Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Titik Persinggahan Sejarah

Titik Persinggahan Sejarah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: footage.shutterstock.com)
Ilustrasi. (Foto: footage.shutterstock.com)

dakwatuna.com Jalan cerita kehidupan setiap manusia punya alur yang berbeda-beda, meskipun terkadang ada kemiripan tapi tetap tak sama persis. Sebab jalan cerita itu ada ‘Penulis’nya Dia-lah Sang Maha Pemilik Alam Semesta. Cerita-cerita itu dituliskan-Nya di sebuah ‘catatan’ yang sering kita dengar namanya Lauh Mahfudz atau Lauhul Mahfudz. Bahkan semua cerita kehidupan dunia ini tertulis di sana, sehelai daun kering yang jatuh dari ranting pohon pun tak ada yang terjadi begitu saja kecuali sudah tertulis. Namun sejalan dengan firman-Nya dalam surat Ar-Ra’d: 11 Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” bahwa ada ruang untuk kita umat manusia untuk bisa ‘menentukan’ nasibnya sendiri.

Saya sebut dengan titik persinggahan sejarah kehidupan adalah momentum-momentum perjalanan hidup yang bisa dikatakan sebagai permulaan dari sebuah perubahan besar, karena momentum itulah perjalanan kehidupan berubah total. Boleh jadi ini hanya terjadi untuk penulis seorang karena setiap individu mungkin saja berbeda-beda dan juga boleh jadi juga bahwa banyak sekali momentum perubahan itu namun menurut saya yang paling punya pengaruh signifikan. Paling tidak ada empat titik persinggahan sejarah yang penulis sudah, sedang dan akan alami, ini bukan sebuah ramalan hanya sedikit analisa.

Pertama, kelahiran atau ketika saya lahir tentu tidak pertentangan akan momentum ini. Sebab tanpa kelahiran anak manusia tidak akan ada sejarah itu dan semua anak manusia mengalaminya. Meskipun kata Nabi SAW setiap anak yang baru lahir dalam keadaan fitrah (Islam) namun faktor orang tualah yang akan menentukan agamanya apakah yahudi, Nasrani atau majusi. Di sinilah momentum sejarah itu dimulai.

Kedua, ketika saya kuliah atau memasuki perguruan tinggi. Perubahan mendasar dari mulai pola pikir, motivasi hidup, visi dan misi serta cara menyikapi masalah dan lain-lain berawal ketika saya menjadi mahasiswa ini hingga kemudian ‘tercebur’ dalam barisan dakwah jamaah tarbiyah. Sejak saat itulah semuanya berubah dan saya mulai mendapatkan jadi diri yang lama dicari.

Ketiga, setelah saya menikah. Walaupun hari ini saya belum menjalaninya akan tetapi saya kira momentum inilah yang nantinya akan mengubah perjalanan hidup saya. Mencoba belajar dari para orang tua, sahabat dan saudara yang telah menjalani biduk rumah tangga tampak akan banyak perubahan ketika sudah punya pendamping, paling tidak hidup tak lagi sendiri.

Keempat, kematian. Tentu inilah akhir dari sejarah kehidupan manusia maka momentum inilah yang akan mengubah segalanya. Apakah akan menjadi penghuni surga atau sebaliknya? Apakah akan mendapat siksa atau nikmat-Nya yang tak terhingga. Inilah momentum terakhir yang akan dilewati oleh anak Adam dalam fase kehidupan di dunia.

Semoga momentum yang belum terjadi dapat sesuai harapan atau ceritanya akan lebih baik dari sekedar harapan. Dan yang paling penting momentum terakhir itu dapat menjadi cerita indah yang happy ending dengan mati dalam keadaan khusnul khatimah. Aamiin… Wallahu’alam bishshawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Sriwijaya. Pernah menjadi Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa Unsri 2011-2012 dan sedang proses menyelesaiankan studi.

Lihat Juga

Meluruskan Cara Pandang terhadap Sejarah Islam bersama Omah Peradaban