Home / Pemuda / Cerpen / Anakku (Bukan) Anakku

Anakku (Bukan) Anakku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comHawa dingin begitu terasa. Auranya menusuk tulang. Balutan baju wanita yang tipis itu tak berdaya melindungi segenap daging pembalut tulang itu. wanita itu masih larut dalam pikirannya. Masih berjalan tidak tahu arah. Dan masih berjalan di tepi bibir jalan.

Di sekelilingnya hutan lebat masih berkuasa. Tumbuh menjulang tinggi hampir mencakar langit. Dapat terlihat jelas monyet-monyet itu bergelantung bebas berpindah dari dahan yang satu ke dahan yang lain. Bercengkerama sesamanya. Terlihat  begitu damainya hidup mereka. Begitu tenteram. Jika saja perempuan itu bisa damai meskipun harus menjadi seekor hewan yang bergelantungan itu, maka dia akan mau. Tapi dia sadar. Takdir telah menjadikannya sebagai seorang manusia. Seorang makhluk ciptaan tuhan yang berakal dan berpikir. Jadi dia sangat tahu, kebahagiaan itu tak harus di dapatnya dengan menjadi seekor monyet. Dia yakin, hidupnya nanti akan bahagia.

Aku dapat melihat jelas wanita yang memakai atasan baju kurung dan kain sarung yang menjadi bawahannya itu. Dia berjalan terus tanpa menoreh kiri kanan. Mobil, bus ataupun motor yang lalu lalang tak dihiraukannya.

Dia masih memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Jika tak ada iman dalam dadanya, bisa saja dia menjatuhkan tubuhnya ke dasar ngarai yang siap membantunya menuju alam lain. Tapi sekali lagi itu tak dilakukannya. Karena dia percaya masih ada tuhan yang selalu mengiringi setiap langkahnya.

Aku sangat kenal wanita itu. Dia anak seorang toke beras di kota Bukittinggi. Meskipun bukan dari keluarga yang kaya raya, namun dia memiliki ayah yang paling kaya di kampung Agam. Sebuah desa yang tak jauh dari kota yang ada “Jam gadang” itu.

Selain berasal dari keluarga terpandang, wanita ini juga memiliki wajah yang cantik. Tak ada cela sedikitpun pada tubuhnya. Kulitnya memang tak seputih buah bengkuang, tapi kulit kuning langsat yang dia miliki begitu bersih. Menggoda setiap mata yang memandang.

Gadis itu bukan gadis biasa. Banyak pemuda yang datang meminangnya. Ya, adat  Agam tidak sama dengan adat Pariaman. Maka untuk menikah, bukan perempuanlah yang harus melamar lelaki untuk menjadi suaminya. Sekali lagi ini  Agam. Jika ingin menikah, para lelakilah yang harus mendatangi keluarga  perempuan.

Meski telah banyak para lelaki silih berganti datang meminangnya, namun tak seorang pun yang dapat memikat hatinya. Kedua orang tuanya pun heran. Ada apa gerangan anak bungsunya ini.

Usut punya usut, akhirnya orang tua tahu bahwa  gadis berambut panjang ini sedang ada hati dengan seorang pemuda. Tapi sayang sekali, apa yang diketahui kedua orang tua gadis ini hanya menimbulkan amarah. Lelaki yang sedang menjalin hubungan dengan anaknya itu adalah seorang pemuda yang tidak tahu diri menurut ayah si perempuan. Bagaimana tidak, lelaki itu bukan berasal dari keluarga terpandang seperti dirinya. Dan pekerjaan lelaki itu hanyalah sebagai tukang angkat di pasar Bukittinggi.

Semua keluarga heran dengan pilihan hati si gadis. Sudahlah lelaki itu hanya bekerja serabutan, dia pun tak tahu berasal dari keluarga mana. sedangkan dalam istiadat Minang, dalam menikah itu, bebet, bibit dan bobot itu sangat diperhatikan. Ninik mamak tak akan menikahkan keponakannya dengan sembarang orang. Begitu juga dengan gadis ini. Sudah pasti, hubungan gadis ini dengan pemuda itu sangat ditentang oleh keluarga si perempuan.

Meski begitu, suatu ketika, lelaki ini berani juga menyampaikan niat baiknya untuk menikahi gadis itu kepada keluarga si perempuan. Malang menimpang, jangankan niat baiknya diterima, namun hanya cacian dan makian yang ia dapat dari keluarga perempuan itu.

“Tak pantas kau bersanding dengan putriku. Kau hanya orang yang besar di jalanan. Tak jelas asal usulmu. Cobalah kau bercermin diri. Lihat siapa kau dan siapa putriku. Dan coba kau ukur bayang-bayangmu.”

Inilah kata-kata yang sangat menikam jantung si pemuda. Takkan dia lupa sampai akhir hayat ucapan ayah si perempuan itu.

Entah apa yang dipikirkan gadis itu, di suatu malam dia memutuskan pergi dari rumah untuk hidup bersama lelaki itu. Ia berani kabur dari rumah karena dia begitu mencintai lelaki itu.

Jadi, memang tak ia hiraukan semua nasihat ayah dan bunda. Tak ia dengarkan nasihat ninik mamaknya. Dia hanya memperturutkan hati besarnya. Ia hanya menuruti semua perasaannya.

Gadis itu pun tak tahu, kenapa dia begitu menginginkan hidup bersama lelaki itu. Apakah dia lah kanai oleh pemuda itu dia tidak tahu. Apakah gadis itu telah dijampi-jampi pemuda itu, dia tak peduli. Yang dia mau dan yang dia inginkan saat itu hanya ingin hidup bersama pemuda itu. Titik. Tak akan ada orang yang mampu mencegahnya di saat itu.

Di sebuah kampung yang tak jauh dari kota Padang Panjang, akhirnya lelaki ini mengucapkan ijab Kabul di depan penghulu. Setelah sebait kalimat sakral ini telah terlafaskan, mereka memutuskan untuk tinggal di kampung itu. Di  suatu daerah yang memungkinkan mereka berdua takkan pernah terlihat oleh keluarga si perempuan.

Tapi sayang seribu disayang, tak lama setelah pernikahan itu mereka jalani, ternyata lelaki ini malah berkhianat. Ketika si perempuan ini hamil, dia pun pergi bersama wanita lain.

Tak pernah disangka sedikitpun. Memang keterlaluanlah si lelaki ini. Tak ia hargai sedikitpun pengorbanan gadis ini untuk dirinya. Semua keluarga, harta kekayaan dan kemewahan yang selama ini dia miliki telah rela ia tinggalkan demi lelaki ini. Seharusnya si lelaki bisa memberikan kebahagiaan kepada seorang wanita yang telah rela mengabdikan sisa hidupnya untuk dirinya. Seharusnya, si lelaki ini pun turut mengabdikan dirinya untuk si perempuan itu dengan menjadi suami yang baik sekaligus iman yang akan membimbing wanita ini masuk surga.

Namun semua yang terjadi tidaklah demikian. Jangankan kebahagiaan yang ia hadirkan dalam hidup wanita itu, malah hanya kepedihan yang ia berikan. Jangankan tawa yang ia hadirkan di wajah wanita itu, malah hanya tangis yang dia ciptakan.

Saat wanita ini tahu bahwa cintanya telah dinodai, hancurlah berkeping-keping perasaannya. Saat wanita itu tahu bahwa lelaki itu telah mengkhianati cintanya, betapa sakitnya hati wanita itu.

Namun dia cukup tahu, kini dia tak di anggap lagi oleh suaminya. Dia cukup sadar, lelaki itu tak lagi ada hanya untuk dirinya.

Bagi wanita Minang, dimadu itu pantang bagi dirinya. Dalam kondisi harta melimpah saja dia takkan mau hidup dimadu, apalagi sekarang hidupnya yang hanya pas-pasan. Makan seadanya saja. Jadi karena itu, perpisahan adalah jalan yang dia mau.

Di malam itu, sebenarnya dia tak langsung meminta lelaki itu menceraikannya. Dia hanya ingin lelaki itu memilih. Hidup bersamanya atau bersama wanita lain itu.

Bagai di sambar petir, ternyata lelaki itu malah memilih hidup bersama wanita lain. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Akhirnya di malam itu, malah lelaki itulah yang pergi meninggalkannya.

Wanita itu tak punya siapa-siapa lagi. Suaminya telah pergi. Dan keluarga? Dia malu untuk kembali.  Tali tempat ia  bergantung telah putus. Tonggak tempat ia bersandar telah patah.

Wanita itu sadar, dia akan hidup sebatang kara. Takkan ada lagi baginya tempat untuk  mengadu. Takkan ada lagi baginya tempat mengobati hati yang sendu. Tapi akhirnya wanita itu tahu, Tuhan selalu ada bersamanya di sepanjang waktu.

Pagi itu, wanita itu terus berjalan. Tak tahu arah yang hendak dia tuju. Baginya, semua tempat sama saja. Sama-sama takkan ada orang yang menginginkan kehadirannya.

Itu adalah  sebuah tatapan kosong masa lalu. Sosok wanita yang sedari tadi aku tatap jauh, kini bayangannya telah mengabur dari pandanganku. Dia adalah aku. Sesosok wanita 28 tahun yang lalu.

Aku akan mengubur semua kenangan itu. Tapi satu hal yang takkan bisa ku lupa, ternyata lelaki itu meninggalkanku karena ingin membalas sakit hatinya kepada orang tuaku yang telah menghinanya.

Ya, semuanya begitu gampang bagi laki-laki itu. Tapi biarkan saja. Semua telah berlalu. Tak ada gunanya lagi aku mengingatnya. Hanya akan mengoyak luka lama. Aku tak mau lagi hatiku kembali  berdarah. Cukup itu di waktu dulu saja.

*********

Kini aku telah tua. Telah banyak penyakit yang menggerogoti tubuhku. Tapi tak masalah, penyakit ini akan menjadi jalan bertemunya aku dengan secercah cahaya bahagia yang telah lama hilang dari hidupku.

“Assalamualaikum Nak.” Ucapku sambil berdiri di depan pintu sebuah klinik.

“Wa’alaikumsalam salam Bu. Silakan masuk.” Jawab seorang dokter muda yang kemudian mempersilakanku masuk.

Gadis muda yang berprofesi sebagai dokter itu kemudian memeriksaku. Ada dua pengait yang dia masukkan ke dalam telinganya. Kedua pengait itu tersambungkan tali yang tidak terlalu panjang yang berujung pada besi berbentuk lingkaran. Kemudian benda itu ditempelkan ke dadaku.

“Kalau saya boleh tahu, apa saja keluhan yang selama ini Ibu rasakan?” Tanya dokter itu padaku.

“Ibu susah tidur Nak. Dan akhir-akhir ini, kaki Ibu sering terasa ngilu,” jawabku sambil memandangi wajahnya.

“Ibu kalau seandainya menginjak lantai porselin, langsung terasa nyerikah?” tanyanya lagi kepadaku.

“Iya Nak.” Jawab ku masih memandangi wajahnya.

“Kalau boleh tahu, Ibu susah tidur kenapa?Apakah karena rasa nyeri itu?”

Aku tidak menjawab. Hanya menggelengkan kepala.

“Atau apakah Ibu ada masalah? Adakah hal yang sering mengganggu pikiran Ibu?” Tanya dokter itu lagi sambil membalas pandanganku dengan lekat.

“Iya Nak. Ada.” Jawabku sambil memejamkan mata dan mengambil nafas dalam.

“Ibu selalu ingat anak Ibu. Jika dia hidup, pasti dia seumuran kamu, Nak. Dan Ibu yakin dia pasti cantik seperti kamu.” Lanjutku kemudian sambil membuka mataku pelan.

Dokter muda itu pun meletakkan tangannya di atas punggung tanganku yang tergelatak di tepian kasur tempat aku diperiksa. Kemudian dia mengangkat dan menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya.

“Maaf ya Bu. Saya tidak bermaksud membuat Ibu sedih. Jikalau Ibu ingat dengan anak Ibu, tak mengapa Bu. Sudah pasti seorang Ibu akan selalu ingat dengan anaknya. Meski anaknya itu tak ada lagi di sisinya.”

Air mataku jatuh. Tak bisa kutahan. Air mata itu keluar saja tanpa seizinku. Tak tahu kenapa, tangan kiri ku pun bergerak menggenggam tangannya yang masih menggenggam tangan kananku.

“Ibu sangat merindukannya, Nak. Sangat.” Air mataku semakin melimpah.

“Iya Bu. Saya mengerti. Saya sangat paham apa yang sedang Ibu rasakan. Saya doakan Bu, semoga anak Ibu bahagia di alam sana. Saya yakin, pasti anak Ibu juga sedang merindukan Ibu.” Ucap sang dokter yang terharu dengan wanita tua yang ada di hadapannya.

“Iya Nak. Ibu tahu, pasti dia sudah bahagia sekarang. Ibu sangat yakin. Ibu doakan dia selalu bahagia. Semoga dia selalu dalam rahmat-Nya.”

“Iya Bu. Insya Allah.  Saya juga ikut mendoakan anak Ibu. Semoga dia tenang di alam sana”

Air mataku kembali tumpah. Dokter itu pun kembali mencoba menenangkanku. Tapi air mataku semakin jatuh, jatuh dan terus jatuh. Bagaimana tidak, dokter itu adalah anakku. Dia satu-satunya anakku. Anak semata wayangku. Tapi takdir telah memaksaku berpisah dengannya.

“Boleh Ibu memelukmu, Nak? Bolehkah Ibu melepaskan rindu padanya dengan memelukmu? Sekali saja, Nak”. Pintaku mengiba padanya. aku pun berusaha bangun dari tempat tidur itu.

Tak disangka-sangka, dokter itu tak sungkan-sungkan langsung mendekatkan badannya kepadaku. Dia tak segan-segan segera memelukku. Padahal dia bisa saja menolak permintaanku. Siapa aku untuknya? dan kalau dipikir-pikir, bagaimana mungkin seorang dokter muda yang cantik mau memeluk wanita tua yang kumal sepertiku.

Tapi tidak dengan dokter ini. Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Dia pun mengelus-mengelus punggungku dengan tangan kanannya. Aku menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, terakhir aku memeluknya ketika dia baru saja lahir dari rahimku. Itu yang terakhir. Dan setelah sekian lama, setelah dua puluh delapan tahun, aku baru bisa memeluknya kembali. Tak bisa kubayangkan betapa bahagianya aku saat ini. Andai saja tuhan mengambil nyawaku saat ini, aku ikhlas-seikhlasnya. Pasti aku akan tenang.

“Ibu yang sabar ya. Ibu jangan menangis lagi. Kalau anak Ibu tahu, pasti dia sedih melihat Ibunya menangis.”

“Iya Nak. Terima kasih.” Ucapku sambil melepaskan pelukanku darinya. Dan ternyata dokter ini juga menangis. Kulihat dia menyapu air matanya.

“Maaf Nak. Ibu tak bermaksud membuatmu menangis.”

“Tidak apa-apa Bu. Saya terharu dengan Ibu. Saya dapat merasakan, betapa beruntungnya anak yang lahir dari rahim Ibu. Cinta Ibu begitu besar padanya.”

Anak itu adalah kamu, Sayang. Jeritku dalam hati. Tapi lidahku kelu. Tak sanggup berkata apa-apa. Kata-kata yang keluar adalah:

“Ya sudah, Nak. Boleh ibu minta obatnya?”

“Oh iya, Bu” Jawabnya segera beranjak mengambilkan obat untukku.

Tak berapa lama kemudian akhirnya dia memberikan beberapa obat kepadaku dalam bungkusan plastik bening.

“Berapa Nak?” Tanyaku berpura-pura hendak mengambil uang dari uncang yang tersembunyi di balik bajuku. Padahal tak ada uang di sana.

“Tidak  usah Bu. Bawa saja. Tidak apa-apa. semoga Ibu cepat sembuh ya.”

“benar tidak apa-apa, Nak?”

“Iya, Bu. Anggap saja saya anak Ibu. Jadi setiap Ibu sakit, Ibu bisa langsung berobat ke sini. Dan ibu tidak perlu bayar. Jangan sungkan-sungkan ya, Bu.” Ucap dokter itu sambil tersenyum.

Aku pun tersenyum. Aku bersyukur, anakku ternyata dikarunia hati yang mulia. Meski dia tidak tahu aku adalah ibunya, tapi dia begitu sopan padaku. Meski dia hanya melihatku sebagai wanita tua yang dia tidak tahu asalku dari mana, tapi dia tetap menghargaiku. Dan itu sudah cukup untukku.

“Terima kasih, Nak. Ibu doakan kau mendapatkan jodoh terbaikmu. Kalau boleh Ibu berpesan Nak, siapapun nanti lelaki yang menjadi pilihan hatimu, jangan pernah gegabah. Dengarkan nasihat orang tuamu. Pasti mereka menginginkan yang terbaik untukmu. Agar kau tak menyesal di kemudian hari, Nak.” Ucapku tulus padanya.

Dia mengangguk dan tersenyum padaku. Aku tidak tahu apakah dalam hati dia bertanya-tanya, kenapa aku berkata seperti itu padanya. Tapi untung dia tidak mempertanyakannya.

Aku hanya tak ingin dia, anakku, bernasib sama denganku. Tidak beruntung dalam cinta.

*******

Aku pulang dengan tenang. Bukan ke rumah milikku. Melainkan pulang ke rumah milik majikanku. Karena aku tak memiliki rumah. Jadi aku tinggal di sana sudah lama sejakku mulai bekerja dengannya, sebagai tukang masak di rumah makan milik majikanku itu.

Di seperjalanan pulang, aku bersyukur kepada tuhan. Ternyata keputusanku untuk tidak merawat sendiri bayi perempuan yang lahir dari rahimku adalah tindakan yang tepat. Sedari awal aku telah sadar, jika anak itu hidup bersamaku, dia hanya akan ikut-ikutan melarat sepertiku. Dan aku tidak mau itu terjadi. Biar saja aku yang sengsara. Tapi putriku itu jangan.

Makanya, dini hari setelah dia lahir dari rahimku di sebuah kamar mandi di mushalla yang tidak jauh dari tempat aku bekerja, aku meletakkannya di sana. Meski aku baru saja melahirkan, tapi aku seperti diberi kekuatan oleh Allah SWT. Aku sanggup berpura-pura berlari dan terkejut seolah-olah aku orang pertama yang menemukan seorang bayi yang tergeletak di depan mushalla.

Untung tidak ada orang yang mencurigaiku. Allah memang memiliki rencana yang indah untukku. Allah seperti tahu apa yang aku inginkan untuk anakku. Karena itu, ketika hamil, tak terlalu besar perutku seperti orang hamil. Tanda-tanda aku sebagai wanita hamil juga tak muncul sedikitpun. Dan sepertinya tubuhku juga tahu diri. Aku tak mengidam apa-apa seperti kebanyakan wanita hamil lainnya. Ditambah lagi dengan aku yang terbiasa memakai baju besar dengan sarung yang ku serong, semakin tak jelaslah perutku waktu itu.

Sampai kini masih teringat jelas olehku kejadian di waktu subuh itu. Banyak orang yang berkumpul melihat bayi yang kutemukan. Aku berdoa dan berharap, ada orang kaya yang rela mengambil anak itu. Aku pun berencana, jika yang mengambil anak itu nanti adalah orang yang juga tak berpunya, maka aku yang akan melarangnya.

Tapi Alhamdulillah. Allah seperti mendengar doaku. Waktu itu, tiba-tiba sepasang suami istri yang rumahnya tidak jauh dari mushalla ingin mengambil anak itu. Ku biarkan saja karena mereka adalah orang kaya yang telah lama menikah namun belum dikaruniai anak.

Mungkin ini sudah rencana Allah. Aku bahagia dan ikhlas jika bayiku di asuh oleh keluarga yang terpandang itu. Selalu ku intip dari jauh. Dan ternyata dugaanku benar. Anakku telah dididik dan disekolahkan oleh mereka hingga kini bayi itu telah tumbuh menjadi seorang dokter.

Rahasia itu biarlah hanya untukku. Akan ku jaga sampai mati. Takkan  ku beri tahu dokter itu kalau aku adalah ibunya. Aku tak mau membuat hatinya hancur mengetahui siapa sebenarnya ibu kandungnya. Dan aku tidak mau menghancurkan kebahagiaannya bersama keluarga yang telah membesarkannya.

Jadi biarkan saja. Biarkan saja hanya aku dan Allah yang tahu anak siapa dia sesungguhnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 8,31 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Google Plus)

Memukul Anak Dalam Perspektif Pendidikan Islam

Organization