Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hidupku Hanyalah untuk-Nya

Hidupku Hanyalah untuk-Nya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (amidda.blogspot.com)
Ilustrasi. (amidda.blogspot.com)

dakwatuna.com Terik sinar matahari menerangi indahnya siang. Secercah harapan bagi alam semesta dalam mencari kehidupan. Kehidupan yang tenteram dan penuh cinta. Penantian akan sebuah harapan hidup yang panjang, pengharapan pada sebuah bintang  yang  jatuh, pengharapan pada semua keinginan cipta karsa manusia. Itu semua  merupakan ungkapan aktivitas mimpi-mimpi mereka pada sebuah pengharapan.

Secercah harapan menawarkan gambaran masa depan yang indah, keajaiban, kemukjizatan, dan yang pasti dengan usaha mereka. Aku berpikir “Tentu kita sebagai manusia boleh bermimpi”.

Aku sering bertanya, “Mengapa seseorang di kala sedang dilanda kesulitan atau kegelisahan barulah ia teringat pada sang pencipta-Nya, dan mengapa tidak di kala senang serta pada saat ia dalam keadaan gembira untuk mengadu ucapan syukur pada Sang Khalik”. Sungguh sangat disayangkan, sudah banyak waktu yang kita lewatkan dengan kesia-siaan dan kemaksiatan. “ Tidakkah dia (orang- orang itu) mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” (Al- ‘Alaq: 14).

Secercah harapan itu pasti ada, karena tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan. Tinggal bagaimana diri kita menyikapi masalah tersebut. Suatu kesulitan dan persoalan yang terus datang menimpa itu berpangkal pada cara pola pikir kita dan hati kita yang kotor. Hati yang  kotor tidak bisa melahirkan pola pikir yang jernih.

Aku pun teringat akan kata dosenku dan dari sebuah buku yang pernah aku baca, “ Sesungguhnya pengetahuan sejati itu datang dari tiga hal: pertama, lidah yang selalu mengucap asma Allah, kedua, tubuh yang selalu sabar, dan yang ketiga, lindungilah hatimu dari kecenderungan terhadap apa yang kau pungkiri dari hasrat, harapan, pilihan, usaha yang tak terwujud,hilang kesabaran, dan musibah yang menimpa”.

Tak dapat kupungkiri rasa malu dan gengsi itu pasti ada pada setiap insan manusia, termasuk pada diriku. Tapi aku selalu berpikir positif dan tak pernah menghiraukan omongan orang tentang apa yang ada pada diriku, aku hanya berpikir bahwa yang mereka katakan itu memang  yang terbaik buat diriku dan memang itulah aku, dan itu pun sebagai pemicu dalam jalan kesuksesanku. Karena setiap insan itu pasti memiliki jalan kesuksesannya masing-masing.

Aku berusaha untuk menghilangkan rasa maluku, aku selalu bertanya tentang apa yang aku tak tahu. Aku selalu semangat dan selalu berusaha untuk mencari hal yang baru dalam hidup agar terlihat tak membosankan. “Bangkit dan  selalu berjuang itulah aku”. Terbesit ungkapan kecil dalam hatiku.

Aku sering merasakan bahwa aku berguna di satu sisi, tapi tak berguna di sisi yang lainnya. Tapi ketahuilah teman, “bahwa di satu sisi memang kita tak berguna namun di banyak sisi kita sangat berguna”. sekilas ucapanku untuk mereka.

Aku berpikir bahwa  di sisi diri kita ini ada hal yang tak kita ketahui, kepribadian yang murni dari dalam diri yang kitapun tak tahu. Janganlah pernah putus asa dan mudah merasa lelah dengan apa yang telah kita capai saat ini, raih dan bangkitlah wahai jiwaku . Kejarlah impian setinggi langit, karena sesungguhnya impian itu telah ada di depan mata. Dan kejarlah impian semata- mata hanya untuk mencari keridhaan Sang Ilahi. Sesungguhnya, jika Allah telah ridha, maka segala sesuatu yang kita lakukan akan berjalan dengan lancar dan menjadi sesuatu yang sangat berguna dan bermanfaat bagi kita, keluarga, serta untuk banyak umat lainnya.

Beberapa baris kalimat ingin aku goreskan pada tulisanku untuk membuat sebuah kalimat yang indah. ”Sebening embun pagi, secerah mentari sore. Ketika hati ini tersenyum untuk sekejap, saat mengingat berapa banyak anugerah yang Engkau berikan untuk diriku di hari ini, esok, dan nanti. Layaknya hari, segala yang berawal pasti akan berakhir. Jutaan benih cinta lahir di hari ini, jutaan lainnya akan mati. Sungguh, kekurangan salah satunya adalah milikku, maka aku ucapkan rasa syukurku untuk-Mu wahai sang pemilik nyawaku”.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

Sumber Kehidupanku

Organization