Home / Narasi Islam / Hidayah / Dari Sawah Kuningan Hingga Sungai Kapuas

Dari Sawah Kuningan Hingga Sungai Kapuas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kapuas, Kota Air (dakwatuna)
Kapuas, Kota Air (dakwatuna)

dakwatuna.com Hari cerah seperti biasa. Langit mulai menampakkan cahayanya. Matahari meninggi perlahan. Udara segar merekah. Dua orang insan dengan langkah pasti menapakkan kaki menuju sawah. Kontras sekali dengan kegiatan para pemuda yang sepantaran dengan mereka. Bukan mencangkul, mencangkok, atau memanen. Bukan pula pekerjaan sawah yang lain macam mengairi atau mengarit. Bukan untuk itu mereka ke sawah. Mereka ke sawah untuk menghafal Al-Quran.

Sehari, dua hari. Seminggu, dua minggu, hingga akhirnya sampai hitungan sebulan, mereka berdua pada akhirnya menyelesaikan hafalan mereka. Tidak butuh waktu lama. Hanya sebulan, dengan modal konsisten dan semangat, mereka menyelesaikan hafalan mereka. Ya, mereka berdua.

Sebuah pertanyaan akan memenuhi benak para pembaca sekalian, kenapa sawah? Kenapa tidak di masjid atau di ruangan tertutup? Kenapa harus sawah? Sederhana saja. Kenapa harus sawah? Karena di sawah segala macam warna tumbuhan ada. Merah, kuning, hijau, ungu, dan sebagainya. Lalu apa bedanya dengan masjid. Bukankah di masjid juga terdapat bermacam-macam warna.

Bedakan antara alami dan buatan. Antara sebuah karya masterpiece dari Sang Pencipta yang dengannya manusia bisa sekaligus bersyukur dan menadabburi ayat-Nya. Bedakan antara itu dengan sebuah karya seni kaligrafi buatan tangan manusia yang hanya bermodalkan cat buatan. Efek di mata akan sangat berbeda jauh. Akan lebih cepat bosan jika mata terus melihat gambar semu mati. Dan proses menghafal pun dapat terganggu.

Itulah mengapa setiap pagi, setelah sang surya menampakkan sinarnya, selalu terlihat dua pemuda tanggung berjalan menuju sawah. Untuk menghafal Al-Quran.

Dan bagaimana jika itu adalah perjuangan terakhir mereka untuk orang tua? Bagaimana jika itu usaha terakhir mereka untuk menunjukkan pada orang tua mereka bahwa mereka mampu? Bagaimana jika seperti itu, namun ketika ada sebuah prosesi wisuda dari sekolah mereka, nama mereka tak terpanggil? Padahal seluruh jiwa, akal, pikiran, badan, telah mereka kerahkan dengan maksimal.

Adalah sebuah keniscayaan timbul kekecewaan dalam benak mereka. Sebuah akibat dari sebab. Sebuah kewajaran jika mereka kecewa, sangat kecewa. Tidaklah berlebihan jika timbul rasa kecewa, begitu juga rasa malu yang sangat kepada orang tua mereka.

Tapi jika terus terpuruk tidak ada gunanya. Nabi Muhammad SAW setelah terjadi kecelakaan dalam perang Uhud pun langsung bangkit. Tiga hari setelah perang Uhud, Nabi SAW mulai melakukan ekspedisi militer, penyergapan kepada kabilah-kabilah sekitar Madinah yang di anggap membahayakan. Begitu pun yang mereka berdua lakukan. Bangkit adalah sebuah solusi atas sebuah kekecewaan.

Selang beberapa waktu dari kejadian mengecewakan itu, tepatlah firman Allah Taala yang mengatakan, “Wa Yarzuqhu min haitsu laa yahtasib… “dan Dia (Allah) memberi (orang-orang bertakwa) rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya…”. Mereka berdua mendapat tawaran menjadi imam tarawih di pulau lain. Tanpa pikir panjang, akhirnya mereka berangkat menuju tempat tujuan. Tempat tujuan mereka terkenal akan sungainya. Kota tujuan mereka pun mempunyai julukan, Kapuas Kota Air.

Maka Allah Taala mengganti kekecewaan dan rasa malu mereka dengan yang lebih berharga dan lebih bermanfaat. Semua tergantikan; materi dalam bentuk uang, ilmu dalam bentuk pengalaman, dan amal dalam bentuk kegiatan ansyithah ramadhaniyah. Yang pasti mereka tidak bisa mendapatkan semua itu di tanah asal mereka.

Imam shalat tarawih, Imam shalat fardhu, kultum, ustadz Majelis Ta’lim, khatib Jumat, khatib Idul Fithri adalah sebagian dari berbagai kegiatan yang mereka kerjakan dalam ansyithah ramadhaniyah. Biarlah mereka dikecewakan saat prosesi wisuda, tapi Allah Taala mengetahui niat baik hamba-Nya. Allah tanpa ada keraguan sedikit pun lebih mengetahui hati hamba-Nya yang dikecewakan, dan sungguh janji Allah itu pasti. Beranggapan bahwa ini adalah hadiah dari Allah tidaklah salah, mungkin lebih tepatnya salah satu keberkahan Al-Quran. Ya, keberkahan Al-Quran.

Membuat pengalaman dengan memulai puasa, shalat Idul Fitri, bahkan ikut serta dalam PILPRES 5 tahun sekali terasa berbeda bagi mereka. Semua berbeda karena dilaksanakan di pulau lain.

Mendapat cerita bagaimana perjuangan dakwah para dai sungai Kapuas, hingga perintis lembaga pendidikan di pedalaman menambah esensi perjalanan mereka dalam melewati hari-hari di sana. Syukur tiada henti mereka panjatkan kepada Sang Khaliq, kepada Dia yang selalu adil kepada hamba-hamba-Nya. (ubs/dakwatuna)

(Ini adalah kisah nyata dua orang santri Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat. Mereka berdua telah menjadi alumni angkatan 17 tahun 2014)

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ja'far Samin
Lulusan pesantren Husnul Khotimah, Kuningan-Jawa Barat yang cinta Al-Quran dan hobi olahraga.
  • DUduKtekUN

    banyak bermain kata kata, hingga tak ada kesan. selain pertanyaan “apa pentingnya membandingkan belajar disawah dengan dimasjid?”, lebih heboh dengan judul saja “anak tukang becak dapat beasiswa ke london”

Lihat Juga

Hasan Al-Banna. (inet)

Hasan Al-Banna, Figur Rekonsiliatif