Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / 3 Ramadhan, Menghidupkan hati dengan Mengutamakan Akhirat

3 Ramadhan, Menghidupkan hati dengan Mengutamakan Akhirat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (4.bp.blogspot.com)
Ilustrasi (4.bp.blogspot.com)

dakwatuna.com Hati akan hidup jika dimasuki cahaya keimanan. Tapi cahaya itu akan cepat padam jika tidak dipelihara.

Cahaya Al-Qur’an

Pada suatu hari, Rasulullah saw. duduk berbincang dengan para sahabat. Beliau mengatakan, “Nanti bangsa-bangsa mengeroyok kalian, seperti orang-orang mengeroyok makanan.” Para sahabat sangat terkejut dengan berita gaib yang baru mereka dengar.

Mereka bertanya sebab hal itu bisa terjadi, apakah karena jumlah mereka umat Islam sedikit? Rasulullah saw. menjawab, “Jumlah kalian saat itu banyak. Tapi kalian seperti buih yang bergoyang di air.” Penjelasan Rasulullah saw. ini semakin membuat para sahabat bingung, lantaran apa penyebab jumlah yang banyak tapi tidak berarti.

Rasulullah saw. pun menjelaskan lebih lanjut, “Allah Ta’ala mencabut rasa takut kepada kalian dari hati musuh-musuh kalian. Lalu memasukkan wahn di hati kalian.” Rupanya penyakit wahn belum diketahui para sahabat, sehingga Rasulullah saw. menjelaskan, Cinta dunia dan benci kematian.”

Rasulullah saw. menyatakan bahwa cinta dunia adalah penyakit, bahkan bisa membuat umat ini hilang, menjadi objek bukan subjek, diinjak-injak dan menjadi rebutan banyak pihak. Umat tidak bisa melakukan perlawanan apa-apa, menyerah dan tunduk. Kalau demikian, maka cinta dunia dan benci kematian adalah salah satu bentuk lemahnya iman, karena umat Islam ini hanya akan kalah jika imannya lemah.

Dunia yang dikumpulkan musuh untuk melawan umat Islam tidak berarti apa-apa jika umat Islam benar-benar beriman.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka.” [Ali Imran: 10].

Kekuatan apa yang tidak dimiliki oleh Fir’aun? Kekuasaan politik, militer, ekonomi dan lainnya berada di tangannya. Tapi dia harus kalah berhadapan dengan sekelompok orang yang beriman kepada Allah Ta’ala walaupun kondisi mereka sangat terbatas. Hal ini berlaku kapan dan di mana saja, antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman.

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.” [Ali Imran: 12].

Namun kita sebagai manusia hendaknya berhati-hati karena fitrah cinta dunia sedah tertanam dalam jiwa kita masing-masing. Jika berlebihan akan berakibat yang buruk.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah  kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [Ali Imran: 14].

Agar Cahaya Tak Kunjung Padam

Hendaknya umat Islam harus senantiasa berlatih lebih mencintai kenikmatan akhirat sehingga tidak terbelenggu dengan cinta dunia. Hal itu bisa dimulai dari kondisinya saat melaksanakan salat. Sebelum salat, hati harus disiapkan sedemikian rupa, ikatan keduniaan apapun hendaknya saat itu diputus.

Oleh karena itu Abu Darda’ mengatakan, “Seseorang dikatakan paham agama jika menyelesaikan seluruh urusannya, sehingga bisa menghadap kepada Allah Ta’ala dengan hati yang siap.”

Hati juga hendaknya turut dibersihkan saat mengambil air wudhu. Sementara itu kerinduan kepada akhirat hendaknya bangkit sesaat mendengar panggilan azan yang menawarkan kebahagiaan di surga. Dengan demikian salat kita benar-benar khusyuk, tunduk dan untuk mengharap kebahagiaan akhirat, sehingga kecintaan dunia mulai sirna dari hati kita.

Takbir “Allahu Akbar” yang mengagungkan Allah Ta’ala berulang kali kita ikrarkan dalam gerakan kita. Jika mengikrarkan Allah Maha Besar, maka dunia pun akan kecil, hati tidak akan digersangkan dengan cinta dunia. Apa kiranya kalau kondisi ini kita lakukan setiap hari berkali-kali? Siap-siaplah mendapatkan kemenangan dari Allah Ta’ala. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
H. Moh Sofwan Abbas, MA
S1 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. S2 Universitas Al-Neelain, Khartoum-Sudan. Dosen Ma'had An-Nuamy, Jakarta

Lihat Juga

Program Ramadhan IZI Sasar Penerima Manfaat dari Aceh Hingga Papua