Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sketsa Ramadhan Kita

Sketsa Ramadhan Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

وَتُضَيّقُ مَجَارِي الشّيْطَانِ مِنْ الْعَبْدِ بِتَضْيِيقِ مَجَارِي الطّعَامِ وَالشّرَابِ وَتَحْبِسُ قُوَى الْأَعْضَاءِ عَنْ اسْتِرْسَالِهَا لِحُكْمِ الطّبِيعَةِ فِيمَا يَضُرّهَا فِي مَعَاشِهَا

dakwatuna.com…dan menyempitlah jalur-jalur syaithan dalam diri seorang hamba bersamaan dengan menyempitnya saluran makanan dan minuman, sehingga anggota badan terkendali / terhindar dari hal-hal yang memudharatinya…(Ibnu Qoyyim Al Jauziyah)

Mari menyusun keping-keping puzzle Ramadhan kita, menjadi lembaran remembrance. Seperti apa jadinya? Apakah ia laksana gugusan sketsa tanpa bentuk? Narasinya mungkin akan jadi seperti ini: tarawih bolong sekali, infaq dua kali sepekan, tilawah khatam satu setengah kali…dan seterusnya. Lalu apa perlunya? Sambil mengingat-ingat, mari kita jabarkan paparan Ibnu qoyyim di atas. Bahwa puasa Ramadhan bukan saja sehat secara medis, tapi juga menjauhkan pengaruh syaithani, memperkokoh struktur keimanan dan memaksimalkan sekaligus meledakkan potensi. Ini yang menjelaskan mengapa sejarah umat Islam di bulan Ramadhan adalah cerita tentang kegemilangan: perang badar, fathu Makkah, pembebasan Al-Quds, penaklukan Konstantinopel dan lain-lain.

Maka kalau kita berkepentingan menyusun rangkaian puzzle Ramadhan kita, karena itu menjadi petunjuk seberapa serius kesungguhan ibadah kita.Buahnya adalah kualitas keimanan yang terbaikDari sini potensi akan termaksimalkan. Inilah rahasia sukses Nabi Muhammad SAW dalam mengubah secara drastis komunitas terbelakang penyembah batu di ranah Arab menjadi masyarakat berperadaban yang melahirkan pemimpin-pemimpin besar nan menyejarah (min ubbadil hajar ila quwwadil basyar). Sebab Nabi Muhammad SAW berhasil menata ulang struktur keyakinan mereka menjadi keimanan yang kuat kepada Allah SWT. Efek positif dari keimanan yang kuat ini minimal ada dua hal ;

Merasakan kenyamanan hidup di bawah pengawasan Allah SWT, sekaligus menghancurkan pemberhalaan terhadap materi.

Banyak orang yang setelah sukses, lalu terdampar pada pertanyaan mengusik; apakah semua keberhasilan selalu berorientasi pada fisik dan kebendaan? Adakah ketenangan spiritual yang bisa membuat nyaman di atas segala kesuksesan materi? Permasalahannya menjadi rumit, karena buku-buku populer yang mengarah pada kematangan spiritual ini didominasi oleh karya-karya orang barat, yang notabene tidak memiliki konsep yang mapan tentang keimanan. Sehingga kajiannya muter-muter ke mana-mana. Stephen Covey misalnya, yang karya-karyanya menjadi referensi di seluruh dunia. Membaca buku-bukunya, yang sejujurnya sangat menarik itu, ada kebuntuan ketika pembahasan merembet kepada sumber ketenangan jiwa.

Bagi kita orang muslim, sebenarnya permasalahannya tidak sulit-sulit amat. Sebab konsep keimanan kita sangat mapan dan komprehensif. Tentang kematangan spiritual, bisa kita temui dalam konsep ihsan, yaitu bagaimana kita merasakan hidup dan bekerja di bawah pengawasan Allah SWT. Inilah puncak kematangan spiritual kita. Dengannya, kita membebaskan segala tingkah laku dari belenggu duniawi, merdeka sebagai hamba, dan menyandarkan penilaian total kepada Allah SWT.

Melahirkan kematangan emosional.

Tengok definisi kematangan emosi menurut ilmuwan sekuler, Robert K.Cooper: kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Terlalu rumit bukan? Bandingkan dengan gambaran islam mengenai  kematangan emosi ; “…seseorang yang mampu mengelola nafsunya, dan bekerja untuk (bekal) sesudah mati”(HR At tirmidzi). Jadi kematangan emosi adalah kemampuan untuk memaksimalkan sifat-sifat terpuji dalam diri manusia, menjadi amal dan karakter yang positif seperti ketekunan, ketabahan, kreatif, motivasi yang tinggi, tenang menghadapi tekanan, berempati dan ketulusan mencintai. Dan dalam perspektif keimanan, amal dan karakter itu disandarkan pada orientasi jangka panjang, yaitu sebagai bekal untuk hidup sesudah mati.

Maka, keimanan yang matang akan melahirkan kecakapan emosi yang brilian. Itulah sebabnya dalam Al Quran perintah shalat disandingkan dengan amar ma’ruf nahi munkar, atau juga perintah zakat berefek pada kesucian dan ketenangan jiwa. Sehingga, ketika Ramadhan ini tidak juga melahirkan amal dan karakter yang positif pada diri kita, ada baiknya segera memeriksa lembaran remembrance Ramadhan kita, jangan-jangan terlalu banyak keping puzzle yang hilang.Nah, jadi, seperti apa remembrance Ramadhan anda?

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad As'ad Mahmud, Lc
Lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren, di Tengaran, yang kebetulan diasuh oleh Bapaknya sendiri. Mengenyam pendidikan TK dan SD di Tengaran,sambil nyantri di Pesantren Sabilul Khoirot, Tengaran. Sampai lulus dari Mts Negeri Salatiga tahun 1996. Setelah menyelesaikan studinya di MAPK Solotahun 1999, sempat merasakan bangku kuliah IAIN Sunan Kalijaga. Hanya satu tahun, sebelum kemudian lolos seleksi untuk melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar Kairo, di Fakultas Syariah. Kemudian kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan S1 pada tahun 2005. Sekarang menjadi pengurus yayasan pendidikan islam sabilul khoirot, Tengaran sekaligus sebagai pengajar di MA NUrul Islam YPI Sabilul khoirot di bidang Fiqih.

Lihat Juga

Ilustrasi. (huffingtonpost.com)

Muhasabah Ramadhan

Organization