Home / Pemuda / Cerpen / Bersabarlah, Sayang!

Bersabarlah, Sayang!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Hari itu adalah hari yang panas di bulan Ramadhan. Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba Reno, anak semata wayangku merengek meminta dibelikan es sirup yang dijual di tepi jalan samping gerbang utama kompleks perumahan sederhana kami di sudut kota Solo.

“Bun, kapan tho ini bedugnya? Kok dari tadi lama nggak bedug-bedug? Aku udah laper, haus banget juga, Nda, aku minum sekarang ya, haus banget, ayo kita beli es sirup yang di situ itu lho Nda. Duh, segarnya, slurp… enak banget pasti itu es sirupnya” rengek Reno kepadaku sambil menarik-narik rok cokelat yang kukenakan.

Rengekan khas anak kecil yang sedang lapar dan haus, wajar sih karena hari ini adalah hari pertama anak shalihku ini menahan lapar dan dahaga di bulan Ramadhan. Pastilah hari ini menjadi hari yang penuh perjuangan baginya. Jarum jam terasa sama sekali tak berputar, kalaupun bergerak, itu terasa sangat lama sekali baginya. Makanan dan minuman apapun terlihat sangat menggoda, seolah semuanya melambai-lambai meminta untuk segera diteguk dan dicicipi sebagai pelepas lapar dan dahaga.

“Sayang, anak shalih bunda, ini baru jam 10 pagi. Buka puasanya masih 2 jam lagi, masih agak lama, nanti kalau sudah sampai rumah tidur aja ya, atau main game, nanti kalau sudah jam 12 pas adzan dzuhur, Reno baru boleh buka puasa, nanti bunda buatin es sirup spesial deh, yang lebih enak buat anak shalih bunda, tapi harus sabar ya, tinggal 2 jam lagi kok, anak sholeh pasti bisa bersabar, iya kan, Sayang?” jawabku sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut ikalnya.

“Heeh, ya udah deh” jawab Reno sambil mengangguk tanda setuju, walau dengan berat hati dan ekspresi sedikit kecewa.  Aku tahu, pasti dia ingin sekali, cuaca hari itu memang sangat menyengat tidak bersahabat, matahari dengan begitu congkaknya merangkak dengan sangat lama sekali lalu bertengger dengan santainya di langit biru, membuat kerongkongan terasa sangat kering kerontang, meminta sang empunya untuk segera diairi. Tapi aku harus mengajarinya untuk berlatih puasa, berlatih bersabar, dan membiasakannya untuk lebih meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan. Terlebih lagi, aku ingin anakku belajar bahwa meraih surga dan ridho Allah SWT itu tidak mudah, memerlukan kesabaran, kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan karena Allah. Seperti halnya ketika di dunia, kita harus menahan hawa nafsu, menghindari hal-hal yang dilarang-Nya dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dengan ikhlas. Agar di hari pembalasan nanti, kita akan merasakan balasan surga sebagai buah kesabaran, perjuangan dan pengorbanan dalam melaksanakan syariat-Nya semasa di dunia, yang kenikmatannya Allah digambarkan dalam surat Ar-Rahman. Insya Allah.

Sesampainya di rumah, ia pun segera tidur dan kubangunkan ketika adzan zhuhur berkumandang. Seusai berdoa, anak shalihku menyantap hidangan buka puasanya dengan sangat lahap. Senang hatiku melihatnya.

“Slurrrrpppp, enak banget Bun, es sirupnya, seger banget” ucapnya sumringah seusai melahap sepiring nasi dengan menu kesukaannya.
“Sekarang percaya kan, apa yang bunda bilang, semuanya akan terasa sangat nikmat kalau Reno bisa bersabar, nah waktunya berbuka udah habis, sekarang puasa lagi sampai adzan maghrib ya, Nak”
“Iya, Bun, nanti dibuatin es sirup lagi ya, yang lebih enak lagi ya!” jawabnya sambil tersenyum kepadaku.

***

Pikiranku melayang menyusuri sudut-sudut ingatanku, mencoba mengingat kejadian siang 26 tahun silam itu, walau bunda tidak menyebutkan ini adalah catatannya di Ramadhanku yang ke berapa, namun aku yang telah berusia 4 tahun saat itu membuatku mampu mengingat dengan jelas memori indah hari pertama puasa tengah hari itu. Hatiku terenyuh membaca buku harian bunda. Tanpa sengaja air mataku menetes, bahkan mengalir menganak sungai, teringat bunda yang telah dipanggil Allah SWT dua hari yang lalu. Semoga Allah senantiasa memberikan tempat terbaik untuk Bunda. Aku janji, Bun, aku akan mencintai dan mendidik anak-anakku seperti engkau mencintai dan mendidikku. Aku juga akan mengenalkan dan mengajarkan Islam kepada anak-anakku seperti engkau dan Ayah mengajariku, bahkan kalau bisa aku akan melakukannya lebih dari itu. Terima kasih Bun, aku sayang Bunda. Tiba-tiba lamunanku buyar…

“Yah, ayah kenapa kok nangis? Yah, aku udah haus banget nih, boleh minum sekarang ya, Yah?” tanya anak laki-laki berambut ikal dan berwajah hitam manis yang mungkin telah memandangiku sedari tadi. Dengan penuh harap ia memandangiku lekat-lekat, menanti persetujuan dariku. Aku memutar otak, mencari kalimat yang tepat untuk menenangkan anakku yang berusia 5 tahun ini agar ia mengurungkan niat untuk berbuka sebelum waktunya dan mau bersabar menunggu waktu berbuka. Aku maklum sih, hari ini selain menjadi hari pertama bulan Ramadhan juga merupakan hari pertama kalinya ia puasa satu hari penuh.

“Bersabarlah, Sayang… Tinggal 2 jam lagi adzan maghrib kok, sabar ya, orang yang sabar disayang Allah, Nak.”
“Aaah, lama itu yah, aku udah hauuusss banget” keluhnya sambil membanting mobil-mobilan yang ia pegang, bibirnya manyun.
“Biar nggak terasa lama, sekarang kita ngaji di masjid dulu yuk, nanti ketemu banyak teman-temanmu di sana, terus nanti juga diceritain kisah Nabi & Rasul sama guru TPA yang sedang mengajar, seperti yang Ayah atau Bunda ceritain tiap malam kalau Lana mau tidur itu lho, Lana paling suka kan kalau diceritain Nabi & Rasul? Yuk kita berangkat”.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan UI Angkatan 2010 | Kaderisasi Salam UI 2014 | DPM UI 2013 | BPM FIK UI 2012 | FPPI FIK UI 2011 | BEM FIK UI 2011 | Lembaga Dakwah Sahabat Asrama UI 2010

Lihat Juga

ilustrasi perang salib (ATOMIC FLEA's photos)

Puasa, Penistaan Agama dan Perang Opini