Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Iri Pada Mereka, Bantu Mereka

Iri Pada Mereka, Bantu Mereka

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Saat kita menyimak berita-berita tentang muslim di seluruh dunia membuat perasaan mengharu-biru. Bagaimana tidak, mengetahui betapa beratnya perjuangan rakyat Palestina yang telah puluhan tahun tak henti-hentinya diteror, disiksa dan dibunuh oleh bangsa Israel. Kemudian menyaksikan betapa menderitanya rakyat Suriah di bawah kebrutalan rezim penguasa, dibantai, dan dianiaya. Belum lagi membayangkan kuatnya permusuhan pemerintah kudeta militer di Mesir terhadap penegakan syariah Islam. Apalagi mengetahui kabar tentang pembantaian muslim di Afrika Tengah.

Subhanallah, tak terhitung berapa nyawa yang telah melayang, tak terkira berapa harta yang hilang. tak terperi penderitaan, kesengsaraan, kesedihan dan kesulitan hidup mereka. Wanita dan anak-anak tak luput menjadi korban. Pilu dan sedih bercampur dengan marah menyesakkan dada. Belum lagi jika mendengar betapa sulitnya, betapa besarnya tantangan muslim muslimah di berbagai belahan bumi untuk menjalankan syariat dengan kaffah.

Yaa Allaahul ‘Aziizul Jabbaarul Mutakaabir,

Yaa Allaahul Qowiyyul Matiinul Waliyy,

Kaulah Yang Perkasa, Yang Maha Gagah, Yang Maha Memiliki Kebesaran,

Kaulah Yang Maha Kuat, Yang Maha Kokoh, Yang Maha Pelindung,

Tolonglah saudara- saudara kami di manapun berada, kuatkanlah mereka, lindungilah Iman Islam mereka,

Masukkan mereka yang telah gugur karena mempertahankan dinnya, karena menegakkan Kalimah-Mu di muka bumi ini ke dalam Ridha-Mu dan Jannah-Mu,

Muliakanlah hidup mereka yang tengah berjuang mengagungkan Asma-Mu,

Dan jadikanlah kami penyokong mereka.

Jika semua itu kita lihat dari sudut pandang yang lain, yakni dengan mengingat janji-janji Allah, maka kita akan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang beruntung. Kenapa beruntung? Karena musuh yang harus mereka hadapi sangat jelas. Hadir di hadapan mereka musuh-musuh Allah yang nyata. Panggilan menjadi mujahid nyaring terdengar, jalan menjadi syuhada terbuka lebar. Mental mereka tertempa dengan perjuangan. Iman mereka terasah dengan penderitaan. Saat mereka harus menahan derita, harapan masuk surga tanpa hisab terasa sangat dekat. Tatkala dunia tak memberi uluran tangan, ketawakalan mereka menggunung hanya Allah Ta’ala tempat bergantung. Ketika senjata tidak ada di tangan, doa jadi senapannya, ghirah jadi peledaknya. Ketika benteng tak lagi bisa menahan serangan musuh, perlindungan Allah Ta’ala jadi sandarannya. Ketika kekuatan mulai melemah maka kedigdayaan Allah Ta’ala jadi harapannya. Syahid menjadi cita-cita tertingginya.

Allah SWT benar-benar memuliakan mereka. Betapa indahnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi yang syahid:

“Allah SWT berfirman: Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizqi. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka dan mereka beriang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang masih berjihad di jalan Allah) yang belum menyusul mereka. Ketahuilah tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 169-171)

“Rasulullah SAW bersabda: “Bagi orang syahid di sisi Allah maka ia memperoleh enam perkara, yaitu

  1. diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya,
  2. diperlihatkan tempat duduknya di surga,
  3. dilindungi dari azab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat),
  4. dipakaikan perhiasan iman,
  5. dinikahkan dengan hurun‘in (bidadari surga), dan
  6. diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad yang shahih)”

Siapa sajakah mereka?

“Rasulullah SAW bersabda:

  1. siapa yang meninggal karena mempertahankan hartanya maka ia syahid,
  2. siapa yang meninggal karena membela keluarganya maka ia syahid,
  3. siapa yang meninggal karena membela agamanya maka ia syahid, dan
  4. siapa yang meninggal karena mempertahankan darahnya maka ia syahid.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, dan At Tirmidzi dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu dan sanadnya shahih)”

“Salman Al-Farisi RA menyebutkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW: “Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan ketika masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rizqinya serta aman dari fitnah (pertanyaan kubur).” (HR. Muslim)

Keadaan kita di sini sangatlah berbeda. Secara umum situasi negeri kita aman, kita masih bisa menjalankan syariah Islam dengan mudah, kecuali di beberapa daerah atau di beberapa hal tertentu. Kekayaan alam melimpah, dengan cuaca yang relatif bersahabat. Itu adalah karunia yang sangat besar dari Allah Ta’ala yang perlu kita syukuri, namun semua itu jangan sampai melupakan kita akan satu hal. Yakni mempertebal iman, memperbanyak amal shalih, menempa mental, dan meninggikan izzah.

Secara kasat mata tidak ada musuh yang memerangi kita secara terang-terangan. Atau tepatnya adalah musuh kita tidak tampak. Padahal musuh itu tetaplah ada. Dia menyelinap di relung hati, dan merasuk ke dalam pikiran. Hingga akibatnya mampu mengubah cara pandang, mampu menahan anggota tubuh untuk melakukan kebajikan dan mampu menggerakkan anggota tubuh  untuk bermaksiat. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Musuh kita menggunakan taktik perang gerilya. Musuh kita memerangi dengan perang pemikiran, dengan melenakan kita, dengan menina-bobokkan kita, dengan mengkerdilkan harga diri kita, dengan melemahkan semangat kita dalam meninggikan Kalimatullah. Musuh kita berupa wahn yang dikibarkan oleh media bathil, yang dihembuskan oleh rayuan materialistik, yang disuarakan oleh corong-corong sesat, dan yang didengungkan oleh ajakan-ajakan mungkar. Untuk itu kita harus tetap waspada agar tidak tergoda, dan selalu mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala.

Jika kita ditimpa keadaan seperti mereka, yang harus menghadapi musuh secara langsung, belum tentu kita mampu untuk menghadapi. Belum tentu kita mampu untuk istiqamah di jalan Allah. Maka kita azzamkan (tekadkan) untuk berbuat yang terbaik di keadaan kita. Dan tidak perlu berkecil hati. Bukankah Allah Ta’ala adalah Rabb yang Maha Adil. Rahmat-Nya meliputi segala hal. Tanpa harus mengalami, kita bisa mendapatkan pahala mati syahid. Jika syahid dengan jiwa mungkin belum mampu kita kerjakan, maka kita bisa mendapatkan pahala syahid dengan doa.

“Siapa saja di antara kamu yang berdoa pada Allah agar diberi mati syahid, Allah akan memberikan pahala mati syahid sekalipun jika orang itu wafat di atas tempat tidurnya.” (HR Muslim).

Tentunya yang mendapatkan pahala itu adalah orang-orang yang telah berjihad, baik dengan jiwanya maupun dengan hartanya.

Ya… kita bisa berjihad dengan harta. Harta yang kita punya bisa berangkat ke medan jihad walaupun tanpa tuannya. Harta bisa menjadi tentara pendukung jihad. Bagaimanapun juga para mujahid sangat membutuhkan dukungan perbekalan untuk melawan musuh. Juga untuk menafkahi keluarga yang ditinggalkannya.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS. Al Baqarah: 261)

“Siapa yang menyiapkan perbekalan orang yang berperang berarti telah berperang dan siapa mengurus harta dan keluarga orang yang berperang berarti telah ikut berperang” (HR. Bukhari-Muslim).

Mari kita berdoa untuk diri sendiri, keluarga dan saudara-saudara kita di seluruh dunia, agar tetap istiqamah fii sabilillaah. Fastabiqul Khairat. Wallaahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hamba Allah Ta'ala yang selalu berusaha untuk mendapat cinta-Nya. Lahir di Jawa Timur dengan nama Susanti Hari Pratiwi binti Harmoetadji. Pendidikan formal hanya sampai S1 Teknik Kimia ITS
  • Sudarmadji Sumowiyono

    Terimakasih mbak.

Lihat Juga

Stadium general di aula Universitas Islam As-Syafiiyah. (aspacpalestine.com)

Peringati Hari Solidaritas Palestina, ASPAC for Palestine Gandeng UIA Gelar Stadium General