Home / Berita / Opini / NU, Kedewasaan Berpolitik Muhammadiyah, dan Mengelola Konflik

NU, Kedewasaan Berpolitik Muhammadiyah, dan Mengelola Konflik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: fondos.depantalla.com)
Ilustrasi. (Foto: fondos.depantalla.com)

dakwatuna.comBagi NU dan Muhammadiyah sering kali godaan politik datang teramat menggiurkan, hingga tanpa terasa banyak yang telah berada terlalu jauh dari khittah. Klaim-klaim dukungan, perpecahan internal hingga gesekan antar ormas adalah sebagian dari ekses negatif yang ditimbulkannya.

Sebagaimana terjadi pada kicauan politikus PKS Fahri Hamzah tentang gagasan menjadikan 1 Muharam sebagai hari santri nasional. Di antara pro kontra gagasan tersebut dan multitafsir kicauan yang dilontarkan, disayangkan ada respons berlebihan di tingkat pemimpin umat yang bisa memicu gesekan di akar rumput.

Terkait hal ini, menjadi relevan mengingat kembali pesan Ketua Umum MUI yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin kepada umat Islam agar dalam mendukung pasangan capres dan cawapres tertentu bersikap sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat capres yang didukung menjadi musuh politik. “Dalam mendukung capres, jangan jadi ekstremis, fanatik. Jangan orang lain yang bertarung, kita yang ribut.”

Jalur di luar politik praktis yang ditempuh NU dan Muhammadiyah adalah sebuah pilihan. Sebagaimana disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, kalau Muhammadiyah terseret pada kepentingan politik maka dipastikan Muhammadiyah akan hancur, kondisinya akan naik turun sejalan dengan naik turunnya parpol tersebut. Umat Islam harus melibatkan diri dalam politik, tapi tidak semuanya masuk ke dalam politik praktis.

NU dan Muhammadiyah telah hidup dalam rentang masa yang panjang, menjalani berbagai kondisi yang berbeda. Memegang kekuasaan hingga terlempar dari kekuasaan, menjadi anak emas penguasa hingga menjadi anak tiri penguasa, menikmati masa-masa penuh kebebasan hingga menjalani masa penuh diskriminasi dan intimidasi. Pada semua kondisi itu, dakwah harus tetap berlanjut, dan misi dakwah harus senantiasa terjaga.

Ketika komitmen untuk meneguhkan jati diri sebagai Islam moderat yang rahmatan lil alamin teruji, komitmen yang sebenarnya menuntut sikap sabar menghadapi permasalahan yang timbul, tak mungkin dakwah ini menafikkan adanya tantangan beserta problematikanya, hanya menuntut kesabaran kita menyikapinya. Komitmen tersebut menuntut konsistensi untuk berupaya menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi secara moderat.

Sehingga pada tingkat pemimpin hingga akar rumput tumbuh kedewasaan sikap, tidak mudah terprovokasi serta tidak mudah dimanfaatkan pihak ketiga. Menjaga sikap ruhamau bainahum, mempertahankan komitmen tentang persaudaraan di antara umat. Menjalin komunikasi yang sejuk dan santun, serta bertindak dengan bijak.

Isu tentang transnasional, Wahabi atau MTA, berpadu dengan gesekan politik, berpotensi menimbulkan hal-hal yang bisa merugikan kita semua. Semua itu menuntut komitmen pemimpin umat untuk mendewasakan akar rumputnya. Belajar dari apa yang terjadi pada berbagai konflik horizontal yang sudah sering terjadi di antara umat, justru ada pihak lain yang mengambil keuntungan darinya.

Komitmen Muhammadiyah menjadi rumah besar umat Islam, menaungi ormas-ormas yang lain, perlu mendapat apresiasi, sekaligus memerlukan support agar komitmen tersebut terjaga. Agar kita semua ada dalam kolaborasi, saling menopang dalam memecahkan tantangan dakwah yang semakin tidak ringan ini.

“Sesama ormas Islam dilarang saling mendahului,” begitulah pesan Prof. Din Syamsudin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Al Washliyah Sesalkan Pernyataan Presiden yang Nyatakan Aksi Damai Ditunggangi Aktor Politik