Home / Berita / Internasional / Asia / Hamas: Sekarang Israel yang Berteriak Paling Kencang Meminta Gencatan Senjata

Hamas: Sekarang Israel yang Berteriak Paling Kencang Meminta Gencatan Senjata

Musa Abu Marzuq, anggota Biro Politik Hamas (pal-home.net)
Musa Abu Marzuq, anggota Biro Politik Hamas (pal-home.net)

dakwatuna.comPalestina. Anggota Biro Politik Hamas, Dr. Musa Abu Marzuq, menyatakan bahwa Hamas tidak akan mundur dengan syarat pencabutan blokade Gaza oleh Israel jika menginginkan gencatan senjata, sebagaimana dikutip Islam Memo (26/7/2014).

Abu Marzuq mengungkapkan tiga pilihan yang diambil agar tercapai gencatan senjata sementara antara pejuang Palestina dan Israel. Pertama, gencatan senjata dengan mediasi Mesir tapi sesuai syarat-syarat yang diajukan pihak Palestina.

Kedua, Israel menghentikan agresi secara sepihak tanpa perundingan dan kesepakatan apapun. Ketiga, DK PBB mengambil alih dan menghentikan aksi saling serang seperti peristiwa agresi Israel pada akhir tahun 2008 silam.

Mengenai pencabutan blokade Gaza sebagai syarat utama gencatan senjata yang diajukan Hamas, Abu Marzuq menyatakan bahwa pihaknya menginginkan rakyat Palestina di Gaza dapat hidup normal seperti bangsa yang lain.

Menurutnya, Hamas dan kelompok perjuangan Palestina yang lainnya siap menerima apapun persyaratan yang diajukan terkait pembukaan perbatasan yang menghubungkan Gaza dengan dunia luar, selama Israel tidak masuk dalam pihak yang mengawasi pengelolaan perbatasan.

Abu Marzuq menekankan bahwa seruan gencatan senjata paling kencang saat ini justru datang dari pihak Israel dan sekutu-sekutunya seperti AS, padahal sebelumnya yang mengancam dan meneror rakyat Gaza dengan serangan darat adalah negara penjajah Yahudi itu sendiri. (islammemo/rem/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Rio Erismen

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (70 votes, average: 8,99 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Rio Erismen
Alumnus Universitas Al-Azhar Cairo dan Institut Riset dan Studi Arab Cairo.

Lihat Juga

Sebelum Lengser, Obama Diminta Mantan Presiden AS Ini Akui Negara Palestina