Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Elegi Ramadhan di “Tanah Buangan”

Elegi Ramadhan di “Tanah Buangan”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Siti Patimah)
Ilustrasi. (Siti Patimah)

dakwatuna.com Hari pertama sampai di tempat pengabdian ibuku masih saja menangis. Pasalnya di hari pertama itu aku sudah kesulitan mendapat sinyal. Lalu bapak kepala sekolah dari Desa Salube langsung berbicara dan menguatkan ibuku ketika aku berhasil menghubunginya.

Sejak kedatangan di awal agenda kami lumayan padat. Diawali dengan kunjungan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Utara. Menunggu kehadiran Kepala Diknas untuk serah terima dengan manajemen Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang ternyata yang bersangkutan sedang bertugas ke Surabaya. Akhirnya Ibu Cornelia, Bu Nel sapaan hangatnya menyambut kami juga dengan derai air mata.

“Saya terharu, kalian kok mau jauh-jauh ditempatkan di sini. Warga kami saja banyak yang mundur dan minta pindah jika ditugaskan ke Loloda Kepulauan. Karena mereka menganggap Loloda Kepulauan itu sebagai tanah buangan”, ujarnya seraya menyeka bulir bening di pipinya.

Selesai acara serah terima kami diajaknya berbincang, melalui staffnya beliau menyuguhkan makan siang. Banyak pesan dan nasihat beliau sampaikan ketika kami sampai di tempat tugas untuk menguatkan.

***

Kedatangan pertamaku disambut masyarakat Dedeta, Pak Rusma beserta Ibu dan kedua anaknya menjemputku ke Pelabuhan. Turun dari kapal kayu sebagai transportasi umum masyarakat dari Kota Kabupaten ke desa dan sebaliknya kami menaiki sampan kecil. Mendekati pantai ibu angkat menggendongku ke darat, “Biar Sipat tarada basah” begitu ujarnya.

Hampir satu minggu tinggal di sini sambutan masyarakat begitu hangat dan bersahabat pun dengan anak-anak. Aku mulai rutin mengisi pengajian anak-anak, mereka yang tadinya malas mulai berdatangan untuk mengaji. Satu hal yang aku sayangkan, setiap pergi shalat berjamaah masjid selalu sepi.

Maka, aku berinisiatif menawarkan kepada murid-muridku untuk shalat berjamaah. “Anak shalih siapa yang tadi shalat subuh?”, tanyaku memancing anak-anak saat mengaji.

“Tadi pagi Ibu shalat subuh sendirian di masjid, besok ada yang mau menemani Ibu?”, lanjutku menawarkan.

“Kita mauuu Buuu”, jawab beberapa anak semangat.

“Bagus! Besok Ibu bangunkan ke rumah ya. Kita belajar shalat bersama-sama agar mendapat paha…?” tanyaku.

“Pahala Buuu”, seru anak-anakku makin semangat.

Meski dalam kegelapan kami tetap berjamaah subuh di masjid. Hanya menggunakan cahaya dari handphone. Karena di daerah penempatanku, Desa Dedeta Kecamatan Loloda Kepulauan Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 11 malam menggunakan mesin diesel.

***

Ramadhan Tiba!

Sore itu, setelah ada pertemuan warga satu desa sebagai sesi perkenalanku sebagai guru baru. Bersama anak-anak berkeliling desa untuk acara tarhib (menyambut) Ramadhan. Setelah siang harinya kami membuat pernak-pernik dan atribut. Tarhib Ramadhan baru pertama kalinya diadakan di desa ini. Semua warga yang menyaksikan terheran-heran dengan kejutan baru ini.

Mulai esok kami akan melaksanakan pesantren Ramadhan untuk semua siswa SDN Dedeta. Kelas 1-2 terjadwal jam 8 sampai 10 pagi , kelas 3-4 jam 10 sampai 12 siang , kelas 5-6 jam 4 sampai jam 6 sore. Begitulah setiap hari kesibukan menghiasi waktuku ditambah dengan tadarus keliling hingga jam 12 atau 1 malam. Sebelum sahur aku bersama anak-anak juga berkeliling desa membangunkan warga untuk makan sahur menggunakan kentongan.

Acara pesantren Ramadhan yang berjalan hampir 2 pekan ditutup dengan agenda perlombaan; adzan, hafalan juz amma, kaligrafi, puisi, pidato dan busana muslim. Kegiatan yang awalnya diikuti oleh beberapa orang saja tiba-tiba peserta membludak saat perlombaan hendak dimulai.

Dibuka oleh kepala desa dan dihadiri oleh ratusan warga desa Dedeta ini terlaksana sangat meriah selama 2 hari 3 malam dari tanggal 7-9 Juli 2014. “Acara seperti ini merupakan yang pertama kali diadakan di desa kita. Tidak lain ini merupakan salah satu tujuan dari pendidikan, di mana anak-anak belajar berkompetisi dan percaya diri tampil di depan umum”, begitulah sambutan awal Pak Udin Bakri sebagai Kepala Desa.

“Oleh karena itu, saya sebagai kepala desa menghimbau agar ibu bapak semua berperan serta dan mendukung semua kegiatan yang Ibu Sipat buat”, tambahnya.

***

Malam terakhir kegiatan lomba dan pengumuman juara sekaligus keesokan harinya aku akan berangkat ke Kota Kabupaten untuk melaksanakan kunjungan ke kantor Gubernur Maluku Utara dan beberapa instansi serta mengirim laporan ke manajemen SGI.

Acara awalnya sepi karena warga kelelahan pasca agenda pemilihan presiden tadi siang. Aku tetap berharap banyak warga yang hadir, hingga mendekati tengah malam warga mulai berdatangan.

Tak aku sangka, ternyata Pak Din salah satu guru di SDN Dedeta sekaligus pembawa acara selama perlombaan berlangsung membuat kejutan untukku. Di akhir acara sekitar pukul 01.oo WIT dini hari, tiba-tiba anak-anak membawaku ke atas panggung. Mereka melingkariku, setelah ada musik khas Halmahera Utara mereka mulai menari tradisional bernama Tari Tide-tide.

Setelah beberapa lama ibu-ibu mendekatiku, menciumku, merangkulku dan membawa semacam wadah yang diisi uang dengan berbagai nominal. Pun dengan anak-anak, aku terkejut karena bapak-bapak juga turut serta. Hingga sekitar satu setengah jam aku di arak dari atas panggung menuju tempat penonton.

“Bu Sipat, jadi yang barusan ini merupakan adat dalam rangka menyambut warga baru yang kami cintai. Jadi maaf kalau dulu pertama ibu datang kita bersalaman tidak berjabat tangan tapi sekarang Ibu dilingkari anak-anak seperti ini. Mohon maaf jika kami berlebihan, ini sebagai bentuk kasih sayang kami pada Ibu”, begitu ujar Pak Din.

“Itu uang yang terkumpul untuk bekal Ibu besok ke Kota”, lanjutnya.

Uang yang terkumpul ada sekitar lima ratus ribu rupiah. “Haduh Pak, nggak usah. Untuk warga saja”, ucapku penuh tanya.

“Tidak Bu, ini merupakan adat kami untuk warga baru yang kami sayangi”, tegasnya mencoba meyakinkanku.

“Ibu besok pergi, jangan lama-lama ya Bu”, beberapa Ibu dan Bapak-bapak merengek seperti akan ditinggal lama oleh anaknya.

Keesokan harinya warga mengantarkanku, aku digendong melewati pasir menuju sampan untuk kemudian menaiki kapal kayu yang keempat temanku sudah menungguku di sana.

***

Pertemuan dengan Gubernur

Kami duduk sudah sekitar 5 jam, Ibuku dari Jawa sudah meneleponku selama 2 jam. Tapi panggilan untuk bisa bertemu Gubernur belum juga ada. Hampir saja kami menyerah. Tapi ada Pak Sulaeman yang menguatkan dan sabar menunggui kami sejak pagi jam 9 tadi.

Jam 14.17 WIT tepat kami baru bisa bertemu Pak Muhammad Kasuba, Gubernur Maluku Utara yang sejak tadi kami menanti untuk dipanggilnya. “Waaah, Loloda Kepulauan?”, begitulah kesan pertama beliau.

“Sudah satu bulan kenapa baru sekarang ini anak-anak datang kemari”, ujarnya penuh tanya.

“Iya Pak maaf, kami baru ada waktu sekarang-sekarang setelah selesai mengadakan kegiatan Ramadhan di Desa”, jawab Iin sang Kapten Halut (Halmahera Utara).

“Saya senang kalian jauh-jauh mau mengabdi di sini”, tambahnya.

“Lebaran anak-anak akan di mana”, tanyanya.

“Belum tahu Pak, paling di Loloda”, jawab Iin lagi.

“Hmmm, kalau begitu nanti anak-anak lebaran di rumah saya. Mau di rumah dinas silakan atau mau di rumah pribadi juga boleh”, ujarnya menawarkan.

“Nanti, saya yang jemput kalian di Tobelo dan mengantarkan kalian ke sana”, tandas Abi Sulaeman.

“Horeee, lebaran di rumah Pak Gubernur”, jawab kami spontan bersorak kegirangan.

Kami tergelak bersama.

Muhammad Kasuba, sosok Gubernur yang terbilang sudah sepuh. Kesederhanaan dan bijaksana nampak dari tutur kata dan caranya menyambut kami seperti anaknya sendiri. Saat menerima kami di ruangannya beliau terlihat lelah setelah seharian menerima tamu dan agenda rapat.

Beliau juga bercerita tentang agendanya kemarin. Selepas melaksanakan tugasnya hingga jam setengah dua dini hari dilanjutnya dengan tilawah Al-Quran dan Qiyamulail. Menjelang subuh beliau sempat juga menonton pertandingan sengit antara Argentina dan Jerman hingga bertugas di kantor kembali.

Merupakan tantangan bagi kami di Tim Halut membangun banyak jaringan dengan Instansi dan stakeholder baik di Kabupaten maupun Provinsi. Pasalnya penempatan SGI di Halut baru kali pertama dan kami harus mandiri membangun dan mencari jaringan sendiri untuk SGI angkatan selanjutnya.

Tekad dan semangat kami untuk mengabdi dan berjuang di daerah 3T semoga tetap membara di dalam dada, terpatri dalam hati dan terealisasi dalam gerak dan langkah nyata serta terjewantah dalam karya yang gemilang.

SGI! Bangga Jadi Guru, Guru Berkarakter, Menggenggam Indonesia!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Wartawan Inspira TV yang kemudian memutuskan menjadi Relawan Pendidikan Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa. Selama 1 tahun akan mengabdi dan ditempatkan di Kepulauan Loloda Kabupaten Tobelo, Halmahera Utara-Maluku Utara. Lahir di Ciamis bulan Juni 1990.

Lihat Juga

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku