Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di Balik Kesedihan dan Kesenangan yang Sementara

Di Balik Kesedihan dan Kesenangan yang Sementara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Manusia merupakan makhluk multi dimensional. Salah satu dimensi eksistensialnya adalah dimensi afeksi dan perasaan. Dengan dimensi ini manusia terkadang merasakan kegembiraan dan keceriaan. Terkadang terkejut dan takut. Terkadang juga lantaran beberapa faktor, dirundung kesedihan dan kepiluan.

Kesedihan dan kesenangan merupakan dua hal yang berbeda, namun sebenarnya saling melengkapi. Seseorang tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya bahagia, jika ia belum pernah mengalami kesedihan. Dan sebaliknya, seseorang tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kesedihan, jika ia tidak mengerti apa itu kesenangan. Kedua hal sudah tidak bisa ditepis lagi, karena semua manusia pasti pernah mengalaminya, bahkan bisa dikatakan sudah menjadi kodrat manusia.

Kesenangan dan kebahagiaan sudah pasti merupakan idaman semua manusia. Setiap detik yang dilakukannya pasti bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan yang diinginkan, mulai dari mengumpulkan harta yang banyak, pendidikan yang tinggi, hingga keluarga yang sejahtera. Namun tidak banyak dari mereka mewujudkannya dengan cara yang benar. Demi kesenangan, seseorang rela membunuh temannya sendiri, demi harta yang berlimpah seorang pejabat menjadi koruptor, tanpa memperhatikan dampak yang terjadi di kalangan bawah. Segala macam cara menjadi halal dan syariat yang seharusnya menjadi pijakan tidak lagi dihiraukan, demi mencapai kesenangan yang diinginkan.

Berbeda dengan kebahagiaan. Kesedihan dan kesengsaraan merupakan suatu hal yang sangat tidak diinginkan semua orang, bahkan banyak dari mereka yang dirundung kesedihan serta putus asa dalam menjalani hidup hingga akhirnya mengakhiri hidupnya. Sungguh suatu perbuatan yang sangat disayangkan, yang mana seharusnya mereka bisa menyelesaikannya dengan baik namun diselesaikan dengan cara yang salah. Memang terkadang anggapan mereka cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalah adalah dengan cara mengakhiri hidup, padahal dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Kebanyakan manusia tidak mengetahui, betapa dekatnya ia dengan keberhasilan di saat ia menyerah.

Bersabar dan bersyukur, dua hal inilah yang harus dimiliki oleh setiap manusia, karena sampai kapanpun manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Selesai dengan kebutuhan yang satu, manusia akan bergegas untuk segera memenuhi kebutuhan yang lebih dari sebelumnya. Sebenarnya sifat dan hasrat tidak pernah puas ini baik, karena dengan ini manusia akan selalu berusaha menjadi lebih dari sebelumnya. Namun di sisi lain hal ini menjadi sumber dari masalah kehidupan. Sebagai contoh, pada saat seseorang mempunyai rasa iri dengan sesuatu yang dimiliki orang lain dan disertai dengan ambisi yang tinggi, namun ia tidak memiliki kapasitas untuk memiliki sesuatu itu, maka ia akan membenarkan segala cara untuk memilikinya termasuk mencuri. Padahal dengan bersabar dan bersyukur, manusia akan dapat membentengi sifatnya yang tidak pernah akan puas dengan sesuatu yang dimilikinya.

Dan boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”. Inilah kalimat yang Allah firmankan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 216. Terkadang manusia membenci sesuatu, yang mana sesuatu itu padahal amat baik baginya dan menyukai sesuatu, padahal amat buruk baginya.

Kesedihan di dunia tidak bisa disebut kesedihan jika akhirnya mendapatkan surga. Dunia merupakan penjara bagi mereka yang beriman dan bertakwa, yang mana dalam kehidupannya mereka tidak leluasa bergerak bebas, di setiap langkahnya terdapat syariat yang mengikatnya. Bagi mereka yang taat dengan syariat Islam, walaupun di dunia mereka sangat berat dan sengsara, di akhirat nanti mereka akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan yang sejati yakni surga, yang disebabkan karena keimanan dan ketakwaan yang dimilikinya.

Kesenangan di dunia tidak bisa disebut kesenangan jika akhirnya mendapatkan neraka. Mereka yang telah buta dari jalan yang lurus akan menganggap dunia yang sementara ini sebagai surga. Di setiap langkahnya mereka tidak peduli dengan syariat Islam, bahkan menganggapnya sebagai sumber pengekangan hidup. Dalam pikiran mereka tidak ada halal dan haram, yang ada hanya foya-foya dan bagaimana menikmati hidup yang sekali ini dengan kesenangan yang semu.

Sebagai umat Islam, kita harus paham akan arti kesedihan dan kesenangan yang sejati, agar tidak terjerumus dalam lembah nafsu yang akan mengantarkan kepada kesesatan. Bersyukur saat mendapatkan nikmat dan bersabar saat diberi cobaan oleh Allah merupakan suatu keharusan bagi umat Islam, karena Allah tidak akan memberi cobaan kepada hambanya di luar batas kemampuannya.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abdul Rozak Ali M
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Pendidikan Agama Islam. Ketua Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah dan Staff Tabligh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Lihat Juga

Kiat Menjadi Lawan Bicara yang Menyenangkan