Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kerinduan yang Membuncah pada Rasulullah Muhammad SAW

Kerinduan yang Membuncah pada Rasulullah Muhammad SAW

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Para ahli ilmu ini sepakat menyimpulkan bahwa syarat diterimanya suatu amal adalah ikhlas karena Allah dan sesuai dengan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ittiba kepada Rasullullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu syarat diterimanya amal. Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengutus beliau sebagai pembawa risalah-Nya kepada umat manusia dengan seruan yang hasanah dan penuh hikmah.

Seorang manusia biasa yang merasakan sakit, lapar, haus, kantuk, lelah, dan perasaan lainnya sebagaimana apa yang kita rasakan sama adanya sebagai makhluk Allah Maha Pencipta yang menyempurnakan ciptaan-Nya. Semua sebagai hikmah bahwa Islam adalah petunjuk insaniyah yang disampaikan kepada umat dan mampu untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar teori sempurna yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladannya.

Paling tidak, ada dua alasan kita sebagai seorang yang berserah diri (muslim) mengikuti Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena perintah Allah, yang beliau sebagai teladan dalam mengaplikasikan Islam dalam kehidupan. Dan karena, kecintaan kita kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.

“Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Siapa sebenarnya beliau salallahu ‘alaihi wa sallam? Yang membuat ‘Ali bin abi thalib radhiyallahu `anhu yang masih muda usianya dengan yakin tidur di tempat tidur beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada hari ketika segerombolan algojo nan tangguh utusan dari kaum kafir di darul nadwah yang bersepakat dengan makar membunuh beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Makar hina yang dengan setiap kabilah mengirimkan utusan jagal terbaiknya dengan menghunuskan pedang, setiap pedang itu harus berlumur darah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak ada pembelaan dari manapun dan tidak ada yang bisa disalahkan. Tapi, ‘Ali bin abi thalib radhiyallahu `anhu tidur ditempat tidur beliau dengan yakin dan tanpa keraguan sedikitpun.

Rasulullah juga yang membuat Abu bakar As-shiddiq radhiyallahu `anhu sahabat mulia, teman seperjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, ketika berada di Gua Tsur dengan sekuat tenaga dan tidak bergerak menahan sakitnya gigitan ular buas yang menggigit pergelangan kakinya karena khawatir beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang tertidur di pangkuannya akan terbangun. Hingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun akhirnya terbangun bukan karena gerakan atau teriakannya, melainkan tetesan air mata menahan sakit yang menetes di pipi beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Serta Asma’ binti abu bakar seorang wanita tangguh dalam keadaan hamil menjaga rahasia keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan disiplin mengantar makanan melewati pasir panas dan cadasnya batu bukit Tsur.

Rasulullah juga membuat Thalhah bin ‘ubaidillah radhiyallahu `anhu, seakan terlupa kalau manusia bisa mati dengan sayatan pedang dan hujaman anak panah di perang Uhud. Bukan menghindar atau bahkan lari menyelamatkan diri, tapi lebih memilih menjadi tameng dengan tubuhnya karena takut kekasihnya Rasullullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena luka.

Rasulullah adalah yang membuat ‘Ukasyah radhiyallahu `anhu sahabat yang cerdas dan selalu bersegera dalam doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berfikir keras untuk dapat memeluk kekasihnya shalallahu ‘alaihi wa sallam sampai saat-saat akhir, ingin menyentuh kulitnya dalam pelukan haru suasana turunnya wahyu terakhir.

Rasulullah pun yang membuat para sahabat mulia yang berkumpul pada hari Jumat di Padang Arafah saat Haji Wada’ tidak mampu menahan bendungan air mata dengan turunnya ayat terakhir Qur’an sebagai penyempurna risalah dan pesan perpisahan telah tertunaikannya amanah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penyampai risalah Allah azza wa jalla.

Rasulullah juga yang membuat malaikat pencabutnya begitu sopan meminta izin masuk rumah kepada Fatimah radhiyallahu `anha yang sedang menjaga ayahnya shalallahu ‘alaihi wa sallam di detik-detik akhir. Yang membuat malaikat Jibril mulia penyampai wahyu bahkan tidak tega menyaksikan kekasihnya shalallahu ‘alaihi wa sallam merasakan sakitnya sakaratul maut.

Rasulullah yang membuat Umar bin khattab radhiyallahu `anhu menghunus pedangnya seraya berkata “tak seorangpun yang kudengar menyebut rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, melainkan ia akan aku pancung dengan pedangku ini!”, ketika berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat terdengar pertama kalinya. Ekspresi kesedihan yang begitu mendalam di hati Abu hafsh (bapaknya singa) yang ditakuti (Alfaruq) dengan air mata yang tak terbendung lagi. Hingga Abu bakar radhiyallahu `anhu mengingatkan dan menenangkan,
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (QS Az Zumar:30).Bahwa kematian sebagai fitrah seorang insan.

Begitu banyak kisah yang akan sulit kita hitung, betapa orang-orang di sekitarnya yang begitu mencintai beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Cinta yang begitu tulus dan tinggi setelah kecintaan kepada mereka (radhiyallahu `anhum) kepada Allah azza wa jalla Pemilik alam semesta dan seisinya.
Yaa Allah, berikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad sebagai hamba-Mu, nabi yang ummi. Juga kepada keluarga dan para sahabatnya serta berilah keselamatan sebanyak yang terjangkau oleh ilmu-Mu; yang tergores oleh pena-Mu, yang terangkum oleh kitab-Mu. Ridhailah yaa Allah, para pemimpin kami, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, serta semua sahabat, semua tabi’in dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka sampai hari pembalasan.

Beliaulah manusia pilihan Allah azza wa jalla pemilik alam semesta beserta seisinya. Jauh sebelum diangkat menjadi seorang Rasulullah telah memiliki akhlak mulia, cerdas, dan begitu dipercaya.

Insan yang dari awal resah hatinya hingga memilih uzlah dari kebodohan perilaku umat jahiliyah, hingga malaikat mulia merengkuh dalam peluknya yang begitu kuat bersama turunnya ayat pertama Qur’an yang penuh berkah di bulan yang penuh berkah (bulan Ramadhan). Insan dengan fisik biasa yang terluka begitu parah ketika menyeru kepada agama Allah subhanahu wa ta’alla karena dilempari manusia yang jahil di thoif. Ditawari oleh malaikat mulia dengan untuk memberi azab sebagai sunatullah kepada penduduk jahil thaif, tapi justru menolak sembari berharap hidayah dan mendoakan kebaikan. Insan yang meninggalkan kampung halamannya Makkah al Mukaramah (kampung halaman yang dicintai) bukan karena takut dengan orang kegarangan musyrikin, tapi karena perintah Allah azza wa jalla. Insan yang keseharian, kata, perbuatan, dan kejadiannya adalah qudwah (tauladan) bagi umat. Diabadikan sebagai pedoman menjalankan kehidupan, akhlaknya seakan Qur’an yang berjalan. Insan yang ketika tahu waktunya telah akan habis di dunia, dimanfaatkan untuk terus berpesan dan khawatir keadaan umat yang dicintainya. Insan yang ketika merasakan pedihnya sakaratul maut berharap agar umatnya tidak merasakan sedemikian. Insan yang ketika nanti dibangkitkan di hari kebangkitan yang pertama ditanyakan dan disebut adalah umat yang dicintainya. Hingga malulah diri ini sebagai umat beliau masih banyak celah dalam meneladani beliau dan mencintainya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Insan yang renyuh hati ini (hanya mampu membayangkan) tentang perjalanan hidup beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, penuh dengan hikmah dari Allah subhanahu wa ta’alla ajarkan pada kita.

Hingga Abu Bakar radhiyallahu `anhu tidak ingin absen dari setiap sunnah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sepeninggalannya, dengan bertanya pada anak perempuannya ummul mukminin aisyah radhiyallahu `anha apalagi sunnah Rasulullah yang belum ia lakukan padahal beliau adalah yang paling ittiba’. Hingga ada sahabat yang melangkahkan kaki, tempat di mana Rasulullah pernah berada, dan setiap tindakan Rasulullah diikutinya karena kecintaan akan sunnah dan pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah azza wa jalla meridhoi para ahli hadits karena kecintaannya mencatat kata dan perilaku nan mulia hingga memudahkan kita, serta mereka sebagai orang yang paling banyak bershalawat kepada nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

“Sungguh telah datang seorang Rasul dari kaum mu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (Q.S. At-Taubah: 126-127)

“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah, Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”
Kerinduan yang begitu mendalam kepada Mu Yaa Allah, kerinduan bersua dan berjumpa dengan wajah Mu, Ilah yang Menciptakan dan Menjaga kami. Kerinduan kami kepada kekasih kami Yaa Rabbi, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, pertemukan kami dengannya kelak. Kami yang lemah, yang terus belajar memperbaiki kekurangan diri, yang berusaha terus taat kepada Rabb Maha Kuasa dan Maha Pengampun, yang berusaha menyempurnakan akhlak mengikuti pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ridho Setyawan
Asal Lampung Utara. Sedang belajar di Binjai, SumUt. KARIM FK UNIMAL.KAMMI.
  • Sri Fatimah

    Rindu …

Lihat Juga

Rindu Bergurau Berdua