Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pilih Joko atau Duda?

Pilih Joko atau Duda?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (soundbuilthomesblog.com)
Ilustrasi. (soundbuilthomesblog.com)

dakwatuna.com“Emak saja yang memutuskan, biar saya manut saja mak.”

“Jika Emak menentukan untukmu apa yang baik menurut emak sendiri, sementara di dalam hatimu memendam kekecewaan, kamu akan memiliki perasaan bahwa emak memaksamu.”

“Bukankah emak sebenarnya sudah tahu apa yang menjadi jawaban di hati saya?”

“Emak ngerti apa yang kamu rasakan ndhuk, emak pernah merasakan masa muda seperti kamu sekarang. Tapi kamu belum menjalani kehidupan sebagaimana yang telah dijalani oleh emak.”

“Maafkan saya mak, selama ini saya sudah terlalu menjadi beban bagi emak.”

“Kita ini orang susah ndhuk, memang sepeninggal bapakmu emak harus membanting tulang, membesarkanmu sendirian. Tapi emak juga ingin melihat kamu bahagia, tidak hidup kesusahan seperti emak. Sedang sekarang, emak harus gantian mengurus adik-adikmu. Kalau kamu mentas, setidaknya akan meringankan beban yang emak tanggung.”

“Saya tidak ingin merepotkan emak lagi, tapi sejujurnya, salahkah jika saya punya cita terhadap diri saya sendiri, terhadap kehidupan yang harus saya jalani, berat ketika harus mengungkapkannya mak.”

“Tetapi apa yang kamu anggap baik saat ini juga belum tentu baik untuk hari nanti. Bersenang-senang itu hanya sesaat saja, setelah itu tantangan kehidupan segera menghampiri. Kondisi emak berbeda, emak mungkin tidak bisa menopang masa-masa awal kamu menjalani kehidupan yang baru. Berbeda halnya jika kemapanan menjadi pilihan yang kamu ambil.”

“Emak menjamin begitu? Apakah kebahagiaan hanya sebatas itu?”

“Hidup ini tidak selesai pada sebuah pilihan. Ia hanya seperti sebuah pintu, selanjutnya kita masih harus tetap berjalan dan menata, tak pernah selesai.”

“Bukannya ketika tak ada pilihan, tapi ketika kita harus memilih.”

“Emak juga khawatir membuat keputusan salah terhadap hidupmu. Mengetahui yang lahir saja, pandangan kita tidak sempurna, apalagi untuk mengetahui yang tersembunyi di baliknya. Makanya kita tidak boleh semata-mata mengandalkan diri sendiri, tawakal dan istikharah pada Gusti Allah, agar hidup ini dalam bimbingan dan pertolongan-Nya.”

“Iya mak, keputusan ini memang berat, karena bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk emak dan adik-adik.”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ketika Hati Bergerak untuk Memilih