Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Ilal Liqa’ Ya Ramadhan

Ilal Liqa’ Ya Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (bombayoutdoors.com)
Ilustrasi. (bombayoutdoors.com)

dakwatuna.com Kalau di awal Ramadhan ada tarhib. Di akhir Ramadhan ada taudi’. Walaupun kata taudi’ berarti berpisah untuk tidak (sulit) bertemu lagi. Saat berpisah dengan bulan mulia ini, ada sebuah kaidah, yaitu (من لم يذق مرارة الفراق لم يعرف حلاوة اللقاء) “Orang yang tidak merasakan pahitnya berpisah, pasti belum mengerti manisnya perjumpaan.”

Di atas kaidah ini, dibangunlah cara bagaimana berpisah dengan bulan Ramadhan. Saat berpisah dengan bulan Ramadhan, ada dua macam orang:

Bahagia Berpisah?

Kalau berbahagia saat berpisah, maka dia belum merasakan manisnya Ramadhan. Kalau belum merasakan manisnya Ramadhan, berarti dia belum memperlakukan Ramadhan dengan sebagaimana mestinya.

Orang yang demikian hendaknya banyak beristighfar kepada Allah SWT disertai dengan penyesalan yang sebenar-benarnya. Ini akan jauh lebih baik daripada orang yang mengisi bulan Ramadhan tapi tidak bisa menjaga keutuhan pahalanya.

Ataukah Sedih?

Kalau bersedih saat berpisah, berarti dia telah merasakan manisnya bulan Ramadhan, dan dia tidak mau ditinggalkannya. Orang seperti ini perlu bersyukur kepada Allah SWT. Tapi bukan berarti kewajibannya telah selesai, dia perlu bermuhasabah apakah dia sudah sampai pada tujuan ibadah Ramadhan atau belum?

Di antara tujuan ibadah Ramadhan adalah menjadi bertakwa.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [Al-Baqarah: 183].

Cara muhasabah ketakwaan bisa dengan melihat tanda-tanda orang yang bertakwa.  Misalnya banyak beribadah dengan motivasi melindungi diri dari siksa neraka; berusaha menjadi segala sesuatu sebagai pelindung dari siksa neraka; berusaha sempurna dalam melaksanakan kewajiban; lebih berhati-hati dalam memakai membelanjakan hartanya.

Tujuan lain ibadah di bulan Ramadhan adalah agar seluruh dosa kita diampuni.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap surga, maka akan dihapuskan seluruh dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Orang yang menghidupkan malam di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap surga, maka akan dihapuskan seluruh dosanya. [HR. Bukhari dan Muslim].

Bagaimana mengetahui bahwa dosa-dosa kita telah diampuni? Ada tanda-tandanya seperti mudah dalam melaksanakan kebaikan dan ketaatan, karena dosa yang membebaninya telah dihilangkan sehingga beban menjadi ringan; selalu terdorong dalam melaksanakan kebaikan, karena di antara pahala sebuah kebaikan adalah dimudahkan berbuat kebaikan yang lain; dicintai orang lain, karena ketika Allah SWT mencintainya, maka para malaikat pun mencintainya, dan kalau malaikat mencintainya, maka orang lain pun ikut mencintainya.

Bagaikan Ilmu Padi

Kalau tujuan-tujuan itu dinilai tercapai, apakah sudah selesai? Orang itu hendaknya menjaga sikapnya seperti inkisar (merasa dirinya belum ada nilainya). Tidak merasa dirinya paling baik, paling shalih dan paling benar.

Seperti sahabat Abdullah bin Umar RA berharap satu sujudnya diterima, padahal beliau adalah ahli ibadah tapi masih khawatir ibadah-ibadahnya ditolak Allah Ta’ala. Jika ada satu sujudnya yang diterima maka akan lebih membuatnya bahagia daripada menerima harta seluruh dunia.

Seperti Umar bin Abdul Aziz  RA yang tidak mau dikubur bersama Rasulullah SAW seperti diusulkan oleh para tabi’in. Padahal beliau disebut-sebut sebagai khalifah rasyidin kelima, walaupun kita mengetahui hanya ada empat orang khalifah rasyidin.

Kita juga belajar dari perintah Allah Ta’ala untuk banyak membaca istigfar di kala Ashar (sebelum subuh). Ini menunjukkan bahwa setelah banyak beribadah, jangan sampai ibadah itu membuat sombong, harus tetap merasa banyak berdosa.

Hati-hati, Pahala Belum Aman

Walaupun banyak mengumpulkan pahala di bulan Ramadhan, namun pahala-pahala itu belum aman. Banyak sekali perbuatan itu yang bisa membuatnya hilang sia-sia. Misalnya, mendahului Allah SWT dalam menghukumi orang lain; riya’; ujub; maksiat dalam khalwat; menzhalimi orang lain; menggunjing orang lain; hasad dan sebagainya.

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
H. Moh Sofwan Abbas, MA
S1 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. S2 Universitas Al-Neelain, Khartoum-Sudan. Dosen Ma'had An-Nuamy, Jakarta

Lihat Juga

Ilustrasi. (pkpu / izi)

Ramadhan Kekinian