Home / Pemuda / Essay / Black Campaign di Berandaku, Monggo

Black Campaign di Berandaku, Monggo

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2014 - (lensaindonesia.com)
Pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2014 – (lensaindonesia.com)

dakwatuna.com – “Insya Allah, aku siap nyoblos tanggal 9 Juli nanti. Dengan mengucapkan basmalah, aku memilihnya dan mendoakannya agar terpilih. Tidak ada manusia yang sempurna. Pun, pemimpin yang sempurna. Tapi kuharap, yang terpilih adalah yang terbaik bagi bangsa tercinta ini. Seburuk-buruknya ia, sebagaimana yang dikatakan orang lain ataupun yang tidak sempat diketahui siapapun selain Allah, doaku tetap untuknya. Jika punya niat buruk, semoga Allah meluruskan niatnya. Jika belum mampu, semoga Allah memampukannya. Jika mengalami kendala atau tantangan berat untuk memperbaiki bangsa ini, semoga Allah tambahkan kesanggupannya.”

Berita, informasi dan status-status di media sosial berisi pujian, hujatan ataupun netral belakangan ini tidak berhenti memenuhi beranda FBku. Aku yang dulu tak peduli, sekarang menjadi hobbi menyimak berbagai informasi yang dibagikan teman-teman. Aku tidak tertarik pada politik. Bagiku, melaksanakan pekerjaanku jauh lebih baik daripada ikut-ikutan mengomentari apalagi menghujat capres yang kebetulan sedang nongkrong berita minusnya di berandaku. Meski begitu, aku tidak mengabaikan berita-berita itu. Jaringan internet memang sering tidak besahabat di tempatku. Tapi, jika menemukan informasi penting, aku mengklik linknya, membaca dan mempelajarinya. Jika klop, paling banter aku klik tanda suka. Untuk berkomentar, aku akan berpikir berulang-ulang kali.

Menyimak berita dan informasi-informasi mengenai sang calon pemimpin, bagiku adalah hal penting. Baik itu diberitakan oleh pihak lawan maupun kawan. Dengan begitu, referensiku bertambah dan pengetahuanku untuk melakukan penilaian semakin bertambah pula. Kalau banyak yang mengecam black campaign, bagiku fair-fair saja. Kita perlu mengetahui, bukan hanya kebaikan para calon tapi juga sisi negatifnya.

Memilih calon pemimpin bukanlah hal yang mudah. Maka berbagai informasi sangat diperlukan sebagai bahan pertimbangan. Bahkan, bobrok-bobroknya sang calon sekalipun kita perlu tahu. Yang aku tidak sependapat, jika informasi yang disampaikan berupa ledekan dan hujatan. Apalagi menjadikan capres sebagai bahan guyonan. Berbeda antara informasi negatif dengan ledekan atau hujatan.

Yang pertama dan utama dari kesemua proses menentukan capres pilihan adalah menjadikan agama sebagai landasan. Banyak yang sering kutemui berkomentar tentang kenapa bawa-bawa agama dalam hal seperti ini? Kenapa bawa-bawa nama Tuhan? Kenapa pemuka-pemuka agama ikut-ikutan begini-beginian? Kenapa situs-situs islami yang dibahas tentang capres melulu? Bisa jadi, kita memilih pemimpin berdasarkan perspektif yang beragam. Bisa melalui kacamata politik, ekonomi, atau bahkan ideologi kapitalis. Tetapi sebagai muslim, Islam seharusnya menjadi sumber acuan dari segala aktivitas kita. Apalagi dalam agama kita semuanya sudah diatur dengan jelas, termasuk dalam hal memilih pemimpin.

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (Qs.al-Maidah [5]:51)

Jadi, informasi apapun yang numpang di berandaku, monggo. Selama itu adalah informasi bukan bahan ledekan, hujatan atau guyonan. Soal informasinya rekayasa ataupun dari sumber tidak kredibel, lagi-lagi itu adalah bahan pertimbangan. Intinya, saya anti ikut rusuh, juga menerima masukan. Jangan sampai karena berbeda pilihan, silaturahmi kita berjarak apalagi tak terjaga lagi. Setiap kita memiliki hak untuk menentukan pilihan, tetapi saling mengingatkan juga utama dan itulah poin dari penyebaran informasi capres. Agar kita saling mengingatkan siapa yang pantas. Sejauh ini, saya telah menentukan pada siapa suaraku akan berpihak. Pada dia yang doaku kutautkan untuknya. Bismillah… For better Indonesia.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Perempuan berdarah bugis yang memiliki nama asli Jayanti ini memiliki impian untuk membangun sekolah Islam tak berbayar bagi anak-anak kurang mampu di daerah asalnya, kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Alumnus Unismuh Makassar serta Sekolah Guru Indonesia ini sedang menjalankan tugas sebagai pengelola School of Master Teacher Makassar, salah satu program pendidikan keguruan yang diinisiasi oleh Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa serta mengelola Kolong Ilmu, salah satu program dari Klinik Pendidikan Nusantara, sebuah Komunitas Volunteer yang berupa rumah baca, rumah belajar dan rumah kreatifitas bagi anak-anak pelosok Nusantara yang saat ini tersebar di tujuh titik di Indonesia.

Lihat Juga

Kampanye

Jangan Larang Kampanye yang Angkat Isu Agama

Organization