Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Drama Kehidupan yang (tak) Sempurna

Drama Kehidupan yang (tak) Sempurna

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comMungkin yang kulakukan sia-sia, kutahu ini hanyalah sebuah permainan, tapi dengannya aku menjadi memiliki kisah, yang tak kudapat di dunia nyata. Apalah arti peran-peran yang kulakukan, tapi hanya dengannya aku bisa mewariskan kisah heroik, yang tak mungkin kulakukan dalam kehidupan nyata.

Dinobatkan di atas singgasana, tampak riuh, gegap gempita dan memukau, namun sebenarnya hanyalah segelintir orang di hadapan kamera. Aku memegang piala, disematkan mahkota atau dinobatkan pada singgasana, sedang kutahu sebenarnya tak mendapatkan suatu apapun. Aku harus tampak seperti merayakan kemenangan besar, sedang kusadari semuanya tak berarti apa-apa.

Aku tampak sedih, menangis tersedu-sedu dan meratapi kekalahan, agar mengalir empati dari berbagai penjuru, dan aku puas melakukan adegan ini dengan baik. Aku harus marah, menampakkan permusuhan, untuk sebuah kolaborasi yang baik. Aku harus ikut tertawa, meski sebenarnya hanyalah sebuah senyuman kecut.

Memerankan keluguan As-Sisi atau ketulusan Gamal Abdul Nasser, kemuliaan seorang sahaya dan kebodohan tuannya, menghiasi dunia yang penuh kepalsuan. Semua hanyalah kepura-puraan, agar tak terlalu menaruh harap, agar tak terlalu kecewa di kemudian hari.

Drama ini terlalu indah untuk diakhiri, harus dibuat menegangkan hingga titik akhir permainan, agar penonton tak jua beranjak. Agar mereka berdebar menantikan, padahal ia bukanlah ketidakpastian. Cerita harus ini terus diperpanjang, ia harus berlanjut pada kisah-kisah baru, terus dibuat-buat, meski sebenarnya telah selesai.

Bukan hanya akhir kisahnya, drama ini harus menjadi rangkaian cerita yang tampak sempurna. Tiap-tiap adegannya harus tampak nature, ditata dengan rapi, agar indah dinikmati, dan sempurna mengelabui. Apa yang tersembunyi, lebih besar dari yang tampak. Apa yang tak diketahui, lebih banyak dari yang dikira.

Menjalani permainan ini sebaik-baiknya. Bersiap dari satu permainan menuju permainan yang lain. Namun tetaplah jangan melupakan kehidupan nyata, jangan meninggalkannya sama sekali. Ada permainan di balik permainan, tipu daya di atas tipu daya. Hingga semuanya akan kembali kepada sebaik-baik pembuat tipu daya, bukan hanya memanipulasi emosi, tetapi mampu membolak-balikkan hati Tatar atau menanamkan belas kasih pada Firaun.

Itulah drama yang terjadi dalam kehidupan yang tak sempurna, namun ia akan disempurnakan pada kehidupan lain, pasti.

Aku lelah menjalaninya, terlalu berpayah-payah melaluinya, padahal ia hanyalah permainan belaka. Tetapi aku menikmatinya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

Sumber Kehidupanku