Home / Berita / Opini / Amal Bukan Sebab Masuk Surga? (Kritik Atas Klarifikasi Prof. Quraish Shihab)

Amal Bukan Sebab Masuk Surga? (Kritik Atas Klarifikasi Prof. Quraish Shihab)

Ilustrasi. (cfnewsads.thomasnet.com)
Ilustrasi. (cfnewsads.thomasnet.com)

dakwatuna.comSebenarnya maju mundur juga menurunkan tulisan ini, khawatir dapat tuduhan macam-macam (fitnah, tak paham, dll) apalagi dari orang sekelas ustadz TKI berbanding prof. DR. dan ahli tafsir ternama. Namun, bismillah, saya turunkan juga tulisan ini dengan niat saling menasihati tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak Quraish Shihab. Semoga ada manfaat yang dapat diambil.

1. Kita apresiasi klarifikasi Pak Quraish tentang ucapannya ‘tidak ada jaminan Rasulullah SAW masuk surga’. Meskipun masih terkesan muter-muter jawabannya, namun setidaknya beliau telah nyatakan bahwa uraiannya bukan berarti tidak ada jaminan dari Allah bahwa Rasul akan masuk surga.

Sebenarnya lebih elegan kalau beliau katakan ‘Saya minta maaf, saya ralat ucapan saya yang menyatakan ‘tidak ada jaminan Nabi Muhamad masuk surga’. Karena memang itu kesimpulan yang langsung dapat ditangkap oleh siapapun yang mendengar ucapannya. Bahkan dia tekankan dengan kata-kata ‘saya ulangi lagi…’ Silakan perhatikan lagi ucapannya di tayangan tersebut. Hanya saja, banyak yang sudah kadung terkesima dengan ilmu dan nama besar beliau, sehingga kata-kata tersebut masih  ingin dicarikan pembenarannya. Sedangkan bagi yang mengkritiknya hanya ada dua pilihan; Tidak tahu atau ingin fitnah.

2. Pernyataan beliau “Ini karena amal baik bukan sebab masuk surga tapi itu hak prerogatif Allah” juga sebenarnya tak kalah berbahayanya dari sebelumnya.

Kalau amal baik atau amal shalih bukan sebab masuk surga, lalu buat apa beramal? Apa kedudukan amal? Buat apa Allah turunkan ajaran-Nya melalui Kitab dan Rasul-Nya yang memberi kita panduan untuk beramal shalih dan menyerukan kita beramal shalih? Kemudian di akhirat nanti ada hisab, mizan (timbangan) terhadap amal shalih, untuk apa semua itu kalau amal shalih bukan sebab masuk surga? Dalam Al-Quran, nyaris tidak disebutkan kalimat ‘Orang-orang beriman’ kecuali disandingkan dengan ‘Dan mereka yang beramal shalih’  (allaziina aamanuu wa amilushshalihaat). Karena itu, para ulama memasukkan amal sebagai bagian dari iman.

Surat Az-Zukhruf ayat 72,

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)

umumnya disimpulkan oleh para ulama tafsir bahwa amal merupakan sebab masuk surga.

Saya kutip beberapa kitab tafsir tentang ayat ini;

Tafsir Ibnu Katsir;

أي: أعمالكم الصالحة كانت سببا لشمول رحمة الله إياكم، فإنه لا يدخل أحدًا عمله الجنة، ولكن بفضل من الله ورحمته.

Maksudnya adalah Amal-amal shalih kalian merupakan sebab datangnya rahmat Allah kepada kalian, karena amal seseorang  tidak memasukkannya ke dalam surga, melainkan karunia dan rahmat Allah. (7/239)

Tafsir At-Tahrir Wat-Tanwir, Ibnu Asyur;

والباء في ” بما كنتم تعملون ” للسببية وهي سببية بجعل الله وعده

Huruf “ب” dalam ayat  بما كنتم تعملون  menunjukkan ‘sebab’ sehingga Allah memenuhi janjinya. (13/321)

At-Tafsir Al-Muyassar, disusun oleh sejumlah ahli tafsir di bawah bimbingan Syekh Abdullah bin Abdul-Muhsin At-Turky;

وهذه الجنة التي أورثكم الله إياها؛ بسبب ما كنتم تعملون في الدنيا من الخيرات والأعمال الصالحات، وجعلها مِن فضله ورحمته جزاء لكم.

“Surga yang Allah berikan kepada kalian adalah karena sebab amal yang kalian lakukan di dunia berupa amal kebaikan dan amal shalih yang dengan karunia dan rahmat Allah surga dijadikan balasannya bagi kalian.”

Jika dikatakan bahwa amal bukan satu-satunya sebab seseorang masuk surga itu lebih tepat. Karena memang di sana ada rahmat dan karunia Allah Ta’ala yang menjadikan amal sebagai sebab seseorang masuk surga.

Hal inilah yang dinyatakan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya, Jami’ul Ulum Wal Hikam, 1/70l

لن يدخل الجنة أحد منكم بعمله فالمراد والله أعلم أن العمل بنفسهلا يستحق به أحد الجنة لولا أن الله عز و جل جعله بفضله ورحمته سببا لذلك والعمل بنفسهمن فضل الله ورحمته على عبده فالجنة وأسبابها كل من فضل الله ورحمته.

“Ungkapan ‘Tidaklah seseorang dari kalian masuk surga karena amalannya’ Maksudnya adalah –wallahua’lam- bahwa amal saja tidak menyebabkan seseorang berhak dapat surga kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah yang menjadikan amal tersebut sebagai sebab untuk itu. Amal itu sendiri merupakan karunia dan rahmat Allah terhadap hamba-Nya. Maka surga dan sebab-sebabnya, seluruhnya merupakan karunia Allah dan rahmat-Nya.”

Menyatakan begitu saja bahwa amal bukan sebab masuk surga, tapi itu hak prerogatif Allah, dapat menggiring sikap meremehkan amal shalih atau bahkan mencampakkannya, untuk kemudian dia hanya berharap rahmat dan karunia Allah saja. Ini jadi mirip prinsip kaum liberal yang terkenal anti syariat. Wallahu a’lam.

Hadaanallahu wa iyyaakum ajma’iin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (42 votes, average: 8,36 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • Fazri Yanth Alfarizzi

    saya sudah melihat dan mendengar waktu quraish shihab ngmong, maaf banyak yang menafisrkannya salah, saya sangat sedikit dengan ilmu agama tapi saya setuju apa yang dibilang beliau, beliau mengatakan Rasul tidak masuk surga dengan amalnya, karena kita tau bagaimana amal Rasul kita, dan beliau juga menambahkan surga adalah hak perogratif Allah, dan Rasul telah diberkati oleh Allah…..dimana salahnya

    • Haryono Adigunawan

      salahnya fatal.. bayangkan kalau orang awam.. kalau tergiring pemikiran masuk surga bukan karena amal tp karena ridha-Nya bisa jadi fatalis.. justru keridhaan itu harus diusahakan, diperintahkan berulang kali di Al-Qur’an.. iman dan amal shaleh dua kata itu tidak terpisahkan.. itu sudah dibahas di tulisan ini.. kenapa ditanya lagi dimana salahnya ? mestinya kalau konteksnya bukan itu seharusnya langsung dijelaskan.. bukan setelah ribut baru sibuk meralat dan merubah konteks, plus bumbu seakan2 yang mengingatkan itu mau fitnah

      • menurut saya, kesalahanya hanya kurang di kemas dalam bahasan yang lebih mudah di pahami.

        karena memang dalam beberapa hadits sendiri sudah di sebutkan tentang hal itu.. maka seorang ustad harus menyampaikannya.

  • Mohamad Fikry

    persoalan seperti ini adalah persoalan yg sejak dahulu ada,,,

  • CahayaCokie

    dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha ia berkata:

    كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إذا صلى قام حتى تفطر رجلاه. قالت عائشة : يا رسول الله أتصنع هذا وقد غُفِرَ لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر ؟! ، فقال ـ صلى الله عليه وسلم ـ : يا عائشة أفلا أكون عبدا شكورا

    “Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bangun shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Lalu beliau bertanya, ”Mengapa Anda melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang dulu maupun yang akan datang?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Muslim)

    A’isyah bertanya: “Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Allah dengan surga-Nya dan engkau terbebas dari segala dosa kecil maupun besar?”

    “Benar ya Aisyah,” jawab Rasulullah.

    “Mengapa Engkau masih menangis ya Rasulullah?”

    “Telah turun kepadaku wahyu yang begitu indah. Akan rugi orang yang membacanya tapi tidak mau merenungkannya” Lalu Rasulullah membaca QS Ali Imran: 190-191.

    “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka mempunyai akal (hati nurani). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka selalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), `Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia. Mahasuci Engkau ya Rabb, maka peliharalah kami dari siksaan api neraka.”

    “Setelah membaca ayat ini, Rasulullah berkata kepada Aisyah Radhiallahu ‘Anha, ” Tidak pantaskah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”
    (HR. Bukhari dan Muslim).

  • robi sugara

    menurut saya yg masih dangkal ilmu agamanya, selama ini orang beranggapan mencari pahala,yang nanti akan di timbang di akhirat.apabila berat pahala iya akan masuk surga,dan apa bila berat dosa iya akan masuk neraka,ini pola pikir yg salah.jadi ada kesempatan org untuk berbuat dosa nanti akan ditutup dengan pahala,begitu seterusnya,ini lah yg dinamakan sesat.nabi muhammad pola hidupnya lurus,konsisten untuk terus menjaga agar terhindar dari perbuatan dosa,walaupun hanya dosa kecil.dan sebenarnya kita dianjurkan berbuat amal didunia bukan hanya untuk bekal diakhirat,tp didunia pun kita pasti mendapat hasilnya tanpa kita sadari,urusan akhirat adalah penilaian Allah(makanya kata QS ada hak preogatif Allah).begitu juga jika kita berbuat dosa,di dunia ini pun kita pasti akan menerima balasannya tanpa kita sadari.urusan di akhirat kembali menurut penilaian Allah,karena Allah maha mengetahui apa yg kita lakukan delama hidup di dunia.jadi mari kita sama2 jangan saling menghujat dan menuduh suatu kelompok atau ajaran yg belum tentu sesat,atau kita sendiri yg sesat,mari bersama2 intropeksi ke dalam diri kita,sudah sempurnakah kita dalam menjalankan ibdah selama ini.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Amal

Organization