Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Palestina, Sebongkah Kegetiran

Palestina, Sebongkah Kegetiran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ROL/AP)
Ilustrasi. (ROL/AP)

dakwatuna.comDi titik ini, mari kita bayangkan sebuah negeri yang tidak diperuntukkan untuk menikmati kenyamanan mall berpendingin ruangan, juga sebuah taman kota terbuka yang dipenuhi tawa tiap akhir pekan. Bukan juga sebuah negeri yang jalanannya dapat dilalui dengan santai dan dapat dipakai oleh remaja yang baru mendapatkan lisensi berkendara. Palestina, bukanlah negeri yang menyediakan ketenangan secara percuma.

Setiap menyebut kata Palestina, setiap itulah kita menyebut kegetiran. Sebuah kata yang dibentuk oleh debar rudal yang siap menghantam kapan saja, dengan kulit-kulit yang tercabik, juga berbaur dengan cemas dunia yang sebatas kata, tanpa makna.

Kita juga dapat menyebut Israel sebagai paranoia. Ia selalu menatap dengan rasa ngeri dan menganggap Palestina seperti wabah yang menyebar, karenanya harus ditumpas. Tak hanya para serdadu Brigade Al-Qassam, tetapi sebelum anak-anak itu mahir menembak AK-47, harus dihabisi ketika mereka baru saja belajar memegang kendali sepeda. Rahim harus dirusak, karena konon di Palestina, para wanitanya memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. Israel membenci anak Palestina hingga ke ubun-ubun.

Dan kini, tahun 2014, Palestina masih dirundung getir. Ia adalah sisa-sisa kelam imperialisme masa lalu, yang masih terluka, dan duka.

Barangkali sekarang dunia tak sebisu beberapa waktu lalu. Tetapi, diplomasi yang dilakukan masih sonder intensi. Entah harus berapa banyak bayi lagi yang harus meregang nyawa untuk dapat membuat Palestina benar-benar berdaulat, berdiri di atas kaki sendiri.

Darah masih tertumpah, seperti di Gaza hari ini. Tapi ternyata waktu masih menyisakan kemanusiaan untuk bergerak. Juga di Indonesia.

Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki sejarah panjang imperialisme, tampak merasakan pilunya orang-orang Palestina dikekang di tanah sendiri. Sejak awal kemerdekaan, tokoh seperti Soekarno sudah berteriak lantang pada tahun 1962, di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel”.

Di balik reruntuhan rumah penduduk Jalur Gaza, tertanam harapan yang dipupuk dalam waktu yang lama, yang mengakar, menjalar. Belum lagi menjadi pohon, tetapi harumnya telah dapat dicium, bahkan hingga ke Indonesia.

Kita hanya bisa menyirami benih itu dengan sedikit donasi, dan doa yang tak boleh henti.

Palestina adalah sebentuk kegetiran. Tapi, ia tak lupa menyimpan manis yang menawan. Manis yang dapat dirasakan oleh mereka yang mengerti arti perjuangan. Tubuh boleh hilang, tapi harapan harus terus berkumandang.

Untuk saudara-saudara di Palestina yang telah menampar kami, kami yang luput mensyukuri nikmat kemerdekaan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Wakil Presiden BEM REMA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) 2013 dan kader KAMMI UPI.

Lihat Juga

Bersama ASPAC, UIN Syarif Hidayatullah Gelar Seminar 69 Tahun Pembagian Palestina