya. Aku pun tak kuasa untuk tidak bershalawat. Seperti inilah bila bulan suci itu tiba. Seagung itu penyambutannya.

Ketika adzan Maghrib selesai, aku telah mendapati masjidku penuh sesak oleh orang-orang yang datang dengan wajah berbinar-binar. Mereka mengenakan busana muslim terbaik mereka sembari saling menyapa. Harus kuakui awal bulan suci seperti inilah momentum penuhnya masjid, yang ironisnya kontradiktif dengan hari-hari biasanya.

Aku pun tak mau ketinggalan dengan orang-orang itu. Dalam diam dan keterbatasanku, mulutku tak bisa berhenti bershalawat.

***

Aku bernama Hana. Setidaknya begitulah orang-orang di sekitarku memanggilku. Aku biasa tinggal di masjid An Nur, sebuah masjid besar di sudut kota Jakarta Timur. Aku jarang sekali meninggalkan masjid An Nur. Masjid An Nur sudah seperti rumahku. Tak ayal aku pun menyebutnya masjidku. Ta’mir masjid di sana pun sangat baik padaku. Tak jarang mereka memberikanku makanan. Aku meninggalkan masjid hanya ketika ta’mir masjid tidak memberikanku makanan untuk mencari makan.

Sejak kecil aku telah ditinggal orang tuaku di masjidku ini. Aku bahkan tak pernah bertemu ibuku sejak lahir. Akan tetapi, aku tidak pernah mau menyalahkan siapapun atas kondisi itu. Aku percaya ini adalah takdir terbaik dari-Nya untukku.

Aku tidak ingin sombong ataupun terlalu percaya diri, tapi, menurut orang di sekitarku, aku memiliki wajah yang cukup manis. Tubuhku tergolong cukup berisi meskipun tidak bisa dikatakan gemuk.

Aku sangat bahagia bisa tinggal di masjidku ini. Pasalnya masjidku bukan masjid biasa. Masjidku ini tergolong cukup mewah. Seluruh ruangannya yang luas dilapisi dengan karpet tebal. Selain itu, air conditioner selalu menjaga kesejukan masjid. Sungguh masjid ini merupakan tempat yang sempurna untuk beribadah kepada-Nya.

Sayangnya, nyamannya masjidku tidak berbanding lurus dengan keramaian masjid para jamaahnya. Jamaah saat shalat subuh bahkan hanya lima hingga enam orang saja. Sungguh kondisi ini membuat hatiku perih. Kurang bersyukur apa orang-orang yang tinggal di masjid ini. Allah telah berikan fasilitas yang begitu nyaman untuk mereka agar beribadah. Aku selalu tersentuh dengan perjuangan para sahabat Nabi yang ku dengar saat kajian Subuh setiap hari Minggu – yang juga pesertanya sedikit. Aku pun sempat berpikir betapa hinanya orang-orang di sekitar masjid ini jika berkaca pada perjuangan para sahabat itu.

Namun ketika awal bulan suci Ramadhan, kondisinya berbeda. Ratusan jamaah hadir untuk mengikuti shalat tarawih pertama di bulan Ramadhan tahun ini. Aku takjub, awalnya. Bagaimana tidak? Bahkan masjid tetap tidak cukup menampung jamaah yang tiba-tiba hadir dari berbagai penjuru. Wajah mereka bersinar-sinar, mengenakan pakaian terbaik mereka sembari sesekali menyalami orang-orang yang mereka kenal.

Ah Ramadhan, sesyahdu ini engkau, hingga wajah yang baru sekali ke masjid setahun ini pun bisa bersinar, gumamku.

***

Shalat tarawih akhirnya selesai dilaksanakan, satu persatu jamaah mulai angkat kaki dari masjidku. Seperti saat mereka berdatangan, mereka pun pulang dengan senyuman puas khas mereka. Mereka seperti tak sabar akan berpuasa esok hari, paling tidak itu prasangka baikku.

Namun, tidak semua dari mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan masjidku. Beberapa masih memutuskan untuk bertahan dan melantunkan lembar demi lembar ayat suci-Nya. Di antara seluruh jamaah yang masih memilih bertahan, seorang anak perempuan terlihat di sudut masjid. Aku mengenalnya sangat dekat. Dia bernama Hana, sama seperti namaku. Dia sering kali berbagi makanan denganku. Aku pernah diajaknya ikut ke tempat tinggalnya. Dia adalah salah satu penghuni di panti asuhan tak jauh dari masjidku.

Awalnya, aku ingin menyapanya. Akan tetapi, aku mengurungkan niatku melihatnya sedang khusyu’ melantunkan satu persatu ayat dari surat Al Baqarah dengan fasih. Uniknya dia tidak melantunkannya dengan melihat mushaf. Dia justru sedang membaca sembari mengingat hafalannya selama ini. Hana memang sangat tekun menghafal, paling tidak itulah yang ku lihat saat dia menyisihkan 15 menit dari waktunya setelah shalat lima waktu untuk sekedar menghafal Al-Quran.

Hana sangat imut. Usianya mungkin baru menginjak usia 10 tahun. Akan tetapi, wajahnya yang oval bulat tampak manis di balik balutan jilbab panjangnya yang memberikan kesan anggun. Dengan tinggi 165 cm, dia tampak dewasa di balik keluguan wajahnya.

Aku tertegun. Ketika aku sadar dari lamunanku, aku mendapati mukena Hana telah basah oleh air matanya. Mulutnya seakan terbata-bata ketika akan melafazkan ayat kursi. Matanya sendu tak kuasa menahan tangisnya. Sejenak ia membuka mata dan membersihkan air mata yang telah membanjiri pelupuk matanya. Setelahnya, ia perlahan-lahan kembali melanjutkan lagi bacaan surat Al Baqarahnya. Jiwaku bergetar. Siapa pun pasti begitu tertegun melihat seorang perempuan yatim piatu yang menangis di tengah tasmi’ Qurannya.

            Ya Rabb, cintailah dia. Muliakanlah dia. Jagalah dia, ucapku berulang ulang sebagai bentuk shalawat ku kepadanya.

Jam dinding masjid mulai menunjukkan pukul setengah sepuluh ketika akhirnya Hana berhenti dari tilawahnya. Dia mulai berdiri dan beranjak meninggalkan masjidku. Jilbab panjang dan gamis ungu yang dikenakannya, membuatnya tampil begitu bersahaja seperti bidadari surga yang Allah turunkan ke dunia.

Aku memutuskan untuk mengikuti Hana ke panti asuhannya malam ini. Aku begitu penasaran dengan aktivitas yang dilakukan oleh bidadari surga ini saat bulan Ramadhan. Sepanjang perjalanan aku menemukan keramaian yang luar biasa dari warga kota. Maklum, tahun ini bulan Ramadhan bertepatan dengan Piala Dunia. Setelah shalat tarawih tadi, para kaum laki-laki memang terlihat sangat bersegera. Mereka menyiapkan kondisi terbaik untuk menonton pertandingan Piala Dunia.

Bodohnya mereka yang lebih memuliakan Piala Dunia ketimbang mulianya bulan Ramadhan, gerutuku kesal.

Setelah berjalan lima menit, Hana dan aku – yang mengikutinya di belakangnya – sampai di depan panti asuhan.

“Assalamualaikum,” ucap Hana sembari membuka pintu panti asuhan dengan kunci yang dia miliki. Panti asuhan telah nampak sepi. Di aula depan yang tersambung dengan pintu masuk panti asuhan hanya ada seorang anak laki-laki saja. Dia tampak lebih dewasa dari Hana. Badannya tinggi kurus. Dari gesture wajahnya, aku menangkap kesan sombong dan  perangai buruknya. Meskipun begitu, wajah anak laki-laki itu sebenarnya cukup tampan.

“Kak Asep belum tidur?” tanya Hana pelan sembari melepas sepatunya.

“Belom Han, lu abis ngapain malem banget pulangnya?” ucap Asep panjang. Sembari menghisap rokoknya dalam-dalam. Panti asuhan ini memang bukan sebuah tempat yang Islami. Panti asuhan hanya melatih para peserta didiknya untuk mampu terampil dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa menghasilkan uang untuk kemandirian mereka. Sedangkan dalam urusan agama, mereka tidak dituntut untuk taat. Merokok pun mereka diperbolehkan.

“Ngaji kak.” ujarnya simple sembari menunduk

“Han, temenin gua ke warkop yuk.” Ujar Asep iseng. Aku menangkap keinginan buruk dari wajah Asep. Hana jangan mau, ucapku dalam hati.

“Nggak usah kak terima kasih. Sudah malam dan saya besok harus ke kursus menjahit lagi. Jadinya mau cepet tidur.” Terang Hana seraya menutup pintu dan bergegas menuju koridor perempuan. Aku takjub dengan komitmen Hana untuk tetap menjaga dirinya, meski usianya tergolong masih kecil.

***

Aku sengaja tidak masuk dan memutuskan kembali ke masjid. Aku tak ingin mengganggu bidadari itu beristirahat. Dari langit kamarnya, aku lihat serpihan cahaya berhamburan. Para malaikat pun mendoakannya, gumamku

Ramadhan memasuki malam ke dua puluh satu. Tidak ada yang berubah selama dua puluh hari Ramadhan, selain jamaah masjid yang terus berkurang dari hari. Aku memprediksi puncak pengurangan akan tiba pada sepuluh hari terakhir ini. Seperti biasa penyebabnya tentu budaya pulang kampung. Sangat disayangkan memang, jika mengingat di sepuluh malam terakhir ini justru doa-doa para malaikat sangat luar biasa memenuhi seluruh penjuru dunia. Belum lagi pada malam lailatul qadr nanti. Ah sayang seribu sayang, gumamku.

Seperti malam-malam sebelumnya, akhir shalat tarawih dilalui dengan berhamburannya ratusan jamaah keluar dari masjid. Akan tetapi, malam ini tentu saja lebih ramai. Malam ke dua puluh satu, malam di mana dimulainya agenda i’tikaf sepuluh hari terakhir.

Di antara banyaknya jamaah i’tikaf kali ini, sudut masjid bagian belakang masih diisi oleh Hana. Dia melanjutkan rutinitasnya, bertilawah. Kini ia sedang membaca surat Ar Rum. Berbeda dengan malam pertama, kali ini dia menggunakan mushafnya untuk bertilawah. Mungkin hafalannya belum sampai sana, gumamku.

Aku terus mengamati Hana yang tak henti-hentinya melantunkan ayat-ayat agung dari Rabbnya itu. Tak jauh dari pintu belakang masjid, aku mendengar kegaduhan tersendiri. Aku mencoba mengintip sejenak ke belakang dan menemukan sekumpulan anak-anak muda perempuan sedang sibuk menggosip. Momen i’tikaf memang tidak hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin beribadah, anak-anak yang ingin sekedar nongkrong pun hadir. Rata-rata dari mereka sepertinya berumur di atas 15 tahun. Mereka seperti anak-anak SMA. Tentu jauh dibandingkan Hana yang justru bersikap lebih dewasa .

            Aku pun mengalihkan pandanganku kembali ke Hana, dia masih sibuk membaca Al-Quran. Momen-momen indah bagiku di setiap malam bulan Ramadhan akan segera berulang. Momen ketika Hana menangis dalam tilawahnya.

Dan benar saja, Hana kembali menangis. Akan tetapi, aku melihat tangisan yang berbeda hari ini. Hana menangis sembari memegangi perutnya. Wajahnya menyiratkan ada perih yang ditahan olehnya. Tidak lama kemudian, Hana memutuskan untuk meninggalkan aktivitasnya dan beranjak ke WC masjid. Aku yang begitu penasaran dan iba segera mengikutinya.

Aku menemukan Hana muntah dengan sedikit meringis. Sepertinya dia masuk angin, gumamku. Tak lama kemudian Hana menuju wastafel. Aku pikir ia akan membersihkan wajahnya. Setelah ku amati lebih dalam ternyata Hana juga meminum air keran itu. Aku terperangah. Bukan hanya karena ia meminum air keran itu. Akan tetapi, aku lebih terperangah lagi ketika melihat malaikat-Nya menampilkan amalan Hana di langit dunia, seperti sebuah layar tancap besar yang menyelimuti semua langit.

***

Di dalam layar tancap yang sangat besar itu terlihat jelas wajah Hana sore tadi. Hana baru saja mendapatkan makanan berbuka dari panti asuhan. Azan maghrib masih satu jam lagi. Hana pun beranjak menuju kamarnya sembari membawa mushaf kecilnya. Akan tetapi, sebuah kegaduhan kecil terjadi di depan pintu panti asuhan. Hana pun segera bergegas menuju depan pintu. Hana terpanjat ketika dia menemukan Asep sedang mencaci maki seorang nenek-nenek karena meminta minta di depan panti asuhan. “Nek, ini tuh panti asuhan bukan panti jompo. Kalo mau minta bukaan jangan di sini. Cari panti jompo sana.” ucap Asep kasar.

“Kak Asep! Ini kenapa ya?” tanya Hana seraya melindungi nenek-nenek yang sedang diganggu.

“Ini nenek-nenek ga tahu diri. Masa’ minta-minta di panti asuhan.” ucap Asep ketus.

“Maaf den, saya nggak tahu ini panti asuhan. Saya juga belum makan dua hari ini.” ucap nenek itu memelas. Hana terdiam dan iba.

“Itu urusan lu nek. Yang jelas jangan minta ke sini.”

“Udah kak. Ini ga perlu sampe berdebat juga kan. Nenek ini juga cuma ga tahu. Ya udah kakak dan teman-teman masuk aja sana.” ucap Hana menengahi. “Nek tunggu sebentar ya.” ucap Hana pelan dan segera bergegas masuk ke dalam.

Hana keluar dengan membawa makanannya untuk berbuka. Dia memberikannya kepada nenek tersebut. Nenek tersebut tak kuasa menjaga matanya dari air mata yang ingin keluar.

“Makasih dek, makasih. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya untuk adek.” Ucap nenek itu tersendu-sendu. Nenek tersebut akhirnya pamit dan Hana kembali beranjak ke kamarnya untuk melanjutkan tilawahnya.

Layar bioskop itu tak henti-hentinya menampilkan amalan-amalan Hana. Ketika Hana lebih mengutamakan bertilawah sembari menunggu azan di panti asuhan ketimbang di masjid karena mendapat jadwal piket. Padahal dia telah memberikan bukaannya untuk nenek tadi dan mungkin di masjid dia bisa mendapat ta’jil. Ketika Hana membagi sahurnya kepada anak panti asuhan lain yang sahurnya dirampas Asep. Ketika Hana membagi bukanya kemarin dengan aku.

Ah mulianya bidadari ini, gumamku takjub. Tak terasa air mataku keluar sedikit. Sungguh memilukan. Tak hanya aku, seisi dunia pun tak henti-hentinya bershalawat melihat tayangan barusan. Semua memintakan maghfirah dan puji-pujian kepada Allah. Bahkan beberapa malaikat membuat air yang diminum Hana menjadi air yang penuh kesucian. Memberikan rasa kenyang tersendiri bagi perutnya yang kosong.

Ya Rabb, sungguh mulia Engkau menciptakan bidadari ini, pekik hatiku.

***

Waktu begitu cepat berlalu. Ramadhan sudah selesai. Malam ini sudah masuk ke tanggal 1 Syawal. Tak ayal suara takbir menyebar ke sana kemari. Petasan meriah mewarnai langit-langit. Wajah-wajah tersenyum menyebar di setiap ruas jalan. Ironisnya di langit sana justru sepi. Malaikat sudah kembali ke langit. Gemuruh itu sekarang sudah menghilang.

Ironisnya lagi, sejak Isya masjidku begitu sepi. Hanya sang imam yang masih melakukan takbiran di dekat mimbar. Mataku berusaha mengkonfirmasi ke sekitaran masjid. Akan tetapi, betapa kagetnya aku ketika menemukan seorang wanita itu lagi. Siapa lagi jika bukan Hana.

Lagi-lagi dia menangis, gumamku. Bukannya aku bosan dengan tangisannya. Aku hanya tidak tega. Jika air mata bisa habis, mungkin air mata Hana sudah habis.

Namun, kali ini tangisan dari Hana berbeda. Tangisannya tampak lebih sendu, lebih dalam dan lebih memilukan. Aku tertegun. Kali ini aku tidak bisa tidak menghampirinya. Aku tidak tega.

“Ya Allah… “ suara sendunya terdengar samar.

“Ya Rabbi, maafkan aku……” suaranya semakin jelas ketika aku semakin dekat.

“Maafkan aku, tahun ini aku tidak dapat mencapai targetku. Hafalanku tak mencapai 1 juz. Tilawahku tidak lima kali khatam. I’tikafku tidak full karena aku sakit. Maaf Ya Rabb. Maafkan aku Ya Rabb. Maafkan Ya Rabb.” tangisannya sendu perlahan.

Aku berhenti sejenak. Aku tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Aku hanya berlari ke arah Hana dengan mata juga yang terbawa sendu melihat seorang pemenang di bulan Ramadhan ini.

***

“Hana.. kamu kenapa puss.” ucap Hana kecil menyapa sang kucing yang tiba-tiba berlari ke pangkuannya sembari tersenyum manis di sela-sela tangisannya. Senyuman yang sangat manis. Dia mengelus-ngelus kucing yang dipanggil Hana juga.

“Meooonngg,” balas si kucing. Si kucing seakan ingin menghiburnya dengan merangkul kaki Hana.

“Makasih puss. Aku nggak sedih kok hehe.. Aku seneng kan mau lebaran hehe..” ucap Hana riang seraya menghapus air mata yang ada di wajahnya. Kucing itu terus memeluk kaki Hana. Nuansa penuh syahdu, seperti layar yang kembali diputar di langit menampilkan tangisan Hana. Malaikat tak berhenti berdoa di perjalanan kembali ke langit, berdengung mengalahkan takbir di speaker masjid. Paling tidak, itu yang bisa didengar makhluk-makhluk selain manusia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Arfath
Anak laki-laki kelahiran Lumajang tahun 1995 ini sangat menyukai cerpen. Ia memulai kepenulisan saat masih bersekolah di MTs Husnul Khotimah. Ia, yang aktif dalam Forum Lingkar Pena ranting MTs, mendapat didikan dari seorang penulis FLP Jawa Tengah, Sunarno. Selama SMA, pemilik nama asli Muhammad Miqdad Robbani ini kurang aktif menulis cerpen dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis essai di blognya. Saat ini, ia berstatus sebagai mahasiswa baru Universitas Indonesia di jurusan Manajemen.

Lihat Juga

Muhasabah Ramadhan