Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku Membutuhkan Ramadhan

Aku Membutuhkan Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Bulan Ramadhan hadir kembali, sebuah momen yang ditanggapi bervariasi oleh setiap individu di dunia ini. Ada yang menanggapi dengan antusiasme yang luar biasa, dan ada pula yang menanggapi dengan biasa-biasa saja seakan jenuh dengan kehadirannya.

Ya, tidak mengherankan memang, karena momen ini hadir setiap tahun. Jika saat ini kita berumur 23 tahun, maka kita telah mengalami 23 kali momen ini. Bahkan tidak sedikit dari kita yang merasa kehadirannya yang semula sangat semarak dia awal-awal kehidupan kita, kini mulai perlahan meredup seiring bertambahnya usia. Sehingga Ramadhan  sekedar dianggap sebagai bulan yang membawa kewajiban untuk berpuasa, ya cuma sebatas itu. Saudaraku, jika kita sampai pada titik ini, maka renungilah firman Allah berikut.

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa, Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi untuk (kepentingan) mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang keesaan Allah tanpa ilmu dan petunjuk dan tanpa kitab yang memberi keterangan” (Luqman: 20).

Saudaraku, bukankah telah jelas kasih sayang yang telah Allah berikan kepada kita. Ia menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi guna kepentingan kita. Tanah yang kita pijak, lautan yang kita arungi, air yang kita minum, udara yang kita hirup, andaikan oksigen yang kita hirup ini tidak ditundukkan ALLAH untuk kepentingan manusia, maka bersiaplah untuk membeli oksigen di rumah sakit terdekat yang harganya luar biasa. Kasih sayang Allah SWT begitu luar biasa, termasuk dengan memberikan suatu momen untuk kita kembali mengintrospeksi diri dan meraih bonus pahala dari-Nya, yaitu bulan Ramadhan.

Pertanyaannya, mengapa Allah SWT memberikan momen Ramadhan ini kepada kita?

Saudaraku, perkara terdekat bagi seorang manusia adalah mati. Mati itu nyata dan pasti akan terjadi. Jika umat-umat terdahulu memiliki umur yang panjang, bahkan bisa mencapai 1000 tahun, maka kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW ditakdirkan Allah SWT berumur rata-rata kurang dari 100 tahun. jika saja kita tidur rata-rata 8 jam/hari, maka hampir 1/3 dari umur yang diberikan ALLAH kepada kita digunakan untuk tidur, belum lagi kegiatan-kegiatan lainnya, bekerja, rekreasi dan lain sebagainya.

Kematian itu suatu hal yang pasti. Semakin kita menyangkal dan menghindarinya, maka semakin nyata kehadirannya.

“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui segala hal yang ghaib dan yang nyata, lalu ia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Al Jumu’ah: 8).

“Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta”

(Gurindam 12, pasal 12 karya Raja Ali Haji)

Lantas kapan kita alokasikan waktu untuk benar-benar mengintrospeksi diri dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kita terhadap Allah SWT?

Kembali Allah SWT sangat pemurah dan mengerti kita, Allah menyediakan satu momen di mana pada momen ini, ia sediakan begitu banyak bonus dan berkah. Setiap ibadah sekecil apapun dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT. Pada momen ini pintu taubat dibuka seluas-luasnya, ALLAH menyambut suka cita setiap hamba yang bertaubat atas dosa-dosanya melebihi suka citanya musafir yang kehilangan perlengkapan perjalanannya kemudian ia tertidur dan di saat ia terbangun perlengkapan itu kembali di hadapannya. Pada momen ini doa dan harapan yang di lantunkan manusia akan diijabah oleh Allah SWT. Infaq dan sedekah yang dikeluarkan akan di balas berlipat ganda. Bahkan Allah memberikan malam lailatul qadr, yang lebih baik dari 1000 bulan. Masihkah kita akan mengabaikan momen Ramadhan ini?

Jika kau merasa sebagai manusia yang tidak memiliki dosa,

maka abaikanlah momen ini.

Jika kau merasa sebagai manusia yang bergelimang pahala,

maka abaikanlah momen ini.

Jika kau merasa sebagai manusia yang tidak akan mati,

maka abaikanlah momen ini.

Jika kau merasa sebagai manusia yang tidak butuh surga,

maka abaikanlah momen ini.

Jika kau merasa sebagai manusia yang kebal terhadap api neraka,

maka abaikanlah momen ini.

Toh, kemuliaan Ramadhan pun tidak tercabut, andaikan seluruh manusia di dunia ini tidak menghiraukannya dan tentunya kemuliaan dan kebesaran ALLAH tidak akan berkurang walau seluruh umat manusia di dunia ini mengabaikan momen Ramadhan ini. Namun jika kau tidak termasuk dalam kriteria di atas, maka jangan abaikan momen Ramadhan ini.

Karena saya, kamu, dan kita semua butuh Ramadhan.

“Maka Nikmat, Tuhanmu yang mana lagi, yang kamu dustakan” (Ar Rahman: 21).

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Anam Al Khoir
Lahir di kota Tanjungpinang. Ayah dan ibu berdarah asli Jawa. Mahasiswa jurusan Ilmu Kelautan di Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang. Aktif sebagai aktivis dakwah kampus dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Bercita-cita untuk melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor dan James Cook University, Australia serta menjadi seorang dosen dan peneliti yang ahli dalam bidang Marine Scientech.

Lihat Juga

Ilustrasi. (huffingtonpost.com)

Muhasabah Ramadhan