Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Untuk Apakah Beribadah?

Untuk Apakah Beribadah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ibadah khusuk (inet)
ibadah khusuk (inet)

dakwatuna.com Pentingnya bertanya dan menjawab pertanyaan sendiri. Bagaimana dan mengapa adalah pertanyaan yang seharusnya paling banyak dipertanyakan pada diri sendiri. Seperti pertanyaan bagaimana kita melakukan peribadatan kepada Allah? Dan mengapa kita harus melakukannya? Mengapa puasa dijalani sementara shalat saja jarang? Untuk apa kita beribadah? Inilah sederetan pertanyaan yang seharusnya bisa kita jawab.

Betapa sering shalat yang kita lakukan kepada Allah tapi kenapa tidak juga menjauhkan kita dari perbuatan keji dan mungkar. Bukankah Allah telah menyebutkan bahwa shalat mejauhkan kita dari perbuatan keji dan mungkar? Selain itu, berapa banyak zakat yang telah dikeluarkan namun tidak juga rasa sosial kita meningkat. Berapa tahun kita sudah berpuasa namun masih juga hawa nafsu menguasai kita. Setidaknya itulah sederetan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

Fenomena Ramadhan

Terkait dengan bulan Ramadhan, fenomena yang akrab dengan bulan Ramadhan adalah mencari makanan berbuka. Oleh karena itu, berderet rak jualan menjajakan makanan di pinggir jalan. Sepintas terlihat bahwa sangatlah wajar dengan apa yang biasa dilakukan oleh penjual tersebut. Namun sadarkah kita apa yang telah kita lakukan. Bukankah begitu banyak orang yang berjualan tersebut meninggalkan apa yang wajib baginya yaitu shalat. Sulit kita menemukan para penjual tersebut ada yang melakukan shalat dengan tepat waktu, apalagi untuk mengharapkan shalat secara berjamaah. Selain itu, ketika maghrib tiba, biasanya mereka hanya mematikan lampu atau menutup tempatnya saja, tanpa memastikan diri untuk menunaikan yang diwajibkan itu. Selain itu, mengapa hanya waktu maghrib saja aktifitas mereka dihentikan. Bagaimana dengan dengan waktu lainnya seperti zuhur dan ashar misalnya?

Disisi lain, masyarakat yang biasa berbuka puasa di rumah juga terlihat jarang ke masjid untuk melakukan shalat maghrib berjamaah. Alasan yang sering disampaikan adalah karena masjid jauh dari rumah. Sehingga kalau diluar bulan puasa masjid lebih ramai daripada ketika bulan Ramadhan.

Akan tetapi ketika shalat isya berlangsung, barisan-barisan shaf shalat sudah mulai terisi. Mulai dari ayah, ibu anak, menantu bahkan cucu sekalipun ada dalam barisan. Barangkali yang menjadi persoalan untuk tidak melakukan shalat maghrib berjamaah adalah teringat hidangan berbuka yang belum dihabiskan. Karena waktu antara berbuka dengan maghrib tipis sekali hanya berbeda beberapa menit saja sehingga dirasa kurang waktu untuk melakukan perjalanan dan shalat maghrib berjamaah di masjid.

Fenomena yang juga sering kita lihat selama bulan Ramadhan adalah shalat sunah setelah isya yang tidak dilakukan. Alasan yang sering diungkapkan karena buru-buru mengejar shalat tarawih. Selain itu bacaan iftitah juga sering diabaikan. Biasanya sang imam langsung membacakan surah Al-fatihah. Sehingga beberapa sunah dalam shalat terlewatkan begitu saja.

Hal yang lebih miris terlihat adalah begitu banyak orang yang berpuasa akan tetapi shalatnya jarang. Puasa sudah menjadi semacam kebiasaan atau adat yang mesti dilakukan. Sementara shalat yang seharusnya dilakukan sehari semalam lima waktu jarang dilakukan. Barangkali alasan tidak dilakukan kerena sudah terlalu sering bukannya seperti pada bulan Ramadhan yang hanya setahun sekali. Selain itu, pelaksanaan puasa juga tanpa mempelajari dan memahami apa sesungguhnya makna dibalik pelaksanaan puasa tersebut. Padahal salah satu tujuan puasa adalah untuk dapat mengendalikan hawa nafsu. Sehingga setelah melakukan puasa seolah tak meninggalkan bekas sedikitpun.

Untuk memastikan bahwa apa yang kita lakukan berdasarkan tuntunan dan mendapatkan ahala tak lain dan tak bukan adalah dengan berilmu. Dengan berilmulah kita dapat memahami mana yang sunah, rukun dan lain sebaginya. Sehingga setiap kita dapat menyandang ilmu yang memadai.

Beribadah untuk Pahala

Pahala adalah harapan yang sering digantungkan oleh orang yang melakukan peribadatan kepada Allah. Setidaknya itulah yang sering diharapkan. Sementara perbuatan yang dilakukan tidak mencerminkan bila ibadah yang dilakukannya untuk mendapatkan pahala yang sebanyak-banyaknya.

Bayangkan saja, diketahui bahwa pahala shalat berjamaah dua puluh tujuh kali lebih banyak dari shalat sendiri. Belum lagi ada hadist yang menyatakan bahwa tidaklah sempurna shalat seseorang apabila dia mendengar adzan tapi tidak bergegas menunaikan shalat ke masjid. Selain itu, kalau diketahui, shalat setelah isya hukumnya sunnah muakkad namun mengapa banyak yang tidak melakukan malah langsung bergegas melaksanakan shalat sunah tarawih.

Untuk melakukan shalat isya hanya butuh waktu sekitar lima menit dan pahalanya seperti melakukan salat semalaman. Sementara shalat subuh seperti melakukan shalat sehari semalam. Padahal shalat subuh dalam bulan puasa sangat mudah dilakukan kerena telah terbangun untuk melakukan sahur. Sungguh kalau alasan melakukan ibadah untuk mendapatkan pahala mengapa begitu banyak tempat pahala justru ditinggalkan. Mengapa justru memaksakan diri untuk melakukan shalat sunat tarawih yang membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih besar. Apalagi dengan meninggalkan shalat sunah lain lebih lagi yang wajib.

Rasanya perlu saya tegaskan, bukan bermaksud mengajak untuk meninggalkan shalat tarawih. Akan tetapi laksanakan dengan baik dan lebih baik. Hanya saja kalau shalat sunah lainnya apalagi yang dikuatkan, prioritaskanlah itu terlebih dahulu. Seperti halnya shalat sunah setelah isya. Selain itu cobalah untuk terus menyempurnakan rukun-rukun dan sunah-sunah dalam melakukan shalat tersebut.

Perlu saya tegaskan sekali lagi, jika tujuan melakukan ibadah untuk mendapatkan pahala, mengapa justru pahala-pahala yang begitu banyak dan mudah diperoleh, ditinggalkan? Seperti halnya shalat berjamaah dan sunah setelah isya. Perlu juga diperhatikan bahwa dalam melakukan ibadah harus disandarkan pada keridhaan Allah. Karena sesungguhnya akhir dari pada semua ibadah kita mengharapkan keridhaan Allah Swt.

* Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara serta Mahasiswa Teknik Multimedia dan Jaringan Politeknik Negeri Lhokseumawe

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saifuddin
Mahasiswa Teknik Multimedia dan Jaringan Politeknik Negeri Lhokseumawe, Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara

Lihat Juga

Warna Kehidupan (ilustrasi) - Foto: formulatv.com

Menyiasati Ujian Hidup

Organization