Home / Berita / Nasional / “Masyarakat TV Sehat” Himbau Stasiun TV untuk Dinginkan Suasana Saat Pencoblosan Pilpres

“Masyarakat TV Sehat” Himbau Stasiun TV untuk Dinginkan Suasana Saat Pencoblosan Pilpres

Fahira Idris. (foto.okezone.com)
Fahira Idris. (foto.okezone.com)

dakwatuna.com – Tahapan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014 memasuki masa tenang. Melihat sempat memanasnya pemberitaan media massa terutama televisi pada masa kampanye, stasiun televisi dihimbau untuk mendinginkan suasana saat pencoblosan 9 Juli 2014 lewat pemberitaan yang berimbang, proporsional dan tidak memihak salah satu calon, demikian seperti rilis yang diterima redaksi dari “Masyarakat TV Sehat”, Senin (7/7/2014).

Pembina Masyarakat TV Sehat Indonesia Fahira Idris mengatakan, sudah jadi rahasia umum beberapa stasiun televisi memihak salah satu calon. “Ini tidak boleh lagi terjadi saat pencoblosan. Seperti kita tahu, beberapa jam setelah TPS ditutup semua stasiun pasti menyiarkan hitung cepat. Nah, ini bisa jadi potensi disharmoni di masyarakat, jika stasiun-stasiun televisi menyiarkan hasil hitung cepat yang berbeda-beda,” ujar Fahira.

Menurut Fahira, dalam menyiarkan hasil hitung cepat, stasiun televisi harus mengingatkan berulang-ulang kepada pemirsa bahwa hasil pilpres yang sah dan punya kekuatan hukum adalah hasil penghitungan suara manual yang dilakukan KPU secara bertahap, bukan hasil hitung cepat yang disiarkan masing-masing stasiun televisi.

“Ini penting untuk mencegah disharmoni di masyarakat kita. Terlalu besar yang harus kita pertaruhkan kalau hanya gara-gara pilpres bangsa ini hancur, dan media massa terutama televisi punya peran untuk mencegah bangsa ini dari perpecahan,” ujar perempuan yang juga dikenal sebagai aktivis perempuan ini.

Saat ini, lanjut Fahira, media televisi sudah menjadi medium yang sangat besar mempengaruhi persepsi publik terhadap suatu isu, karena saat ini televisi telah menjadi rujukan utama masyarakat.

“Dengan daya jangkau yang luas, program televisi sangat mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat. Untuk itu saya berharap pemilih stasiun televisi sadar akan peran dan posisi pentingnya ini,” jelas Fahira.

Fahira juga mengingatkan kembali bahwa paradigma penyiaran Indonesia adalah kebebasan berdasarkan keadilan, demokrasi dan supremasi hukum, bukan kebebasan yang disalahgunakan untuk kepentingan pribadi maupun golongan.

“Saya menyarankan, sebelum hari pencoblosan, Komisi Penyiaran Indonesia mengingatkan semua pemilik stasiun televisi untuk tidak menyiarkan berita ataupun pernyataan yang membuat suhu politik semakin panas. KPI harus mencegah dan mengingatkan mereka,” saran Fahira Idris. (dakwatuna/hdn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Surat Kabar Amerika Shock Berat dengan Kemenangan Trump