Home / Pemuda / Cerpen / Zakat, Ayam, dan Lebaran

Zakat, Ayam, dan Lebaran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (theatlantic.com)
Ilustrasi. (theatlantic.com)

dakwatuna.comSore ini kuperhatikan wajah Ibu, kuyu bagaikan bunga layu. Bagaimana tidak, menjelang detik-detik menuju lebaran kami masih belum ada satupun persediaan dapur. Waktu tinggal tiga hari lagi. Para tetangga saja sejak seminggu bahkan dua minggu yang lalu sudah memasak bermacam-macam kue lebaran. Aromanya kue mereka wangi sekali, masuk ke celah dinding rumah sekitarnya. Termasuk rumahku.

Rumahku hanya berukuran empat kali tiga meter. Lebih tepatnya gubuk. Di dalam gubuk itulah semua rutinitas keluarga kami dilakukan. Tidur, makan dan bercengkerama. Gubuk tempat Aku, Ibu, Ayah serta tiga orang adikku berteduh setiap hari. Gubuk itu sudah ada sejak awal Ayah dan Ibu menikah. Hingga kini usiaku sudah 17 tahun lebih, gubuk itu masih bertahan. Tidak banyak berubah. Seingatku hanya dua kali gubuk itu direnovasi. Dinding yang awalnya dari anyaman bambu ditukar dengan papan. Kemudian atapnya yang terbuat dari daun limbio ditukar dengan seng bekas pakai. Dulu, hampir setiap hari sebelum tidur siang aku menghitung jumlah lubang, lubang bekas tancapan paku yang ada di atap gubuk itu.

Di sudut gubuk kami, kulihat Ayah tertidur. Sudah sejak tadi, dan sekarang menjelang adzan Ashar Ayah masih tidur. Aku tidak tahu kenapa Ayah bisa tidur begitu pulas. Padahal belum ada apapun persiapan lebaran yang kami punya. Ibu, Aku dan adik-adikku sepertinya tidak boleh berharap banyak. Bisa jadi tahun ini kami tidak ikut berlebaran seperti yang lainnya.

***

Adzan magrib berkumandang. Kami sekeluarga berkumpul untuk berbuka puasa, menikmati apa yang ada di hadapan kami seadanya. Sebenarnya untuk berbuka hari ini kami tidak punya apa-apa untuk dimasak. Untungnya ada saudara Ayah yang datang membawa ta’jil dilengkapi dengan nasi dan lauk. Porsi yang mereka bawakan pas untuk kami berenam.

“Emmm…., enak…..” celetuk adikku. Semua sangat menikmati hidangan malam itu. Alhamdulillah.

Setelah berbuka, Ayah langsung pergi. Kami tidak tahu persis ke mana beliau pergi. Aku terutama Ibu hanya berharap Ayah pergi untuk kembali dengan membawa belanjaan berupa tepung, gula, kelapa, cabe, daging dan lain-lainnya yang dibutuhkan untuk persiapan lebaran nanti.

“Bu, kami tak beli baju lebaran ya…….” adikku yang paling kecil tiba-tiba bertanya. Aura sedih terlihat di pancaran matanya.

Ibu membelai rambut adikku “iya besok kita beli baju ya……” jawab Ibuku sambil tersenyum kecut. Aku tahu Ibu hanya menghibur.

Kondisi seperti ini setiap lebaran selalu kami alami. Sedih yang datang berulang.

***

Dua hari menuju lebaran.

“Bu, ini semua untuk kita. Ibu pake uang dari mana? Ayah kasih Ibu uang?” tanyaku penuh rasa bahagia. Mataku berkaca-kaca.

“Iya ini untuk kita Nak, Alhamdulillah Bu Ningsih memberi Ibu uang zakatnya……, yaa…., Ibu tadi langsung ke pasar dan membeli bahan-bahan dapur ini. Alhamdulillah dapat sebanyak itu Nak, kita masak apa yang ada aja dulu ya…., tetap bersyukur” kata Ibu padaku.

Siang itu sudah tersedia minyak goreng, tepung, telur, gula, sirup, beras dan bumbu-bumbu masak. Yang belum kulihat sejenis lauk seperti daging, ayam, ikan dan lainnya. Dan juga kue-kue, seperti punya tetangga tidak ada sama sekali. Namun dengan hati yang tetap berbahagia Aku dan Ibu mulai memasak, dengan penuh semangat. Tetap bersyukur, begitu kata Ibuku.

***

“Mana Ibumu….!!!” Ayah bertanya kepada adikku dengan nada yang tinggi. Seharian ini ayah sering sekali marah tanpa alasan yang jelas. Ada apa dengan Ayah pikirku. Kenapa Ayah marah-marah, pada hal esok sudah mau lebaran. Seharusnya Ibulah yang marah karena sampai detik ini beliau masih belum memberikan uang belanja untuk persiapan lebaran.

“Ibu ke rumah Bu Ijah, katanya mau jemput jatah zakat…..” jawabku sedikit kesal.

“Ibumu itu terlalu sibuk ke sana kemari, ayam tidak dikasih makan. Lebih penting uang zakat dibanding ayam-ayam ini rupanya…….!!!” suara Ayah menggelegar, Ayah marah besar. Aku hanya diam dan menggerutu dalam hati, Ayah yang aneh. Kenapa tidak dia saja yang memberi makan ayam-ayam itu. Toh dari hari ke hari Ayah tidak punya pekerjaan. Tidur, tidur dan tidur. Hanya itu yang dia bisa. Aku pun berlalu membawa kekesalan yang amat sangat di dalam hatiku. Kesal kepada Ayah.

***

Sorenya aku pulang dan mendapati Ibuku terisak, Ibu menangis. Adikku yang paling bungsupun menangis. Aku heran. Ada apa gerangan. Di dalam gubuk kudapati Ibu berdua saja dengan si Bungsu. Ayah sepertinya sedang pergi, dua orang adikku pasti sedang bermain. Seribu tanya dalam benakku. Apa yang terjadi?.

“Ibu kenapa?” tanyaku pada Ibu.

“Tidak ada Nak, Ibu baik-baik saja……” seperti biasa Ibu enggan bercerita padaku. Akupun tidak memaksa ingin tahu. Nanti pasti akan tahu sendiri. Kulayangkan pandangan ke salah satu sudut gubuk. Terlihat ada beberapa macam kue di sana, seperti kue-kue punya tetangga. Ini pasti uang zakat dari Bu Ijah pikirku. Aku tersenyum kecut.

Hari itu setelah selesai shalat isya, kakek dari pihak ibu datang. Beliau membawakan satu ekor ayam dan satu ekor itik untuk dibuatkan rendang. Menyusul pamanku tertua juga datang membawakan ikan dan beberapa biji kelapa. Alhamdulillah, bertemankan kumandang takbir ku bantu ibu hingga larut malam untuk memasak gulai, persiapan lebaran. Rasa bahagia menghiasi wajah kami.

“Itu bajuku, baju…, baju….” salah seorang adikku berbicara dalam tidurnya. Beliau mengigau. Ahh….., masih ada yang kurang. Ya, tidak seorangpun dari kami memiliki baju lebaran. Aku dan Ibu sangat kesulitan menghibur adik-adik, menjawab pertanyaan mereka soal baju lebaran dengan kebohongan. Kejujuran yang sulit untuk dijelaskan kepada mereka, bahwa mereka tidak akan memiliki baju lebaran.

***

“Allaahu Akbar…., Allaahu Akbar…., Allaahu Akbar, Laailaahaillaahuwallaahuakbar……..” terdengar suara takbir dari mesjid. Lebaran pun tiba. Aku dan Ibu sudah bangun sejak sebelum subuh, tidak lain dalam rangka memasak. Ayah juga sudah bangun, beliau sibuk merapikan kumisnya. Adik-adik masih tertidur pulas kecuali Si Bungsu.

“Kakak…., Ibu…..” terdengar suara Si Bungsu memanggil.

“Ya, kenapa Nak…..” sahut Ibuku.

“Ini apa?” tanyanya sambil duduk jongkok. Di depannya ada kantong plastik besar. Aku dan Ibu bingung, karena tidak menyadari kehadiran kantong plastik itu. Sementara Ayah diam saja, masih sibuk merapikan kumisnya.

“Apa ya Nak…? Coba dibuka kantongnya…..” kata Ibu kepada adikku itu.

Dengan susah payah si kecil mencoba membuka kantong itu. Sekali dua kali belum berhasil. Ibu heran dan penasaran. Akhirnya Ibu bertanya pada Ayah, orang yang paling dicurigai telah membawa kantong itu.

“Yah, apa di dalam kantong itu?” tanya Ibu.

“Lihat saja sendiri……” jawab Ayah santai.

Akhirnya Ibu turun tangan membuka kantong itu. Setelah dibuka ternyata isinya adalah baju-baju baru. Hanya empat pasang. Untukku dan tiga orang adikku. Sepasang baju baru beserta sandal. Kami meloncat kegirangan, adik-adik yang awalnya belum bangun kini bangun dan ikut bergembira. Berebutan mengambil baju masing-masing. Baju sederhana tapi istimewa, karena datangnya dalam bentuk kejutan. Si Bungsu bajunya kebesaran. Tapi dia tetap bahagia. Gelak tawa membuncah di gubuk kecil kami pagi itu. Mengalahkan suara takbir yang berkumandang.

Akhirnya kami ikut merasakan lebaran seperti yang lainnya. Bahagia sekali rasanya. Ayah Ibupun bahagia meskipun mereka tidak punya baju baru. Takbir yang berkumandang sampai dilaksanakannya shalat idul fitri terasa begitu syahdu. Melebur bersama kegembiraan kami di hari raya ini.

***

Belakangan akhirnya terjawab sudah tanyaku. Tentang penyebab Ibu menangis sehari sebelum lebaran. Ternyata waktu itu Ayah marah besar kepada Ibu dan menamparnya. Ayah kalut karena ayam-ayamnya lemas semua. Ibu lupa memberi makan ayam-ayam itu, Ibu sibuk ke sana kemari menjemput jatah zakat yang diberikan kepada keluarga kami.

Baju baru yang kami pakai saat lebaran adalah dari uang hasil penjualan ayam. Pantas tidak ada lagi suara ayam di pagi hari raya. Aku dan Ibu sungguh tidak menyadari akan keberadaan ayam-ayam itu. Kami terlalu sibuk di dapur. Kini kami kesepian tanpa ayam-ayam itu.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hafshatuz Zikra
Putri minang asli, daerah asal adalah Payakumbuh Sumbar. Sekarang domisili di Batam, bekerja sebagai karyawan swasta.

Lihat Juga

Rofi Munawar, Anggota Komisi VII DPR RI. (fpks.or.id)

Ketersediaan LPG dan BBM Jelang Lebaran Harus Mudah dan Terkontrol