Home / Pemuda / Cerpen / Aku Sebut Ini Cinta

Aku Sebut Ini Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Pagi itu, entah mengapa aku terkejut bisa melihatnya, meskipun belum terlalu yakin bahwa  itu adalah dia. Ya, seseorang yang pernah hadir dalam hidupku, seseorang yang mengubah segala hidupku. Namun dengan perasaan yang menggebu ini, segera aku alihkan pikiran-pikiranku pada hal yang lainnya, sungguh tak pantas rasanya jika aku memikirkan seseorang yang belum patut aku pikirkan.

Terik mentari siang ini cukup membuat diri menjadi gerah, ingin segera rasanya aku sampai ke rumah, kukendarai motor Mio Sporty berwarna putih kesayanganku, dengan kecepatan yang standar, 60km/jam. Traffic Light kala itu berwarna hijau, entah mengapa aku memberhentikan motorku tepat sebelum zebra cross. “Tiiitt” bunyi klakson motor dari belakangku, “Astaghfirullah” kuucapkan pelan, ada apa dengan aku? Segera aku menarik pedal gas motorku.

“Afwan Ukh, nanti jangan lupa datang ya, jam 15.00 . Kalau bisa sekalian ajak Mbak Diana.” pesan singkat itu kubaca melalui ponsel bututku, Alhamdulillah… hampir saja aku tak hadir di Majelis itu, namun Ukhti Sinta mengingatkanku jika sore ini ada pertemuan Ta’lim. Aku sedikit mengeluh pada diri, mengapa aku pulang ke rumah jika Ta’lim itu satu jam lagi akan dimulai? Bukannya jaraknya terlalu jauh, menempuh waktu 20menit untuk sampai ke Masjid itu, mengapa aku tak langsung singgah di Masjid itu? Ahh, mungkin ada hikmah yang belum kuketahui nantinya.

Aku melirik arloji yang mengikat di tangan kiriku, tepat pukul 15.20 aku sampai di halaman Masjid kampus ini, aku pun bertanya pada Mbak Diana, “Tumben ya Mbak, kok udah mulai, biasanya molor setengah jam!”. “Katanya yang ngisi ta’lim Ikhwan dari Jawa” jawab Mbak Diana sambil meletakkan sandalnya di samping sandal yang lumayan banyak. Meskipun pemateri dari luar kota pun biasanya waktunya molor kok, mengapa Ta’lim sudah dimulai? Dan yang datang pada Ta’lim ini pun tak sedikit jumlahnya. Rasanya aku malu kalau ketahuan telat datang. Segera aku bergabung dengan Akhwat, menyalaminya seperti biasanya, dan duduk di barisan paling belakang, karena tempatnya sudah penuh.

“Siapa pematerinya?” tanyaku pada Hanah, Akhwat yang sedang duduk di sampingku, karena terlindung Akhwat yang lainnya, aku menanyakan hal konyol ini.
“Akhina Ummar!” tukasnya.
“Emm???” aku merasa kaget mendengar nama itu, aku tundukkan kepalaku, menghilangkan prasangka-prasangka.
“Assalamu’alaikum..” Tukas sang pemateri memberikan salamnya. Jantung ini merasa lebih berdetak kencang mendengar suara itu. Kulihat seseorang yang berbicara itu. Entah perasaan apa yang kurasakan; rindu, senang, takut, kecewa dan ahh bercampur aduk rasanya. Lantas kuucapkan istighfar sebanyak-banyaknya. Mengapa aku harus melihatnya lagi, cukup rasanya jika tadi siang hanya berpapasan saja dan akupun tak yakin jika itu dia. Sampai-sampai aku tak menyimak apa yang disampaikan pemateri itu. Hingga Ta’lim itu berakhir, tiada hentinya aku beristighfar.

Jam bekerku berbunyi keras, segera kumatikan alarm itu, agar tidak mengganggu orang yang sedang tidur lainnya. Jam itu menunjukkan ke angka 2. Segera aku beranjak dari tempat tidurku, melawan setan-setan yang bermain dalam diriku. Ya.. aku bisa melawannya. Kulaksanakan sunnah Rasul pada malam ini dengan tak lupa bermunajat meminta ampun kepada–Nya. Bermunajat kepada-Nya adalah cara jitu untuk menghilangkan segala resah yang ada dalam hidupku ini. Ditambah membaca ayat-ayat yang indah membuat diri seolah berada di taman bunga yang dihinggapi oleh banyak kupu-kupu.

Hari ini seperti biasa, dengan kecepatan penuh kukendarai motorku, menuju kampus tercinta, Universitas Palangkaraya. Karena aku harus menempuh waktu 15menit untuk sampai ke gedung kuliahku, kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, “07.48” sedikit aku menyeletuk “ah, lama sekali di traffic light ini.

Kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, melihat parkiran motor yang penuh di samping gedung kuliah ini hingga membuatku ragu untuk masuk ke dalam ruang kuliah. Namun kuberanikan diri untuk memasuki gedung kuliah. Dan ternyata sang Dosen belum datang. Hingga pada akhirnya usai sudah Mata Kuliah ini, tepat pukul 09.05, segera aku bergegas dari tempat dudukku, namun salah satu temanku berujar
“Anggi, kalo mau ke masjid ngajak-ngajak dong, kita kan mau ikutan shalat juga!” ucapnya dengan nada keras.

“Jangan teriak-teriak! Aku gak suka dengar orang teriak!” tegasku sambil sedikit tersenyum.

“Kenapa?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

Aku mendekatinya, dan berbisik “Karena suaraku kecil, makanya aku nggak suka mendengar teriakan dan berteriak!” tegasku.

Kemudian setelah melaksanakan shalat sunnah Dhuha, aku bersama teman-teman mengobrol di beranda masjid, memperbincangkan kuliah, cita-cita, bakat hingga sampai pada titik yang membuatku merasa canggung pada pembicaraan ini. Ta’lim kemarin sore, yah, pembicara yang menurut mereka mengagumkan dan memotivasi sekali. Aku hanya diam mendengarkan mereka memperbincangkan itu, dan ada salah satu dari mereka yang ingin menjadi seperti pemateri itu, selalu memberi masukkan yang menggugah.

“Kalau menurutmu gimana, Anggi?” tanya Eren. Aku bingung harus berkata apa, yang jelas aku tak mendengarkan apa yang disampaikan pemateri, kemarin aku sibuk pada ingatan masa laluku, dan sibuk beristighfar.
“Anggi??” ucap Eren sambil menepuk pundakku.
“Bagus kok!” jawabku singkat. Namun tiba-tiba ponselku berdering, ahh, ini saat yang tepat untuk mengangkat telepon ini, terlihat nomor yang memanggil tak mempunyai nama di kontak ponselku.
“Assalamu’alaikum?”sapaku,
“Wa’alaikumsalam” jawabnya yang membuat tiba-tiba jantung ini berdegup kencang.
“Anggi?” tanyanya singkat.
“Iya!”
“Ini, Ummar.. Nggi..” tukasnya meyakinkanku, aku tak berbicara sedikitpun, melainkan hanya sedikit gugup dalam bereaksi.
“Insya Allah nanti malam jadi, jam 7. Ke rumah Anggi bersama Orang Tua!”
“Hah?? Maksudnya apa?” ucapku dengan terkejut
“Lho, Ibu Anggi nggak ngasih tau ya?” tanyanya lagi. Waduh.. situasi apa ini? Ada apa ini?.

Tiba-tiba sambungan telepon pun diputus ketika saling mengucapkan salam dan menjawab salam. Aku segera pulang ke rumah, dan pamit kepada teman-teman. Rasanya aku ingin bertanya pada Ibuku, mengenai hal yang membuatku bingung ini. Ada rasa gembira serta campur aduk ketika mendengar hal ini. Sehingga aku hanya bisa senyum-senyum tak jelas menyikapi semuanya.

Aku sebut ini cinta. Ketika cinta tanpa maksiat. Ketika cinta ini tak ada campur tangan dari setan-setan. Dan ketika kediaman cinta ini mendapatkan hasil. Aku teringat cintanya Fatimah dan Ali. Hihihihi, menganehkan, dan menakjubkan.

Sampai di persimpangan yang tidak jauh dari rumah. Aku melihat mobil Avanza yang salah arah dari arah depan, aku memelankan kecepatan motorku sambil menyinggah di tepi jalan, aku pencet klakson motorku, namun mobil itu dengan kecepatan tinggi terus saja menerobos hingga akhirnya mobil itu tepat menghadangku.

“Braaak..”
Kupejamkan mata ini tanpa kesadaran dan berpasrah.
“Assyhaduanla.. ilahaa illallah.. waasyhaduanna.. Muhammadar Rasulullah…”

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 6,31 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Reni Novita Lestari
Mahasiswi di Universitas Palangkaraya. Sangat senang dengan dunia ke-sosial-an . sebagai Ka Kom A FSLDK Kalimantan Tengah, pengurus Relawan Indonesia Palangka Raya, FLP Palangka Raya, dan siap mensyiarkan Islam melalui tulisan

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Eksistensi Ekonomi Syariah di Indonesia