Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Melenyapkan Arogansi, Membiakkan Toleransi

Melenyapkan Arogansi, Membiakkan Toleransi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Dari hari ke hari, suhu di negeri kita ini kian panas. Ya, kita memang sedang berada di musim panas nasional. Musim yang datangnya hanya sekali dalam lima tahun. Musim yang pancaran sinar mataharinya menjadi kian panas disebabkan oleh persaingan antara dua kubu yang besarnya hampir setara. Musim yang akan berdampak besar pada musim-musim setelahnya. Dan, sebaik-baik sikap selama di musim ini adalah mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa menjadi dampak dari efek-efek bawaannya.

Hal-hal yang bisa menjadi dampak buruk dari musim ini adalah permusuhan. Retaknya persaudaraan. Putusnya persahabatan. Matinya kekeluargaan. Lumpuhnya keakraban. Senggangnya kedekatan. Ini adalah hal-hal yang bisa terjadi dalam satu detik. Bisa merebak oleh satu kata yang terucap. Maka, untuk menghadapi musim ini, alangkah bijaknya kalau kita membekali diri kita dengan ketenangan dan kedamaian hati.

Musim boleh memanas, tapi di hati jangan. Pilihan boleh berbeda, tapi perpecahan jangan sampai terjadi. Pendapat boleh berseberangan, tapi jiwa persaudaraan jangan membusuk. Hadapilah musim ini dengan toleransi. Pandanglah orang lain sebagai saudara sebangsa yang juga memiliki hak pilih dan hak bersuara, sama seperti diri kita. Kalau ingin mengutarakan pandangan, berbicaralah dengan sopan. Sebab kesopanan adalah awal dari keakraban. Bila ingin mempersuasi, berbicaralah dengan santun. Sebab kesantunan adalah awal dari ketenangan.

Sebelum memenangkan apa pun, kita seharusnya terlebih dahulu memenangkan persaudaraan, persatuan, dan keutuhan jiwa sebangsa. Mari kita kenang bersama lembaran sejarah Indonesia di masa silam. Apakah yang menjadi senjata paling ampuh di saat-saat usaha memerdekakan Indonesia ini berlangsung? Bukan meriam, bukan bambu runcing, bukan senapan, bukan pisau, bukan pedang, tetapi kesatuan dan kemantapan tekad untuk merdeka.

Saat itu bangsa ini hanya memekikkan satu kata; Merdeka! Saat itu bangsa ini hanya mengemban satu visi; Merdeka! Saat itu bangsa ini hanya mengimpikan satu keadaan; Merdeka! Maka kemerdekaan itu pun dapat diraih. Bersama. Hati setiap orang terisi oleh kebahagiaan. Ini usaha bersama. Ini perjuangan bersama. Ini pengorbanan bersama.

Kini, ketika kita tidak lagi berhadapan dengan musuh yang nyata, akankah kita menjadikan saudara sebangsa kita menjadi musuh? Akankah kita lebih berpihak kepada asing untuk membombardir negeri kita sendiri? Lupakah kita pada tetes-tetes darah perjuangan yang dahulu memerahkan tanah-tanah negeri ini? Lupakah kita pada remuk-remuk tulang yang dulu berusaha keras membebaskan negeri ini dari penindasan?

Kita hanya butuh lautan ide untuk memajukan negeri ini. Kita hanya membutuhkan tangan-tangan yang siap bekerja keras untuk memantapkan negeri ini. Kita hanya butuh semangat yang berkobar-kobar untuk menyejahterakan negeri ini. Kita hanya butuh hati yang terisi oleh rasa cinta terhadap negeri ini. Apabila semua ini telah terkumpul secara akumulatif, maka kemajuan, kemantapan, dan kesejahteraan tidak lagi menjadi sekedar angan memanjang. Segera akan menjadi nyata. Pasti.

Namun, itu semua hanya akan menjadi mimpi di siang bolong jika kita tidak pernah melenyapkan arogansi yang ada di dalam hati kita. Ketahuilah, ini adalah racun paling berbahaya. Ia akan memusnahkan kebaikan. Ia akan membunuh rasa cinta. Ia akan menjadikan kita jauh dari kebenaran, sebab kita akan merasa benar dalam setiap hal. Padahal, belum tentu kenyataannya begitu. Inilah arogansi. Inilah kesombongan. Inilah kejumawaan. Saat ini, detik ini, lenyapkanlah. Jangan biarkan tumbuh di dalam hatimu!

Semailah toleransi di dalam hati. Gantikan arogansi dengan toleransi. Gantikan kedengkian dengan kelapangan dada. Gantikan kebencian dengan persatuan. Berbicaralah atas nama bangsa Indonesia, bukan nama golongan, partai, dan sejenisnya. Inilah kita, satu langkah, satu arah, dan satu cita-cita; kesejahteraan Indonesia.

Kalau kita harus berbeda pandangan dalam upaya meraihnya, biarlah perbedaan itu menjadi amunisi yang memancarkan semangat, bukan justru membunuh tekad. Sebab di dalam hati hanya ada keinginan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Berlomba-lomba meraih prestasi untuk memajukan bangsa. Berlomba-lomba untuk mengasrikan tanah air.

Saudaraku, tidak ada seruan yang paling utama di tengah hiruk-pikuk suara persuasif yang sering kali dibarengi dengan fitnah-fitnah, isu-isu miring, dan kabar-kabar burung, selain seruan untuk berpikir bijak. Dari manakah semua itu berasal? Yakinlah, itu semua tidak akan keluar dari orang yang menginginkan kebaikan untuk bangsa ini. Sebaliknya, semua itu akan terus-menerus tercuatkan dari lisan-lisan biadab yang menginginkan kehancuran negeri ini dan mengambil keuntungan pribadi darinya. Maka, renungkanlah….

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Ilustrasi. (alukah)

Radio Finlandia Akan Siarkan Al-Quran

Organization