Home / Berita / Opini / Kasarnya Simpatisan Joko Widodo di Dunia Maya

Kasarnya Simpatisan Joko Widodo di Dunia Maya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (topyaps.com)
Ilustrasi. (topyaps.com)

dakwatuna.comBeberapa hari menjelang pemilihan Presiden 9 Juli 2014, terlihat para simpatisan Jokowi semakin panik. Mungkin mereka tidak menduga jika elektabilitas Prabowo-Hatta saingan mereka terus melejit, sedangkan pasangan Jokowi-JK cenderung stagnan bahkan menurun. Semua lembaga survei tampaknya sepakat bahwa telah terjadi fenomena tren Prabowo terus naik, sedangkan tren Jokowi terus turun.

Kepanikan itulah rupanya yang tercermin dari makin brutalnya para fans Jokowi-JK menyerang pihak-pihak yang tidak dalam barisan mereka. Mereka merasa tidak  berdosa   mencaci siapa saja yang dianggap mendukung pasangan lain. Bahkan dengan kata-kata  kasar merek merasa risih melihat setiap orang berbeda pilihan di Twitter, Facebook, komentar berita online, dan forum-forum online.  Padahal ranah media sosial merupakan representasi dari ranah publik yang semua orang bebas mengakses, bebas berpartisipasi, menilai, dan sebagainya.

Kesan panik tidak hanya terlihat pada para pendukung level bawah, namun juga terjadi pada level publik figur. Jika kata-kata makian yang terlontar dari para pendukung level bawah atau relawan media sosial bayaran yang populer disebut “pasukan nasi bungkus” maka itu sesuatu yang wajar. Seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa siapa saja yang dianggap mengkritik, menyerang Jokowi pasti akan menghadapi cacian. Pada awalnya kita menganggap mereka yang balik menyerang  itu adalah rakyat yang simpatik terhadap Jokowi sehingga tidak rela orang lain menyerangnya. Namun ternyata sebagian mereka yang menyerang pihak yang tidak sependapat dengan Jokowi di internet adalah para relawan yang memang dimobilisasi.

Pasukan Nasi bungkus

Meski Jokowi tak pernah menanggapi secara serius serangan-serangan tersebut, ternyata ada tim relawan siber yang bekerja menghalau isu-isu negatif yang muncul di dunia maya. Mereka bekerja menghalau serangan-serangan itu dengan membuat bantahan atau cara-cara lainnya. Salah satu contohnya dengan memberi tanggapan baik itu melalui Twitter, Facebook, dan pada kolom komentar pada berita terkait Jokowi yang ada di media online.
Siapa pun pasti kewalahan menghadapi bully demi bully dari Jokowi dan relawan Dunia Maya alias Jasmev (Jokowi Advanced Social Media Volunteers). Mereka bisa sangat brutal, bahkan bisa mencaci siapa saja yang dianggap menyerang Jokowi. Tidak peduli dia itu rakyat biasa, pejabat, bahkan ulama sekalipun.

Salah satu contoh serangan mereka dialamatkan kepada Ust. Yusuf Mansyur saat perhelatan pilkada DKI Jakarta tahun 2012 lalu. Kejadian terjadi setelah Ust.  Yusuf Mansyur dalam akun Twitternya menulis soal pemimpin yang amanah. Tetapi kicauan ini lantas dikaitkan dengan kepemimpinan Jokowi di Solo para pengguna Twitter.

Alhasil, kicauan ini langsung mendapat respons dari akun yang selama ini membela Jokowi dengan nada menghina Yusuf Mansur. Seperti misalnya, [email protected]: tapi ingat tad substansi&timing anda bcrkta spt itu jgn pikir kita ini bodoh” yusuf hanya menjawab “wooo… Maaf ya. Maafin saya. Gamikir gitu koq”.

@asbabul_junub: Ente dibayar berapa sama Foke? ustadabal2 ente nih” kemudian dijawab dengan santai “(Maksudnya? Saya paham, pasti ttg tweet saya ya? Itu universal Pak),” balas YM sebutan nama Yusuf Mansyur.

Nasib yang sama juga pernah dialami ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Nurhayati Assegaf. Setelah ia mengritisi kinerja  Jokowi dalam memimpin ibu kota, Nurhayati langsung diberondong cacian. Pada awalnya Nurhayati menyebut Jokowi harus berterima kasih pada Fauzi Bowo (Foke) karena kerjanya saat ini hanya meneruskan konsep yang telah dirancang Foke. Sesaat setelah pernyataannya muncul di media, pernyataan Nurhayati ini langsung disambar pendukung Jokowi. Tidak sedikit yang menggunakan kata-kata kasar.

Dilansir detikcom, Sabtu (19/10/2013), terdapat beberapa komentar dari para pendukung Jokowi yang menyerangnya :

“Rumah kebakar kok nyalahin gubernur,” ungkap Nugroho Aji melalui situs microblogging, Twitter.

“Nurhayati assegaf komentarnya Gag bermutu,cenderung menunjukkan ketidakmampuan seorang politis mengkritisi/menilai kinerja kepala daerah,” Kata Sigit Leyono.

“Omongan bu nurhayati assegaf menunjukkan kalau dia kesulitan menemukan prestasi Foke dibandingkan Jokowi, next time mending diem aja bu ” ungkap akun Tia Rosalia.

Komentar Nurhayati juga menarik perhatian salah satu tokoh pers Indonesia, Iwan Piliang. Melalui akunnya, @IwanPiliang mengatakan komentar Nurhayati ngawur. Iwan juga menyebut Nurhayati penjilat.

“Sy pernah wwcr Nurhayati Assegaf. Sy tangkap orgnya penjilat, Terutama menjilat Bu Ani. Mentah. Jd kalau Omong soal kebakaran ya ngawur” katanya.

Serangan terbaru terhadap mereka yang mengkritik Jokowi juga menimpa putri Amien Rais bernama Tasniem. Ketika itu ia menulis artikel yang ditulisnya dari Kota Nijmegen, Belanda itu. Tasniem mempertanyakan mengapa Jokowi yang dihormatinya begitu dipuja-puja Amerika Serikat. Tiba-tiba saja, kata dia, Jokowi dimuat di majalah Fortune. Karena itu, ia mempertanyakan, bagaimana nantinya Jokowi bisa duduk berdiplomasi dengan petinggi negeri Paman Sam itu.

Nyatanya, tulisan putri keempat Amien itu mendapat banyak komentar negatif dari para pendukung Jokowi. Hal itu terlihat dari foto profil pemberi komentar yang rata-rata bergambar angka 2 dengan warna merah di sebelahnya.

Bahkan, tidak sedikit yang mencaci-maki ayah Tasniem gara-gara ia menulis surat kepada capres yang diusung PDI Perjuangan itu. Hingga kini, sedikitnya lebih 500 komentar dan 900 akun pertemanan yang menyukai artikel tersebut.
Pasukan siber Jokowi selama ini bekerja sebagai team layaknya pasukan khusus yang bertugas membela citra Jokowi di jejaring sosial dari segala penyudutan dan penyerangan. Jika sampai taraf menjaga citra Jokowi yang baik dan bermartabat itu masih dibenarkan, namun jika sudah mencaci, memaki siapapun yang mengkritik Jokowi, itu sudah tidak demokratis. Cara seperti itu  bisa merusak iklim demokrasi yang memperbolehkan adanya perbedaan pandangan maupun saling kritik. Keberadaan pasukan siber itu pada akhirnya menciptakan hantu di tengah masyarakat, bahwa siapapun yang menyerang Jokowi maka siap-siap dibully.

Publik Figur ikut Kasar

Namun, belakangan ini para simpatisan Jokowi di level publik figur yang dikenal sebagai kalangan intelektual, akademisi, dan budayawan,  cenderung berlaku kasar.  Beberapa publik figur yang dikenal sebagai simpatisan Jokowi-JK tercatat mengeluarkan perkataan kasar yang tidak layak keluar dari orang-orang yang seharusnya menjunjung tinggi etika.

Salah satunya datang dari mantan kepala BIN AM Hendropriyono yang bergabung sebagai timses Jokowi-JK. Dalam suatu forum terbatas, tokoh yang disebut-sebut bertanggung jawab atas pembantaian umat Islam saat tragedi Talangsari itu mengaku tahu betul kondisi psikologi Prabowo saat masih berkarier di TNI AD. Menurut Hendropriyono, Prabowo mendapatkan nilai G4 (Grade 4) paling bawah, kalau ada stress bisa sedikit gila.

Sikap kasar simpatisan Jokowi-JK ditunjukkan juga oleh Wimar Witoelar. Tokoh yang pernah menjadi jubir Presiden Gus Dur ini sempat menghebohkan publik karena mengunggah  sebuah foto  di akun Facebook pribadinya. Foto itu berisi   Capres Prabowo Subianto dan Cawapres Hatta Rajasa. Kemudian, berderet sejumlah elit partai dan tokoh pendukungnya, seperti AA Gym, Anis Matta, ARB, SDA, Luthfi Hasan Ishaaq, Ahmad Heryawan, Tifatul Sembiring, Abubakar Baasyir, dan Habib Rizieq.

Pada bagian bawah, terpampang logo partai-partai pendukung Prabowo-Hatta. Bahkan ada juga logo ormas Islam seperti Muhammadiyah,walau dalam keputusan organisasi, Muhammadiyah tidak mendukung siapapun. Kemudian di background gambar itu, terpampang foto sejumlah terpidana teroris seperti Mukhlas, Imam Samudra, Soeharto, Osama Bin Ladden, dan Amrozi.

Pada bagian bawah, terpampang logo partai-partai pendukung Prabowo-Hatta. Ada juga logo ormas Islam seperti Muhammadiyah dan FPI. Itu semua dianggap sebagai pendukung Prabowo-Hatta, walau dalam keputusan organisasi, Muhammadiyah tidak mendukung siapapun. Tidak cuma itu, tagline foto Wimar menuliskan “Gallery of Rogues, Kebangkitan Bad Guys.

Mungkin terinspirasi dengan Wimar, salah satu publik figur pendukung Jokowi yang juga dikenal sebagai budayawan, Butet Kartarejasa juga menulis kata-kata kasar pada akun Twitternya yang ditujukan bagi para pendukung Prabowo-Hatta.  Dalam tweet di akun @masbutet, Butet mengolok para pemilih calon nomor urut satu itu sebagai “orang belum waras”.

Di akun Twitter @masbutet, pemeran tokoh Sentilun di acara “Sentilan Sentilun” MetroTV, itu menyebut “pemilih nomor 1″ sebagai pihak yang belum waras. “OBRAL!!! KHUSUSYANG BELUM WARAS. PILIH 1 dapat bonus: 1. Kemewahan untuk kuda. 2. Lumpur untuk rakyat. 3. Korupsi bersama sapi,” tulis @masbutet.

Masih ada lagi, pendukung Jokowi yang juga dosen di UI, Ade Armando tidak kalah kasarnya dalam mendukung Jokowi.  Beberapa status di akun Facebook pribadinya terlihat begitu bebas mengungkapkan kata-kata kasar kepada pasangan Prabowo-Hatta maupun pendukungnya. Akademisi yang pernah sesumbar memotong lehernya jika jokowi kalah pada pilpres itu bahkan pernah memasang semacam foto pamflet buatan berupa sebuah judul film dengan judul “Prahara, Tahta, dan Harta” di dalam pamflet itu terpampang foto Prabowo bersama kuda,Hatta, Aburizal Bakrie, dan Ahmad Dani.

Sementara pada tagline foto Ade Armando menuliskan “Hanya kebodohan yang akan membuat bangsa ini memilih mereka sbg pemimpin”

Seharusnya para simpatisan baik pada level bawah maupun publik figur itu menyadari bahwa perilaku kasar mereka sudah pasti berbuah antipati dari masyarakat dan berujung penurunan elektabilitas Jokowi-JK. Jangan sejak awal diniatkan untuk bantu mendongkrak, malah berakibat turunnya elektabilitas. Apalagi perilaku kasar para simpatisan di level atas maupun bawah itu sebenarnya bertentangan dengan pernyataan Jokowi sendiri yang meminta agar kampanye hitam dibalas dengan memberikan kebahagiaan kepada masyarakat.  Jokowi juga pernah berkata ingin menciptakan suasana politik yang damai, tenteram dan tidak ada saling menghujat serta menjatuhkan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (57 votes, average: 8,32 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ade Wiharso
Pria kelahiran 1984, pemerhati masalah sosial politik dan perundang-undangan. Pekerjaan Tenaga Ahli Anggota F-PKS (H. Syahfan B. Sampurno).
  • rahman kurniadi

    tambah satu lagi, romo magnis suseno, sepertinya orang-orang seperti mereka suka lupa sama deklarasi pemilu damai. sama suka lupa sportifitas, mudah-mudahan program ‘revolusi mental’ berhasil di diri mereka dulu-lah, kalo berhasil baru-lah program keluar

  • Anton Akong

    revolusi oppoooooo ikiiiii…..revolusi tempe goreng dikecapinnnn….orang jereng diliatinnnnn

  • Tri Aji

    HMMM…..

  • bimo prasetyo

    Saya juga pengen dibully ama jokolovers..!

Lihat Juga

Kemenangan Trump Dipastikan Untungkan Israel