Home / Pemuda / Cerpen / Takbir di Bawah Langit Gaza

Takbir di Bawah Langit Gaza

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ROL/AP)
Ilustrasi. (ROL/AP)

dakwatuna.com Hafizh meringkuk di dalam pelukan Umminya. Ia menatap langit yang berwarna merah saga; perpaduan antara terbenamnya matahari dengan ledakan bunga api rudal-rudal maut itu. Sementara di sisinya, Hafshah — adik perempuannya yang masih berusia tiga bulan — masih terlelap dalam tidur nyenyaknya, seakan tak peduli dengan bunyi ledakan dan ketegangan yang menjalar ke dalam rumah sederhana keluarga Abdurrahman Al-Qassam ini.

Ummi mempererat pelukannya ketika mendengar suara langkah kaki mendekati pintu rumahnya. Hafizh menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata. Tanpa terasa, ia mulai terisak karena teringat sosok Abinya di luar sana.

Abi yang berjanji padanya, dua hari sebelum kehancuran ini terjadi…

***

“Abi… Abi… Kalau aku bisa puasa penuh selama Ramadhan ini, Abi mau kasih hadiah apa?”

Lelaki berjanggut tipis itu tersenyum. “Hafizh maunya apa?”

“Mau masuk surga, Bi. Bersama Ummi, Abi, dan Hafshah.”

“Kalau begitu, mintalah pada Allah langsung. Abi hanya bisa mendoakan semoga cita-cita mulia itu Allah kabulkan.”

“Baik, Bi. Tapi… Aku juga minta liburan ke rumah Paman Khaidar, ya. Boleh?”

Abinya tertawa kecil. “Insya Allah, Nak. Insya Allah…”

***

BUMMMM!

DUARRRR!

Hafizh lupa bagaimana suara itu bisa tercipta. Semua terjadi begitu cepat dalam sekejap. Ketika pintu rumahnya dibobol paksa, tampak tentara bersenjata mengarahkan senapan tepat ke arah Ummi. Di belakang tentara itu tadi, ternyata menyusul belasan tentara lainnya yang siap dengan senjata serupa, dan kini turut mengarahkan senjatanya ke arahnya pula.

Beberapa detik kemudian, saat sepersekian detik sebelum hujan peluru terlepas, Hafizh telah melesat membentengi Ummi dan Hafshah — membiarkan dirinya menjadi sasaran peluru hingga tubuhnya bermandikan darah yang tak meninggalkan rasa sakit sedikit pun.

Ummi memekikkan takbir melihat putranya bertahan untuk berdiri membentangkan tangan melindungi dirinya. Pada sisa napas terakhir yang diembuskan Hafizh, ia tersenyum lebar ke arah tentara Israel yang kini kehabisan amunisi. Mereka tampak panik, karena ternyata sang anak laki-laki yang telah dihujani puluhan peluru itu masih mampu berdiri.. bahkan tersenyum kepada mereka!

“Allahu ghayatuna… Ar-rasul qudwatuna… Al-qur’an dusturunna… Al-jihad sabilluna… Syahid fiisabilillah asma amanina…”

Raga yang telah dingin itu akhirnya ambruk jatuh ke lantai. Ummi semakin lantang memekikkan takbir diiringi air mata. Putra kebanggaannya yang baru berusia enam tahun itu syahid di depan mata kepalanya sendiri, dengan wajah yang tersenyum seakan tak merasakan sakit sedikit pun.

Ummi memekikkan takbir lagi. Kali ini lebih lantang. Menggema memecah langit Gaza. Seakan tak kehabisan akal, salah seorang dari tentara itu mengambil granat dari dalam sakunya, yang diikuti oleh beberapa rekan-rekannya yang masih memiliki persediaan granat serupa.

Beberapa detik, mereka bersiap mundur…

Granat itu dilemparkan ke arah Ummi dan Hafshah.

DUARRRRRRRRR!!!

Api dan asap menyelimuti rumah sederhana itu. Para tentara Israel tertawa terbahak-bahak melihat semua itu. Namun tak berapa lama kemudian, mulut mereka bagai terkunci rapat saat mendengar suara yang merambat ke dalam telinga mereka.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Suara takbir yang berasal dari rumah yang penuh asap dan kobaran api itu membuat lutut mereka lemas. Kini tak ada satu pun dari mereka yang tertawa, selain ekspresi terperangah dengan mata yang menatap penuh tanya…

***

“Hafizh…”

Laki-laki itu membentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut pelukan putra kecilnya yang telah menuntaskan 30 juz hafalan Al-Qurannya itu.

“Abi!”

Mereka berpelukan erat. Di belakang Hafizh, Ummi berjalan sambil menggendong Hafshah dengan wajah yang tersenyum tulus.

“Sekarang impianmu tercapai, Nak.”

Abi menggendong Hafizh dengan tangan kirinya dan menggandeng Ummi dengan tangan kanannya. Keluarga kecil itu berjalan menuju sebuah titik cahaya putih, bersama dengan ratusan bahkan ribuan jiwa-jiwa lainnya yang darahnya tertumpahkan di bumi jihad Palestina

“Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shaddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya.” (An-Nisa: 69)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (52 votes, average: 9,04 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fadlillah Octa Noviari
Mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Indonesia. Seorang peramu aksara yang masih terus belajar untuk dapat meracik buah pikiran menjadi serangkaian aksara yang bermanfaat.
  • Judasm

    pertanyaan saya. ini yang buat cerita siapa?? bikinin juga dong cerita tentang remaja istrael yang di bunuh duluan. :)).

  • Guest

    .,..

  • Anton Akong

    yahudi anjinggg

  • Shendy DeathSeeker

    semoga semua amalmu diterima di sisiNYA…

Lihat Juga

Bersama ASPAC, UIN Syarif Hidayatullah Gelar Seminar 69 Tahun Pembagian Palestina