Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ini Ramadhanku, Mana Ramadhanmu?

Ini Ramadhanku, Mana Ramadhanmu?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (gadistudunglabuh.tumblr.com)
Ilustrasi. (gadistudunglabuh.tumblr.com)

dakwatuna.com Sungguh rugi seseorang ketika (nama)ku disebut di sampingnya tetapi dia tidak bershalawat atasku. Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu darinya sebelum dosa-dosa dirinya diampuni, dan sungguh rugi seseorang yang mendapati kedua orang tuanya dalam keadaan renta, tetapi keduanya tidak (menjadi sebab yang) memasukkannya ke dalam surga. Rib’i berkata: Aku tidak tahu kecuali dia berkata: Atau salah satu dari kedua orang tuanya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim)

Seperti itulah Nabi Muhammad SAW mendefinisikan orang yang merugi. Bukan rugi dalam perniagaan, bukan rugi dalam persoalan duniawi, tetapi seseorang dikatakan merugi apabila ada seseorang yang menjumpai Ramadhan hanya berlalu darinya sebelum dosa-dosa dirinya terampuni.

Bulan Ramadhan merupakan momen tahunan yang paling ditunggu oleh umat muslim di seluruh dunia. Sering kali ketika mendengar istilah Ramadhan, yang terbesit di benak kita bukan tentang tataran surgawi seperti tentang keistimewaannya dan keberkahannya tetapi yang sering kita jumpai di masyarakat kita yakni ihwal urusan duniawi seperti hegemoni mudik alias pulang kampung, hingar bingar pusat perbelanjaan, baru,dan hal lain yang dapat merusak nilai spiritualitas ibadah kita.

Bulan Ramadhan kini sudah di depan mata, dan seperti biasa aku melihat perubahan terjadi di mana-mana dalam berbagai rupa. Hari-hari awal pastilah hampir seluruh masjid penuh sesak dengan tarawihan, dan mushalla ramai manusia dendangkan tilawah tadarus Al-Quran. Ramadhan memang ajaib, hadirnya mampu mengubah 180 derajat kondisi masyarakat, perubahan signifikan seperti wanita yang sudah berhijab, setting acara televisi sudah berganti titel dengan embel-embel religi. Namun, sayang pemandangan seperti itu hanya bersifat tentatif, tidak banyak dari kita yang mampu lulus Ramadhan secara paripurna. Lebih banyak dari kita terjebak dalam bahaya laten Ramadhan tersebut.

Ramadhan hanya akan menjadi angin lalu, jika kita tidak bisa mengambil keberkahan di dalamnya. Ramadhan hanya akan menjadi even tahunan tanpa makna apabila kita tidak sigap dalam memanfaatkan setiap detiknya menjadi amalan berlipat pahala. Banyak cara agar Ramadhan kita menjadi bermakna dan tidak sia-sia, salah satunya dengan membuat perencanaan yang matang dan terstruktur. Di bulan Ramadhan 1435 ini aku memiliki sedikit penyikapan yang berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya yakni dengan membuat daftar target yang harus tercapai selama Ramadhan, bukan hanya berorientasi pada hasil atau target, tetapi juga pada proses, dengan harapan Ramadhan kali ini lebih produktif dan penuh berkah.

Adapun target maupun harapanku selama Ramadhan kali ini terbagi menjadi lima sub, yakni ibadah, keluarga, berbagi, prestasi, dan lainnya. Target ibadah yang aku inginkan seperti hafal al-ma’tsurat, melanjutkan muraja’ah hafalan Al-Quran, shalat wajib lima waktu berjamaah. Target prestasi seperti Juara lomba desain logo, lolos abstrak Java Business Competition, mendapat beasiswa XL Future Leaders, minimal dua tulisan dimuat di media cetak atau online. Target bersama keluarga besar seperti memberikan kado spesial untuk ibu dan abah, belajar masak selama di rumah. Target aktivitas berbagi seperti sedekah setia hari minimal sekian rupiah, berbagi buka untuk minimal 30 orang dhuafa. Target lain-lain yakni bisa diisi tentang kegiatan di organisasi, seperti pergantian kepengurusan lancar, atau seputar pendidikan mencari bahan materi kuliah semester tujuh.

Adagium yang berbunyi “Perjalanan 1000 mil selalu diawali dengan satu langkah kecil” memang benar. Tidak cukup dengan menuliskan daftar target selama Ramadhan semata, tetapi setelah itu kita juga harus me- “breakdown” targetan tersebut ke dalam perencanaan harian kita. Contoh, aku memiliki target hafal hadits arbain, maka aku harus memasukkan porsi menghafal ketika dalam satu hari, misal setelah Ashar atau selepas shalat subuh. Dengan demikian target yang kita capai lebih rasional dan probabilitas tercapinya lebih besar.

Dengan perencanaan matang, dapat memudahkan kita dalam mengoptimalkan aktivitas dan meningkatkan produktifitas amal kita selama 30 hari penuh berkah ini. Semoga bulan Ramadhan ini menjadi titik balik perubahan kita menuju ke arah yang diridhai oleh Allah SWT. Penuh dengan aktivitas –aktivitas pemberat amalan kita. Bukan hanya menjadi penghias hari-hari kita. Tuliskan mimpi-mimpimu dan biarkan Allah yang menghapuskannya. Ini Ramadhanku, mana Ramadhanmu?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ramartdhani
Mahasiswa S1 Jurusan Desain Interior ITS, pegiat dakwah kreatif, penerima beasiswa PPSDMS Nurul Fikri.

Lihat Juga

Ilustrasi. (pkpu / izi)

Ramadhan Kekinian