Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bahagia Bukanlah Tuntutan

Bahagia Bukanlah Tuntutan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Setiap kali menonton acara-acara di televisi, entah kenapa saya melihat potret masyarakat di negeri ini sepertinya begitu sulit untuk mendapatkan kebahagiaan, hampir setiap hari kita disuguhi oleh tayangan-tayangan yang kurang memiliki nilai-nilai yang membangun sebuah kesadaran dan karakter sebuah bangsa.

Mau tidak mau atau suka tidak suka kita menjadi ikut tahu tentang fenomena apa saja yang terjadi, mulai dari masalah rumah tangga yang sering dipublikasikan,cerita perselingkuhan yang sepertinya menjadi sangat menjual untuk diberitakan, fenomena kawin cerai yang setiap minggu kita dengar bahkan hampir setiap hari, belum lagi kasus-kasus yang menimpa kaula muda, maraknya NARKOBA, pergaulan bebas, banyaknya kasus kriminal dan berbagai fenomena sosial lain yang mengiris hati hadir di tengah mata-mata polos yang senantiasa ingin mencari arti bahagia yang sesungguhnya.

Salah satu fenomena yang sering saya lihat dari berbagai media dan sumber adalah ketika seseorang jatuh ke dunia yang penuh dengan kegelapan dan kehinaan lantaran himpitan ekonomi. Belum lama ini kita tentu mendengar tentang penutupan lokalisasi yang konon katanya adalah terbesar di wilayah Asia Tenggara, anehnya penutupan itu ternyata ada saja yang menentang bahkan mendemo, di antara mereka ada yang berdalih jika tempat ini ditutup maka mereka akan kesulitan mencari rejeki, tak sadar kalau di belakang mereka banyak orang-orang yang lemah bahkan cacat rela mengais rizki dengan cara yang halal kendati keuntungan tidaklah banyak seperti berjualan atau menjadi PKL. Tidak malukah untuk terus menjadikan pembenaran akan hal yang diharamkan Tuhan!

Di antara pendemo ada yang berdalih ingin membahagiakan orangtua, menopang kebutuhan keluarga dan menafkahi anak, akan tetapi cara yang ditempuh begitu instan, bagi seorang wanita mereka rela menjual dirinya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, berharap bisa bahagia atau membahagiakan orang yang dicintainya padahal sesungguhnya hati menangis dan berteriak, akhirnya hidup pun menjadi jauh dari keberkahan, yang ada malah masalah dan beban hidup semakin bertambah.

Sedangkan bagi seorang pria mereka rela melakukan apa saja kendati cara-cara yang ditempuh itu bertentangan dengan agama dan melanggar hukum seperti menjual obat-obatan terlarang, mencuri dan perbuatan yang menghinakan lainnya. Cara-cara seperti ini hanya akan menyulitkan dirinya untuk mencari kebahagiaan yang sesungguhnya, karena perbuatannya tersebut jauh dari nilai-nilai keislaman yang senantiasa mengajarkan seseorang untuk hidup sesuai dengan hati nurani dan akal sehatnya.

Alhasil hati mereka pun menjadi keras bak karang yang ada di lautan dan sulit menerima nasehat atau masukan dari orang lain, hatinya telah tertutup oleh syahwat dan menjadi pengikut syahwat, tertipu oleh kehidupan duniawi dan dunia pun telah menggelapkan mata hatinya, dunia akhirnya menjadi ujian baginya yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

“Maka datanglah sesudah mereka (setelah para nabi), pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)

Fenomena sosial modern

Pada kasus lain saya juga pernah melihat sebuah fenomena yang begitu menyedihkan, ketika ada obrolan santai di sebuah acara televisi yang membahas seputar kehidupan manusia yang mencari harta dari jalan yang diharamkan oleh agama dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sebut saja namanya “fulanah” karena pelakunya adalah seorang wanita, kala itu dia diundang menjadi tamu dengan nama samaran, dia pun membeberkan kepada para pemirsa tentang kisah hidupnya yang berasal dari keluarga yang tak mampu, karena tidak kuat dengan gaya hidup teman-teman di sekolahnya yang selalu memamerkan harta benda dan trend kekinian, si fulanah pun akhirnya rela menjual diri hanya untuk bisa mendapatkan materi atau barang berharga yang diinginkannya.

Tak kuat dan tak tahan dengan keadaan sosial di sekitarnya seolah-seolah perbuatan yang dilakukan si fulanah ini adalah sebuah tuntutan yang harus dilakukan, akan menjadi sangat berbahaya jika alasan ini dijadikan sebuah pembenaran bagi mereka yang ingin mendapat bahagia dengan cara yang instan tanpa memperdulikan perintah dan larangan Tuhan.

Tiada pilihan bagi mereka yang sudah jatuh untuk bertaubat dengan sungguh-sunguh kepada Allah Ta’ala, karena tiada kata terlambat untuk berbuat baik, mundur sesaat menjadi lebih baik daripada terus melangkah maju dalam kehinaan. Jika manusia bisa benar-benar bertaubat diiringi perbuatan-perbuatan baik kepada dirinya dan sesama, langkah inilah yang justru akan mendatangkan kebahagiaan yang sesungguhnya, langkah yang akan mendatangkan ketenangan pada jiwa-jiwa yang gundah dan langkah yang tidak memberatkan jika benar-benar berniat.

Duhai jiwa yang merindukan kebahagiaan.
Hiasilah diri dengan penuh keimanan dan keyakinan kepada Allah Ta’ala, sematkanlah di dalam dada kita, karena jika kita lengah dan mengenyampingkan iman yang ada di dalam diri ini, niscaya kita akan ikut terseret ke dalam derasnya arus kehidupan yang penuh dengan tipu daya, apalagi sebagaimana kita ketahui di zaman sekarang tidaklah mudah mencari lingkungan, teman curhat, tempat bekerja bahkan sarana yang shalih, kita tidak harus begitu saja menerima keadaan yang kurang baik di sekitar kita, akan tetapi kita jualah yang menjadi mesin pengubah untuk kehidupan yang lebih bermakna bagi sesama. Jadilah pribadi-pribadi yang bisa memberikan perubahan, paling tidak kita bisa menjadi manusia yang baik tanpa harus hidup dengan tuntutan orang lain.

Duhai jiwa yang merindukan kebahagiaan.
Banyak jalan menuju kemuliaan, harta atau gaya hidup yang selalu dipertontonkan ke publik tidak serta merta mengantarkan orang ke pintu gerbang kemuliaan, malah bisa sebaliknya materi bisa menjadikan orang masuk ke dalam lubang kegelapan jika orientasinya jauh dari nilai-nilai agama dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, kemuliaan hanya akan didapat dengan cara-cara sebagai berikut;

1. Saat kita mengagungkan Allah Ta’ala di atas segalanya.
2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi panutan dan tauladan hidup
3. Tidak takut dengan kesulitan hidup yang menghimpit
4. Tidak silau dengan gaya hidup orang lain
5. Tidak terlena dengan kenikmatan dunia yang menipu
6. Terus bersabar akan kehidupan yang dijalaninya
7. Menerima dan ridha atas segala ketetapanyang telah ditentukan oleh Allah ta’ala padanya
8. Terus berdoa dan berusaha dengan maksimal guna kehidupan yang lebih layak

Dengan begitu sejatinya mereka ini telah mendapat kebahagiaan dan jaminan dari Allah Ta’ala berupa keyakinan hidup, karena tiada tujuan yang paling dicari dan tiada kemuliaan selain mencari kemuliaan dengan jalan yang Allah Ta’ala ridhai.

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur”. (QS. Faathir : 10)

Duhai jiwa yang merindukan kebahagiaan.
Berbahagialah, karena Anda sudah hidup dengan aturan Tuhan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, Anda memilih untuk menjaga diri ketimbang menjerumuskan diri pada perbuatan-perbuatan tercela demi secuil materi yang belum tentu memiliki arti dalam hidup dan belum tentu membahagiakan Anda.

Bukannya Anda tidak bisa untuk melanggar aturan Tuhan, bukan Anda tidak cinta kepada dunia, bukan Anda tidak ingin sombong dan hidup dalam bermewah-mewahan, bukan Anda juga tidak bisa melakukan kejahatan dan perbuatan-perbuatan yang menghinakan diri, itu semua sungguhlah mudah dilakukan, akan tetapi ketika Anda memilih untuk tidak melakukan semua itu maka kebahagiaanlah yang didapat, ditambah ketenangan jiwa yang belum tentu didapat oleh mereka para pecinta-pecinta perhiasan dunia dan segala isinya.

Anda lebih memilih untuk menahan diri dari perbuatan yang menghinakan kendati itu mudah dilakukan dan Anda lah yang sesungguhnya menjadi pemenang karena Anda telah menaklukan dunia dengan tidak tunduk padanya dan mengalahkan hawa nafsu yang senantiasa menghilangkan kelezatan dan manisnya hidup serta menggiring anda kepada kesengsaran dan kehidupan yang merana. Alhasil orang-orang yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya sejatinya mereka bukanlah orang-orang yang berbahagia walaupun sepintas terlihat mereka memiliki perhiasan dunia dan hidup dengan kemewahan.

Duhai jiwa yang merindukan kebahagiaan.
Begitu tidak bahagianya mereka yang hidup dengan tuntutan yang masuk dan meracuni pikiran mereka, mereka ingin membahagiakan keluarga tapi dengan cara yang salah, mereka ingin menjadi kaya raya tapi dengan cara yang menghinakan diri, mereka ingin mendapatkan apa yang dimiliki oleh orang lain kendati cara yang digunakan mematikan akal sehat dan hati nurani, mereka lupa kalau bahagia itu tidaklah sesulit yang mereka bayangkan, bahagia itu bukanlah tuntutan kehidupan tapi bahagia itu mudah. Kenapa demikian?
karena…….
“Tiada yang membuat orangtua bahagia melainkan melihat anak-anaknya takut kepada Allah Ta’ala ”
“Tiada yang membuat para Istri bahagia melainkan melihat suaminya takut kepada Allah Ta’ala, begitu sebaliknya”
“Tiada yang membuat para guru bahagia melainkan melihat murid-muridnya berhasil dan takut kepada Allah Ta’ala ”

Teruntuk para anak
Bahagiakanlah orangtua dengan cara yang mudah, cara yang tidak membuat hati ini mati, biarkan hati kita tetap terang dan hidup dengan kejujuran di tengah banyaknya gesekan, rintangan dan ujian kehidupan.

Teruntuk pasangan suami istri
Begitu juga bagi pasangan suami istri, carilah bahagia dengan cara yang tidak menyulitkan Anda dalam melanggengkan pernikahan hingga akhirnya maut memisahkan, tidak mudah memang tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, hiduplah dengan cinta yang berasal dari Allah Ta’ala, senantiasa menghadirkan rasa takut akan azab dari-Nya dan terus mengharap ridha dan ampunan-Nya yang begitu luas.

Teruntuk para murid dan siapapun pada umumnya
Bahagiakanlah orang yang ada di sekitar Anda dengan cara yang baik, sederhanakanlah hidup hingga akhirnya Anda bisa berjalan dengan ringan dan mudah, teruslah berjalan menatap masa depan dengan menghadirkan kebahagiaan menjadi pribadi-pribadi yang jujur.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

10 Tips Hidup Bahagia dan Penuh Percaya Diri