Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Recehan dari Anak Kampung untuk Gaza

Recehan dari Anak Kampung untuk Gaza

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Sri Wahyuni)
(Sri Wahyuni)

dakwatuna.com Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menghirup oksigen yang disediakan-Nya melimpah. Alhamdulillah saya masih diberi kesehatan oleh Allah SWT hingga bisa hadir di sekolah tercinta, SD 21 Kuala Mandor B, Kalimantan Barat.  Alhamdulillah, saya masih memiliki kesempatan untuk berbagi dengan anak negeri, para calon pemimpin bangsa ini.

Jum’at (18/7/2014) adalah hari yang berkesan bagi siswa kelas V SD 21 Kuala Mandor. Siswa yang berjumlah dua puluh tiga ini mendapatkan pelajaran berharga tentang nikmat hidup aman di Indonesia. Rasa syukur itu mereka dapat setelah menyaksikan video Gaza yang digempur habis-habisan oleh Israil. Melalui tayangan video itu mereka dapat melihat saudaranya sesama muslim yang ada di Palestina sedang berada dalam kondisi teraniaya. Diperlakukan dengan tidak layak oleh para zionis yang tidak berperikemanusiaan.

Video itu memperlihatkan kekejaman kaum zionis terhadap warga Palestina. Terlihat jelas, para zionis itu telah membunuh para Ayah yang menjadi Imam keluarga. Terlihat jelas, para laknatullah itu memisahkan Ibu dari anaknya. Hingga sak sedikit anak yang yatim dan piatu dibuatnya. Ya,penyerangan yang membabi buta oleh kaum zionis banyak memakan korban rakyat sipil Palestina.

Para harapan bangsa melihat video itu dari laptop yang saya punya. Dan mata mereka tak lepas dari tayangan yang ada di hadapannya.

Inilah satu-satunya media yang membantu saya menyampaikan pesan yang ingin saya sampaikan kepada mereka. Meskipun tidak ada in-focus yang bisa membuat mereka melihat video itu dengan jelas, namun layar laptop yang tak begitu besar itu telah cukup mewakili.

Saya dapat membaca ekspresi bocah-bocah itu. Saya berhasil menanamkan simpati dan empati ke dalam dada mereka terhadap nasib saudaranya, saudara kita di Palestina.

“Apakah kalian tahu kenapa warga di Gaza itu tidak pindah dari Palestina? Apakah kalian tahu alasan mereka tetap tinggal di sana? Di tempat yang di saat mereka tidur, bom bisa saya meledak seketika. Apakah kalian tahu kenapa?” Tanya saya kepada para siswa yang masih duduk bersila.

Mereka tidak menjawab. Hanya menggeleng sebagai isyarat tidak tahu.

“Kalian ingin tahu?” Tanya saya kepada mereka.

“Iya, Bu.” Jawab mereka sambil mengangguk.

“Karena mereka ingin mempertahankan tanah suci umat islam. Ya, mereka tidak pindah dari Palestina karena ingin melindungi tanah suci agama kita.” Jelas saya kepada mereka. Hening sejenak, kemudian saya melanjutkan.

“Kalau mereka mau, mereka bisa saja pindah ke Negara yang lebih aman. Mereka bisa saja hidup nyaman di negara lain dengan meninggalkan Palestina. Tapi kalian tahu, mereka tidak melakukan itu. Kalian tahu kenapa? Semua demi kita.”Ucap saya mengulangi.

“Semua demi tanah suci kita. Demi mempertahankan harga diri umat islam di dunia.”

Saya menghela nafas panjang. Hening sejenak, lalu melanjutkan:

“Ya, mereka telah berjihad demi kita. Karena itu, mari kita sama-sama mendoakan saudara kita yang di Palestina. Semoga dengan doa kita hari ini, Allah memberikan mereka kekuatan dan kesabaran. Dan jika pun mereka syahid dalam berjuang, mari sama-sama kita doakan agar mereka dimasukkan ke dalam surga-Nya”

Tak lama setelah itu, doa kami pun menggema di perpustakaan tempat kami melaksanakan kegiatan ini. Bait-bait doa yang kami ucapkan kepada Allah memenuhi ruangan. Ditambah dengan sedikit instrumen klasik, membuat hati mereka cepat tersentuh.

Momen ini saya memanfaatkan. Hati yang telah melembut itu tidak boleh disia-siakan. Saya telah berencana. Saya akan mengajak anak-anak pada hari itu untuk mengumpulkan uang untuk warga Palestina yang teraniaya. Dan tak lupa, strategi pelaksanaannya juga telah terencana.

Saya membagi anak-anak itu menjadi empat kelompok.  Dua kelompok membuat kotak infak dan dan dua kelompok lagi membuat kata-kata terkait Palestina di atas karton putih. Dan tak lupa, kami pun bersama-sama membuat bendera Palestina agar saudara kami di Palestina itu lebih terasa nyata.

Karena waktu untuk shalat Jum’at hampir masuk, akhirnya kami untuk berkumpul lagi pukul satu untuk langsung terjun kelapangan. Namun terpaksa ditunda hingga jam tiga karena pada jam satu itu para ibu-ibu sedang mengikuti pengajian.

Sebenarnya, bisa saja kami ke pengajian minta sumbangan untuk Palestina kepada Ibu-ibu itu tanpa perlu repot-repot pergi ke rumah mereka masing-masing. Tapi tidak saya lakukan karena saya memperkirakan jumlah uang  yang diberi lebih kecil dibandingkan dengan mengunjungi mereka langsung ke rumah. Karena di pengajian itu, sudah pasti para ibu-ibu itu hanya membawa uang terbatas. Jadi karena kami berniat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk Palestina, jadi tak masalah jika kami keliling kampung meski harus menyita waktu dan tenaga.

Agar semua rumah warga terkunjungi dalam waktu dua jam, saya pun membagi siswa yang datang menjadi tiga kelompok. Meski ternyata hanya sebagian siswa kelas lima yang datang, tapi Alhamdulillah ada siswa kelas enam yang juga turut hadir. Mungkin kedatangan mereka karena mendengar kabar dari adik kelasnya tentang kegiatan sore hari ini.

Pembagian kelompok para relawan Gaza ini saya atur sedemikian rupa. Masing-masing kelompok yang telah ada, harus meminta sumbangan ke setiap rumah warga sesuai dengan jatah yang telah disepakati bersama.

Aksi pengumpulan dana yang kami mulai dari jam setengah empat itu selesai jam setengah enam sore. Alhamdulillah total uang yang terkumpul dari tiga kotak infak cukup banyak yaitu Rp 583.500. Ini karena semangat anak-anak yang mau bekerja. Dan memang sebenarnya saya juga menjanjikan hadiah kepada kelompok yang mengumpulkan uang terbanyak. Hadiah ini sengaja saya janjikan agar ketika mereka merasa lelah di perjalanan, dengan mengingat hadiah mereka akan tetap berusaha untuk berjalan. Tidak apa-apa untuk permulaan.

Terkumpulnya uang hari ini menandakan saya sebagai guru telah berhasil menumbuhkan rasa persaudaraan di hati murid-murid saya terhadap umat muslim Palestina. Betul kata orang, siswa itu seperti kanvas putih, seperti apa lukisan yang ingin dihasilkan, tergantung dari coretan tinta yang guru torehkan.

Bangga menjadi guru, guru berkarakter, menggenggam Indonesia.

Saya bisa, saya bisa, Insya Allah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Talk Show Palestine Solidarity Day di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (aspacpalestine.com)

Bersama ASPAC, UIN Syarif Hidayatullah Gelar Seminar 69 Tahun Pembagian Palestina