Home / Pemuda / Cerpen / Bapak Paruh Baya

Bapak Paruh Baya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com  – Air sungai itu masih mengalir. Dan aku masih diberi kesempatan untuk melihatnya karena darah dalam tubuhku juga masih mengalir hingga saat ini. Hanya saja, darahku tak seperti kopi susu, warna air sungai itu.

Jika pagi kujajaki sepi, maka tiap hingsutan waktu kian berjalan lambat. Tapi aku bersyukur, setiap melihat ukiran senyum para anak bangsa, para bunga yang akan mengharumkan negeri Indonesia, jiwaku menjadi hidup.

Begitu pun hari ini. Aku harus melakukan sesuatu. Aku akan mengantarkan sepucuk surat ke UPT. Surat berisikan permohonan mengadakan pelatihan bagi guru-guru se-Kuala Mandor B.

Di tepi sungai itu, sungai yang tak beriak, aku ingin segera melewatinya. Dan dengan motor yang aku bawa, aku tak mungkin berenang. Ah, ada-ada saja aku ini. Bagaimana mungkin aku hendak berenang dengan adanya motor. Lagipula tanpa adanya motor, tak memungkinkan pula bagiku untuk berenang. Di dalam air aku seperti batu. Nyemplung, pasti langsung tenggelam. Ahh, lagi-lagi aku ngawur, seandainya pun aku bisa berenang, tidak mungkin pula aku ke kantor Dinas tingkat Kecamatan itu berbasah-basahan. Ada-ada saja.

Di bibir tepian sungai itu, motor air sudah setia menunggu. Mesinnya selalu menderu memanggil penumpang. Tak tahu kenapa, meski motor air yang terparkir di tepian sungai itu mesinnya tak dimatikan. Heran. Padahal jika dimatikan, tentu akan hemat bahan bakarnya menurutku.

Meski motor air itu menderu, namun sang “nakhoda” tak nampak batang hidungnya. Ketika kutanya kepada bapak pemiliki warung kopi yang mangkal di tepian sungai, si empunya motor air sedang berada di dalam rumah katanya. Dan agar si empunya keluar, aku dimnta untuk membunyikan klason motor.

Tiiiiiiiiiit. Tiiiiiiiiiit. Tiiiiiiiiiiiiiiiiit.

Tak lama kemudian, Seorang lelaki separuh baya muncul dari belakang warung. Tanpa baju. Tapi masih memakai celana. Celana Hawai kataku. Hanya selutut. Tak mengapa, asal masih pakai itu, gila saja kalau dia tak memakainya.

Sebagai pendatang, tentu aku ramah kepada setiap orang. Kepada yang tak kusukai pun seperti itu. aku hanya tak ingin mencari gara-gara di negeri orang.

Kusapa ramah dia ketika dia memindahkan motorku, tentu motor pinjaman ke atas kendaraan air itu.

“Saya dari Padang Pak.” Dia hanya tersenyum. Saya tidak tahu apakah dia kenal Kota Padang atau tidak.

Setelah sampai di seberang, dia pun menurunkan motorku ke jembatan, lidah penyambung sungai dengan daratan.

“Mau kemana?” Tanyanya juga ramah padaku.
“Ke UPT Pak”. Jawabku juga tersenyum.
Dia pun masih tersenyum. Angguk-angguk. Bahasa tubuh yang ambigu. Mungkin dia tidak tahu apa itu UPT. Tapi mungkin dia sungkan menanyakan apa itu UPT.
“Ke parit Sembilan belas Pak. Mengantar surat ke orang dinas.” Jawabku memperjelas jawaban yang tadi membingungkannya.
“Oh. Iya-iya. Disana ya?” Tanyanya sambil menunjuk kearah kanan.
“Iya Pak.” Jawabku sambil mengangguk. Sekarang bapak itu sudah tahu aku hendak kemana.
“Berapa ya Pak?” Tanyaku tentang bayaran tranportasi air yang telah menyeberangkanku itu.
“Lima ribu.”
“Terima kasih Pak”, Ucapku masih ramah.
“Ya”, Jawabnya sambil tersenyum.

Itulah pertemuan singkatku dengan bapak yang bekerja sebagai “nakhoda” di motor air sungai Kapuas itu.

Pada pertemuan kedua, aku masih bersikap ramah padanya. Sekali lagi, karena aku pendatang. Aku harus bersikap baik kepada siapapun dan dimanapun. Aku hanya ingin “aman”.

Percakapan singkat antara aku dan bapak itu pun kembali terjadi. Tapi tak tahu kenapa, Bapak itu meminta nomor HP ku. Aku berpikir, mungkin suatu saat nanti jika aku di tengah malam bersama rombongan jika ingin menyeberang, maka akan mudah menghubungi bapak yang punya motor air itu. Jadi dengan lancar menyebutkan nomor hapeku.

Setibanya aku di kantor dinas, ternyata bapak itu telah mengirimkan SMS kepadaku. Mengatakan itu nomornya. Kurespon biasa saja.
Dia pun menanyakan aku sudah dimana. Wajar menurutku beliau menanyakan hal itu padaku. Mungkin dia menganggapku anak. Itulah pikirku waktu itu.

Namun tiba-tiba, aku dikejutkan dengan balasan smsnya yang memintaku untuk tidak memanggilnya “bapak”. Katanya tak enak dibaca. Jadi cukup memanggilnya dengan sebutan nama saja.

Membaca SMS beliau yang seperti itu, aku mencium gelagat yang tidak nyaman. Ahh, bagaimana mungkin aku memanggil nama saja. Apa maksudnya memintaku hanya memanggilnya dengan sebutan nama saja?

Smsnya yang berbunyi seperti itu membuat semua prasangka baikku di awal lenyap seketika. Membuatku tak berselera lagi membalas sms berikutnya.

Sepulangnya dari dinas, aku kembali melewati penyeberangan sungai itu. Terpaksa. Tidak ada jalur biasa. Harus bagaimana aku? Ya, aku mencoba bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa.

Malamnya dia kembali mengirim pesan singkat padaku. Sekadar menayakan aku sedang apa. Aduh kenapa nih si bapak? Tanyaku dalam hati. Tak kubalas. Aku merasa bapak itu tak pantas seperti itu.

*******

Sebulan terlewati. Kemarin, aku bersama seorang guru yang pulang berkemah hendak ke Pontianak. Karena sang guru yang akan mengantar, jadinya kami harus ke rumahnya dulu untuk mengantarkan barang. Otomatis harus menyeberangi sungai itu lagi. Dan ternyata aku harus bertemu lelaki paruh baya itu lagi.

Aku hanya tersenyum sekadar menyapanya. Dia pun tersenyum padaku. Setelah itu, aku tak lagi melihat-lihat ke arahnya. Aku sengaja menyibukkan diriku hingga sampai di seberang.

Karena itu, ternyata dia kembali mengirimkan pesan singkat kepadaku di malam kedua setelah pertemuan itu.
“Mat mlm Rani , udh tdr ap blum.” Pertanyaan tanpa tanda tanya. Kubiarkan saja. Tak penting menurutku.

Malam berikutnya dia kembali mengirimkan SMS.
“Knp mz q, d cuekin aj rani, ap qmu gx ska, aq ganggu y.”

Pikirku, gaul juga cara bapak ini menuliskan sms. Tapi tetap saja tak kubalas. Ahh, akupun merasa tak enak karena dia menuliskan seperti itu. Tapi kalau memang dia sudah tahu dia itu hanya menggangguku, mengapa juga masih mengirim sms seperti itu? Namun, ya sudah lah. Akhirnya kubalas juga pesan singkat bapak itu. “Mf pak. Byk tugas”.  Singkat padat. Tak lama kemudian ada balasan darinya. Dan lagi-lagi ini yang dibalasnya adalah, “jngn pngl aq bpk la, pngl nma aj, Ahmad”. Tak kubalas. “Yeee elaaaah. Ini Bapak kenapa siiiiih!” Jeritku dalam hati. Tapi aku harus sabar.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 3,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Kusmanto, SH, MH., ketua DPW PKS Papua. (Sunardi)

Kusmanto, Mutiara dari Timur Indonesia yang Memaknai Amanah dan Jabatan sebagai Jalan untuk Pengabdian

Organization