Home / Berita / Opini / Puasa, Piala Dunia, dan Pemilu

Puasa, Piala Dunia, dan Pemilu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSekian lama ditunggu-tunggu jutaan umat Islam, akhirnya bulan suci Ramadhan datang juga. Terhitung sejak tanggal 28 atau 29 Juni lalu, kita telah sepakat menunaikan ibadah puasa di bulan yang sangat istimewa. Ya, sangat istimewa. Pasalnya, di bulan ini ada tiga ‘agenda besar’ yang terbukti mampu menyedot perhatian semua kalangan. Pertama, bulan puasa itu sendiri. Kedua, Piala Brazil 2014 yang digandrungi baik oleh kalangan muda maupun tua sekalipun.  Ketiga, pesta demokrasi yang akan dirayakan pada 9 Juli mendatang, untuk menentukan Presiden Indonesia lima tahun ke depan.

Kedua agenda yang terakhir, yaitu Piala Dunia dan Pilpres, sangat mempengaruhi perjalanan umat Islam (Indonesia) dalam menunaikan ibadah puasa. Atau mungkin, bulan puasalah yang mempengaruhi kedua agenda tersebut?

Piala Dunia dan Pemilu

Piala Dunia Brazil 2014 menjadi ‘hiburan’ yang sangat ditunggu-tunggu oleh berbagai kalangan di seluruh dunia. Namun, yang perlu diketahui adalah bahwa dengan adanya momentum piala dunia, berpotensi besar dijadikan sebagai ajang taruhan. Penulis pernah mendengar penuturan salah seorang di desa. Ia mengatakan bahwa nonton bareng piala dunia sering digunakan untuk ajang taruhan. Sungguh ironis. Tapi ini memang terjadi di sekitar kita.

Akan tetapi, tidak serta-merta mengatakan semua yang menonton piala dunia terlibat dalam taruhan atau semacamnya. Itu tidak benar! Banyak juga orang Islam yang menonton piala dunia karena memang memiliki klub favorit. Sebagai bentuk dukungan mereka, ya nonton. Mereka tidak mau ketinggalan sedikit pun pertandingan klub-klub favorit mereka.

Begitu juga dengan pemilihan presiden Juli mendatang. Seperti yang kita tahu, akhir-akhir ini di jalan-jalan raya ramai dipadati para simpatisan pendukung kedua kubu calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres), Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta. Bunyi suara knalpot motor mereka menderu-deru memekakkan telinga. Tingkah mereka yang sedikit ‘brutal’ membuat pengguna jalan lainnya merasa takut dan memilih untuk menepi dan berhenti.

Kita juga sering melihat anak kecil dan para pelajar ada di tengah-tengah para simpatisan yang turun ke jalanan itu. Menderu-derukan suara knalpot motornya yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga suaranya sangat memekakkan telinga. Benar-benar sebuah pemandangan yang tidak mengenakan.

Belum lagi pertarungan antar simpatisan di media sosial yang tak kunjung mereda. Bahkan, cenderung kian memanas. ‘Militansi’ simpatisan dalam membela jagonya, sering berujung pada saling mengejek, saling menyerang, bahkan mungkin saling meneror.

Seperti kejadian pada tanggal 26 Juni lalu. Kejadian berawal dari surat terbuka seorang anak bangsa yang tinggal di Belanda. Surat terbuka tersebut ditujukan kepada calon presiden nomor urut dua, Joko Widodo. Dalam suratnya dikatakan bahwa Joko Widodo, atau akrab dipanggil Jokowi, belum bisa memegang amanah yang dimandatkan oleh warga Jakarta sebagai Gubernur. Jokowi malah menuruti perintah Megawati Soekarno Putri untuk mencalonkan diri menjadi presiden.

Dalam suratnya juga disebutkan bahwa Jokowi seharusnya merampungkan masa jabatannya terlebih dahulu, sebelum mencalonkan diri sebagai presiden. Karena itu merupakan sumpah beliau ketika dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Nah, inti dari surat itu adalah mengingatkan kepada Jokowi untuk introspeksi diri. Jokowi sudah ‘dikontrak’ oleh warga Jakarta selama lima tahun, ya harus lima tahun mengurusi persoalan di Jakarta.

Surat terbuka ini pun ditanggapi oleh seorang anak bangsa yang sedang menuntut ilmu di Australia. Dalam surat balasannya ia mengatakan bahwa Jokowi bukanlah orang yang ingkar janji. Bahkan, Jokowi termasuk orang yang suka mengalah. Hal ini bisa dilihat dari keputusannya ‘meninggalkan’ Jakarta karena yakin dengan kemampuan wakilnya, Ahok, dalam memimpin Jakarta. Menariknya, si pembalas ini menanggapinya secara santun. Tulisannya hampir tidak ada unsur-unsur menjelek-jelekkan si pembuat surat.

Namun, yang sangat disayangkan adalah ada beberapa orang yang menanggapi surat terbuka ini dengan emosi. Bahkan, dalam komentarnya, ia terkesan menjelek-jelekkan sang pembuat surat dari Belanda tadi. Padahal, menurut pembuat surat, surat tersebut dibuat dengan setulus hati. Isi suratnya pun, jika dicermati, tidak ada unsur-unsur menjelekkan, hanya sebatas ‘mengingatkan’ Jokowi khususnya dan para pembaca pada umumnya, untuk menunaikan sebuah amanah.

Menjadikan puasa sebagai jalan hidup

Sebenarnya, penulis terinspirasi dari ceramah seorang ustadz di masjid UIN Sunan Kalijaga saat hendak menjalankan shalat tarawih berjamaah pada 29 Juni 2014. Ia mengingatkan kepada para jamaah supaya jangan menjadikan puasa sebagai rutinitas tahunan semata. Akan tetapi, jadikanlah puasa sebagai jalan hidup. Karena, dengan menjadikan puasa sebagai jalan hidup, maka seseorang akan dengan mudah menahan keinginan-keinginan yang cenderung negatif.

Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali membagi kualitas puasa seseorang dalam tiga tingkatan. Pertama, shaum al-‘umum. Pada tingkatan ini, puasa seseorang sebatas menahan dari makan, minum dan bercampur dengan istri dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Kedua, shaum al-khushush, yaitu orang-orang yang bisa memuasakan anggota tubuhnya dari segala perbuatan dosa. Ketiga, shaum al-khushush-alkhushush, yaitu puasanya hati dari keinginan-keinginan yang dapat merendahkan harga diri seseorang dan pemikiran-pemikiran yang bersifat duniawi lalu menujukan puasanya hanya untuk Allah swt semata. Sudah sampai tingkatan manakah puasa kita? Hanya diri kita dan Allah-lah yang tahu.

Dari ketiga tingkatan puasa menurut Imam Al-Ghazali, kita bisa menarik benang merah bahwa menjadikan puasa sebagai jalan hidup adalah penting. Minimal, kita bisa menjadikan puasa ini sebagai media untuk membatasi aktivitas tubuh yang terkadang ‘liar’. Terlebih jika kita bisa menjadikan puasa ini sebagai upaya untuk membersihkan hati dari ambisi-ambisi dunia yang cenderung negatif. Sungguh sebuah prestasi yang besar, bukan hanya di mata manusia, melainkan juga Sang Khalik.

Jika kita bisa mencapai tingkatan yang kedua saja, dipastikan tidak ada lagi taruhan di Piala Dunia dan aksi saling ejek antar simpatisan saat kampanye. Di sini, penulis hanya menyampaikan apa yang ada dalam benak penulis, bukan apa yang sudah dilakukan penulis. Penulis menyadari masih sangat minim pengetahuan tentang puasa, apalagi aplikasinya. Kendati demikian, marilah kita bersama-sama berusaha untuk meningkatkan kualitas puasa kita di bulan yang penuh barakah ini. Semoga tulisan ini bisa menjadi warning bagi diri penulis khususnya, dan para pembaca umumnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 4,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Imron Mustofa
Lahir di daerah pesisir selatan kota Kebumen. Tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan PGMI UIN Sunan Kalijaga, Aktif di LPM Paradigma.

Lihat Juga

Pertemuan Donald Trump dengan Netanyahu. (jpost.com)

Buktikan Keakrabannya dengan Israel, Trump Undang Netanyahu Ke Amerika

Organization