Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jadi Bunglon, Merugi!

Jadi Bunglon, Merugi!

Ilustrasi. (top1walls.com)
Ilustrasi. (top1walls.com)

dakwatuna.comTahu kan binatang bunglon, yang kulitnya suka berubah-ubah warnanya tergantung di mana ia hidup? Kalau ia berada di tanah, warna kulitnya jadi coklat kehitaman seperti tanah. Kalau ia di dekat daun, warna kulitnya pun jadi ikutan hijau seperti daun. Pokoknya plin-plan gitu, tergantung situasi dan kondisinya. Wajar saja sih, namanya juga hewan.

Tapi jangan salah, kebanyakan manusia saat ini, khususnya di bulan Ramadhan yang suka ikutan jejak si bunglon. Ketika Ramadhan menjelang, banyak wanita jadi berhijab. Banyaknya artis yang berhijab ketika hanya main sinetron, maka banyak wanita juga yang ikut-ikutan menutup aurat secara bongkar pasang alias tidak konsisten. Momen Ramadhan pun menjadi waktu yang pas untuk tampil dengan penampilan baru.

Okelah, mungkin soal niat dan motivasi hanya pelakunya yang tahu dan tentu Allah SWT. Tapi yang pasti perubahan “dadakan” di bulan Ramadhan itu bisa berdampak positif dan negatif sekaligus. Positifnya jelas. Tampilnya sebagian dari kita mengenakan busana muslim/muslimah dan maraknya syiar Islam di bulan suci yang lalu memberi kesan bahwa kita sadar betul dengan apa yang harus kita lakukan, yakni menghormati bulan Ramadhan sekaligus hal ini menunjukkan bahwa diri kita serius menghargainya dengan cara menjaga image diri dan menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Apalagi jika kemudian hijrah total dari kegelapan menuju cahaya Islam meski Ramadhan nanti telah berlalu. Bukti riilnya ditunjukkan dengan tetap berbusana menutup aurat sesuai tuntunan syariat, juga perilaku yang ber-akhlakul karimah selepas Ramadhan.

Lantas, kalau sisi negatifnya bagaimana? Ya kalau kemudian setelah Ramadhan berlalu, kita balik lagi ke selera asal. Jadinya, ada kesan bahwa kita itu memanfaatkan momen Ramadhan hanya untuk kepentingan sesaat. Motivasinya lebih karena ingin dianggap baik di hadapan manusia: berbusana yang sopan, bertutur kata yang baik, berperilaku yang sesuai ajaran Islam, bahkan para musisi juga ramai-ramai bikin album religi di bulan suci. But, selepas Lebaran hilanglah semua itu. Tidak berbekas sama sekali. Maka merugilah seseorang yang menjadi seperti bunglon itu.

Dunia ini boleh dibilang seperti panggung sandiwara. Semua orang ingin memerankan apa yang disukainya dan tampak menarik di hadapan orang lain. Menarik di sini bisa dari sisi positif, bisa juga sisi negatif. Sebab, kita harus mengakui  juga kalau ada orang yang tertarik dan sangat berminat di dunia kejahatan, maka ia akan ‘memerankan’ apa pun yang identik dengan icon kejahatan. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang tertarik di dunia kebaikan, maka ia akan memerankan apapun yang identik dengan icon kebaikan, sesuai dengan kesepakatan umum manusia maupun agama. Itulah sebabnya barangkali orang ingin tampil bukan sekadar apa adanya, tapi harus ada apa-apanya agar bisa dilihat orang lain dan membuat orang lain tertarik dengan apa yang kita perankan.

Padahal, Firman Allah SWT “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Israa’ [17]: 36)

Jadi, sangatlah merugi seseorang yang hanya berubah sesaat layaknya bunglon di bulan Ramadhan ini. Mari, di akhir Ramadhan ini kita kaji pengetahuan Islam dengan benar dan baik. Jadikan Islam sebagai akidah dan syariat. Amalkan dalam kehidupan sehari-hari agar  Islam menjadi the way of life bagi kita dan seluruh kaum muslim/in lainnya. Insya Allah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Deasy Lyna Tsuraya
Fulltime mother yang sedang asyik mengurus seorang putra, senang menulis dan mengembangkan kemampuan diri menjadi seorang pembicara atau moderator acara kemuslimahan. Mengisi kesehariannya dengan mengelola web islami dan usaha Rumah Koleksi Antaradin yang bergerak di bidang fashion islami.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Nyalakan Iman Dalam Kehidupan, Refleksi Ibadah Puasa Ramadhan