Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Apa Arti Sebuah Kemenangan?

Apa Arti Sebuah Kemenangan?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (marufclub.com)
Ilustrasi. (marufclub.com)

dakwatuna.com Tak terasa Ramadhan memasuki 1/3 bulan terakhir. Banyak orang yang sudah mengambil langkah ke depan. Dapat berapa THR tahun ini dari perusahaan? Beli pakaian baru yang seperti apa? Idul fitri, akan buat kue apa? Bahkan anak-anak tak kalah semangat dengan orang dewasa, dapat angpao berapa ya nanti; dari orang tua, paman dan bibi, serta tetangga. Sekilas seperti itulah gambaran budaya masyarakat negeri kita ini dalam memaknai hari kemenangan, yakni serba baru dan serba enak.

Ironis, melihat sebuah hari kemenangan yang fitri nan suci tapi justru lebih menonjolkan budaya hedonisme. Berlomba-lomba dalam pakaian baru, aksesoris baru, dan perangkat lainnya yang sekiranya itu tidak sinkron dengan makna kemenangan hari Idul Fitri. Bahkan yang lebih parah lagi, hari kemenangan ‘dimanfaatkan’ untuk saling memaafkan. Seolah-olah, dihari lain kita berlomba saling mendzalimi. Dan, memaafkan kesalahan seseorang hanya ketika Idul Fitri.

Lantas, apa sebenarnya makna dari kemenangan kita setelah melewati bulan Ramadhan? Mari kita lihat kembali, perintah Allah Ta’ala yang menyuruh umatnya untuk berpuasa dalam QS. Al Baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Kalimat “… agar kamu bertakwa”, Imam At Thabari dalam Jami’ Al Bayan Fii Ta’wiil Al Qur’an (3/413) menafsirkan ayat ini: “Maksudnya adalah agar kalian bertakwa (menjauhkan diri) dari makan, minum dan berjima’ dengan wanita ketika puasa”. Imam Al Baghawi dalam Ma’alim At Tanziil (1/196) memperluas tafsiran tersebut dengan penjelasannya: “Maksudnya, mudah-mudahan kalian bertakwa karena sebab puasa. Karena puasa adalah wasilah menuju takwa. Sebab puasa dapat menundukkan nafsu dan mengalahkan syahwat. Sebagian ahli tafsir juga menyatakan, maksudnya: agar kalian waspada terhadap syahwat yang muncul dari makanan, minuman dan jima.”

Jika kita perhatikan penjelasan dari Imam At Thabari dan Imam Al Baghawi, tujuan dari berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan adalah untuk mencapai derajat takwa. Itulah esensi sesungguhnya dari hari kemenangan. Dimana setelah menjalani puasa Ramadhan selama sebulan penuh, ketakwaan kita kepada Allah mengalami peningkatan. Bukan sekadar seremonial dengan pakaian-pakaian baru. Karena takwa sejatinya adalah sebaik-baik pakaian. Sebagaimana Firman Allah: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik… “ (QS. Al A’raaf : 26)

Kita lihat kembali peritah Allah dalam QS. Al Baqarah ayat 183, “… sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu…”. Dari kalimat tersebut bisa kita ambil kesimpulan, bahwa tidak hanya umatnya Nabi Muhammad Saw yang diperintahkan untuk menjalankan puasa, tapi juga umat para nabi sebelum beliau. Perlu dikasih catatan tambahan, umur dari para umat Nabi Muhammad Saw adalah paling pendek jika dibanding umat nabi-nabi terdahulu. Secara logika matematika, otomatis waktu hidup umat Nabi Muhammad Saw untuk beramal lebih sedikit ketimbang umat nabi-nabi terdahulu. Alhasil timbangan amalnya lebih sedikit bukan?

Nabi Muhammad Saw adalah penutup dari semua nabi dan Rasul Allah. Membawa risalah yang paling sempurna yang pernah dibawakan oleh nabi-nabi Allah sebelumnya. Diberikan karunia terbesar, yakni kitab Al Qur’an, kitab yang paling lengkap dibandingkan kitab Allah yang sebelumnya. Lalu dimanakah kunci kemuliaan dari umat Nabi Muhammad Saw dibanding umat-umat terdahulu? Jawabannya adalah Lailatul Qadar. Ya inilah kuncinya. Hanya umat Nabi Muhammad Saw lah, yang diberikan rahmat-Nya melalui malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Andikan dalam setahun, kita bisa merasakan satu hari malam Lailatul Qadar, maka amal itu seperti dilakukan 1000 bulan atau 83 tahun kurang lebih. Itu hanya dalam setahun, bagaimana jika hampir setiap tahun kita bisa merasakan? Sulit, tapi peluang itu ada. Bisa kita bayangkan kan?

Lailatul Qadar inilah yang menjadi esensi dari makna kemenangan setelah kita melewati satu bulan Ramadhan. Untuk itu, kunci dari kita meraih kemenangan di hari fitri nan suci esok ada pada 1/3 bulan terakhir Ramadhan. Karena pada momen-momen itulah terdapat malam Lailatul Qadar. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 terakhir Ramadhan : “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Jadi, pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan ini janganlah kita sibuk dengan hal-hal duniawi. Sibuk mencari baju baru, sibuk menyiapkan kue-kue untuk lebaran, masak ini masak itu, menanti-nanti THR dari atasan dan sebagainya. Tapi mulailah perbanyak amal kita. Tilawah, Qiyamu lail dimalam hari, infaq, shadaqah, dhuha serta ber-i’tikaf di masjid. Mari kita berikhtiar secara sungguh-sungguh, agar kita bisa mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya di hari yang fitri, yakni rasa takwa yang paripurna kepada Allah Ta’ala. Insya Allah.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dwi Nur Rahmat
Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (arabworld.nl)

Beginilah Seorang Muslim Memaknai Kemenangan

Organization